Saat Allah Jadi yang Utama, Rezeki Tak Lagi Mengejar, tapi Mengalir Deras. Hai, Sahabat Blog kesayangan! Bagaimana kabar hati hari ini? Tepat hari ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah momen refleksi nasional yang biasanya diisi dengan upacara dan seremonial. Namun, mari kita sejenak menepi dari hiruk-piruk itu untuk merenungkan isi dari lima sila yang sering kita ucapkan, terutama sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pertanyaannya untuk kita renungkan bersama: Apakah kita, sebagai individu, sudah benar-benar mengamalkan sila pertama ini dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah sila ini baru sebatas teks yang kita hafal di luar kepala, tanpa pernah kita maknai dengan kesadaran penuh?
Memaknai Ketuhanan Yang Maha Esa berarti menyadari bahwa Allah adalah Sang Pemilik, Pencipta, sekaligus Pengatur semesta. Dialah satu-satunya tempat manusia meminta dan berharap.

Belum lama ini, sebuah unggahan dari akun Instagram @didikmulato memberikan “tamparan” keras bagi saya. Nasihatnya begitu menohok tentang bagaimana kita seharusnya memaknai Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah shalat—bagaimana menjadikan shalat sebagai prioritas utama dalam menyelesaikan setiap persoalan dan tantangan hidup.
Dalam unggahan tersebut, beliau membagikan sebuah sudut pandang yang luar biasa. Beliau bercerita:
“Dulu, saya baru tahu bahwa bisa tidur jam 8 malam dan bangun setiap jam 3 pagi itu adalah sesuatu yang luar biasa. Banyak sekali yang berkomentar di postingan saya sebelumnya saat saya membagikan alarm pagi.
Teman-teman, dulu saya juga jago bergadang. Tidur jam 12 malam, jam 1, bahkan jam 2 pagi. Kebiasaan itu saya rasakan bertahun-tahun sejak awal pernikahan. Sampai suatu ketika, saya belajar lebih jauh tentang tubuh, tentang kehidupan, dan tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk memotong (cut) semua hal yang tidak bermanfaat.
Sebagai seorang programmer, saya dulu sangat senang berada di depan laptop. Jika sudah asyik mengoding dan membuat aplikasi, saya bisa lupa waktu. Jam 1 malam itu sudah waktu paling cepat untuk tidur. Akibatnya, setelah shalat Subuh, rasa kantuk menyerang luar biasa.
Sampai akhirnya, saya disadarkan oleh beberapa momen kehilangan yang bertubi-tubi. Ayah saya meninggal dunia karena tumor. Tak lama kemudian, bapak dan ibu mertua saya berpulang. Hingga puncaknya, anak saya yang baru berusia 20 tahun tiba-tiba meninggal dunia karena kecelakaan.
Kehilangan itu membuat saya introspeksi diri secara total. Saya merenung, apa sih arti kehidupan ini sebenarnya?
Maka, jika hari ini orang bertanya apa pekerjaan saya, saya akan menjawab: Pekerjaan utama saya sekarang adalah menunggu waktu shalat 5 waktu. Saya benar-benar memasang pengingat. Di ponsel, di laptop, bahkan saya membuat aplikasi sendiri untuk mengingatkan waktu shalat. Di kamar dan ruang tamu pun ada jam azan. Padahal, jarak rumah saya ke masjid hanya 50 meter dan suaranya terdengar jelas. Namun, saya sengaja membuat semua sistem itu berbunyi agar saya tidak lupa, dan bisa hadir di sajadah sebelum waktu shalat tiba.
Alhamdulillah, hal ini sudah saya lakukan selama 20 tahun. Dan itulah kenikmatan terbesar yang saya rasakan. Ketika kita mengejar Tuhan kita, mengutamakan Allah, dan menomorsatukan shalat lima waktu, yang terjadi justru sebaliknya: rezeki mengalir dengan sangat deras, luar biasa.
Maka saya berpesan kepada Teman-teman semua, yuk utamakan Allah. Nomorsatukan Allah, maka Allah akan mengatur sisa urusan hidupmu. Jadikan shalat sebagai pekerjaan utamamu. Urusan ke kantor, berbisnis, dan bekerja, jadikan itu sebagai pekerjaan sampinganmu. Karena sejatinya, manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk mengantre menunggu kematian.”

Kisah di atas adalah potret nyata dari penerapan Sila Pertama dalam Islam. Ketika kita menomorsatukan Allah melalui shalat, Allah pun akan mengurus dunia kita. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah At-Thalaq ayat 2-3:
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…”
Nasihat untuk mengalihkan fokus utama dari dunia menuju akhirat (menunggu shalat) juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadis yang sangat indah:
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183)
Sahabat Blog, mari kita bawa pulang pelajaran berharga ini ke dalam kehidupan sehari-hari kita mulai hari ini. Mengamalkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan sekadar berwacana, melainkan dengan mengubah timeline hidup kita.
Yuk, kita mulai menata jadwal harian kita berdasarkan waktu shalat, bukan memaksa waktu shalat mengikuti jadwal sibuk kita. Saat azan berkumandang, letakkan laptopmu, jeda pekerjaanmu, dan datanglah memenuhi panggilan-Nya. Karena pada akhirnya, kita semua hanyalah hamba yang sedang mengantre dalam saf kematian. Mari kita pastikan bahwa saat giliran kita tiba, kita sedang berada dalam kondisi terbaik sebagai hamba yang merindukan Tuhannya.

Sampai jumpa di catatan blog berikutnya. Tetap semangat memperbaiki diri, ya!
baca juga :