KHSblog.net- Kita Tetap Anak Kecil di Mata Orang Tua. Di ruang tunggu kehidupan, kita mungkin sudah menjelma menjadi sosok yang dikagumi. Kita memimpin rapat, mengambil keputusan besar, membawa pulang pencapaian, dan dipanggil dengan sebutan-sebutan penuh hormat oleh orang lain. Namun, ada satu tempat di mana semua atribut kehebatan itu mendadak luruh tak bersisa: di depan pintu rumah orang tua kita. Begitu melangkah masuk, gelar kita tanggal, ego kita mengecil, dan kita kembali menjadi jiwa yang rapuh sekaligus dirindukan. Mengapa demikian? Karena bagi mereka, waktu seolah berhenti pada hari di mana kita pertama kali belajar mengeja dunia.

Berikut ini tulisan dari Ustad Satria Hadi Lubis mengingatkan kembali bahwa kita tetap anak kecil di mata orang tua.
Seberapa pun usia kita hari ini di mata orang tua, kita tetaplah anak kecil mereka. Anak yang dulu mereka gendong, mereka jaga, dan mereka khawatirkan setiap waktu.
Cinta orang tua bukan cinta biasa. Ia tidak menunggu balasan, tidak berkurang karena sikap kita, dan tidak hilang meski waktu terus berjalan. Allah menggambarkan betapa besarnya pengorbanan itu, khususnya seorang ibu:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqman: 14).
Ayah dan ibu melihat kita bukan dari jabatan atau pencapaian, tetapi dari kenangan panjang sejak kita tidak bisa apa-apa. Karena itu, jangan heran jika nasihat mereka kadang terasa seperti kepada anak kecil. Sebab di hati mereka, kita memang belum pernah benar-benar “besar”.
Islam menempatkan orang tua pada posisi yang sangat mulia. Bahkan setelah perintah menyembah Allah, Allah langsung memerintahkan berbakti kepada orang tua:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23).
Ayat ini bukan sekadar anjuran, tetapi perintah tegas. Berbakti bukan pilihan, melainkan kewajiban. Bahkan dalam ayat yang sama, Allah melarang berkata kasar sekecil apa pun:
“Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka.” (QS. Al-Isra: 23).
Mengapa sampai sedetail itu? Karena Allah tahu, seiring bertambahnya usia, manusia sering merasa lebih tahu, lebih benar, dan lebih tinggi dari orang tuanya. Padahal, tanpa mereka, kita tidak akan pernah sampai di titik ini.
Rasulullah saw menegaskan besarnya kedudukan orang tua, khususnya ibu:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad).
Ini bukan sekadar ungkapan, tetapi gambaran bahwa ridha Allah sangat terkait dengan ridha orang tua.

Maka, ketika orang tua masih ada, jangan tunda untuk berbuat baik. Jangan menunggu sukses untuk membahagiakan mereka. Kadang yang mereka butuhkan bukan harta, tetapi perhatian, sapaan lembut, dan waktu bersama.
Dan ketika mereka telah tiada, jangan berhenti berbakti. Doa anak yang shalih akan terus mengalir kepada mereka. Rasulullah saw bersabda:
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara… salah satunya adalah anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Pada akhirnya, memahami bahwa kita tetap anak kecil di mata orang tua akan melunakkan hati kita. Mengurangi ego, memaklumi kata-kata “to the point” mereka, menambah hormat, dan memperbanyak kasih sayang.
Karena bisa jadi, suatu hari nanti, kita baru benar-benar merasakan arti cinta itu ketika kita berada di posisi mereka, mencintai anak kita tanpa syarat, sebagaimana mereka mencintai kita sejak dulu.
baca juga :
- Kita Tetap Anak Kecil di Mata Orang Tua
- 10 Doa Orang Tua untuk Anaknya Agar Menjadi Anak Sholih Sholihah
- Ayah Sumber Kekuatan Pengasuhan untuk Anak
- 5 Permasalahan Anak Usia Dini, Nomor Tiga Tantrum
- Apapun Sekolahnya yang Penting Orang Tuanya
- Latih Anak Mandiri, Inilah 15 Tips Membangun Jiwa Kemandirian pada Anak
- Agar Anak Tidak Cepat Haus Saat Puasa
- Posyandu Asyik, Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
- Tips Anak Agar Tak Mogok Sekolah, Nomer Dua Butuh Perjuangan
- Terlambat Bicara Pada Anak, Apa Saja Penyebabnya?