“Pemaksaan” yang Menyelamatkan: Rahasia Menemukan Sahabat Karib di Alam Kubur. Sahabat, mari sejenak kita tepikan hiruk-pikuk dunia yang tiada habisnya ini. Mari kita pejamkan mata dan bayangkan sebuah kepastian yang masanya entah kapan, namun jalurnya sudah terpampang nyata: sebuah hari di mana kita semua akan berpulang.

Pada akhirnya, ruang gerak kita di dunia yang luas ini akan menyusut menjadi sebuah liang lahat berukuran 2×1 meter. Di sana, kita akan mengalami fase “sendirian” yang sesungguhnya. Pintu ditutup, tanah diuruk, dan langkah kaki orang-orang yang kita cintai perlahan mulai menjauh meninggalkan kita dalam kegelapan.
Lalu, apa yang tersisa? Siapa yang akan menemani kita saat malam pertama di alam barzakh itu tiba? Mari bersama-sama kita saling mengingatkan dan merenungkan sebuah kabar gembira dari langit, agar kelak kubur kita tidak gelap, tidak sempit, tidak membuat kita terhimpit, apalagi penuh dengan siksaan. Naudzubillah min dzalik.
Di tengah kesunyian alam kubur yang mencekam, ada sebuah pertolongan maha dahsyat yang derajatnya begitu tinggi di sisi Allah SWT. Pertolongan itu datang dari amalan yang sering kita interaksikan selama di dunia.
“(Yaitu) pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 34-37)
Di hari ketika semua orang terdekat pun angkat tangan, ada satu penolong utama. Dari Sa’id bin Sulaim RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib – Syarah Ihya).

Sebuah riwayat yang sangat menyentuh hati dikisahkan oleh Imam Al-Bazzar dalam kitab La’aali Masnunah. Dikisahkan bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba hadir sosok yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, sosok tampan tersebut berada di antara dada dan kain kafan si mayat.
Setelah prosesi penguburan selesai dan orang-orang mulai melangkah pergi meninggalkannya sendirian, datanglah dua malaikat yang bertugas, yaitu Malaikat Munkar dan Nakir. Kedua malaikat ini berusaha memisahkan sosok tampan itu dari si mayat agar memudahkan proses tanya jawab.
Tetapi si tampan itu dengan penuh kesetiaan berkata: “Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam surga.”
Lalu ia berpaling kepada sahabatnya (si mayat) dan berkata dengan lembut: “Aku adalah Al-Qur’an yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir, setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, sosok tampan yang merupakan personifikasi dari Al-Qur’an tersebut menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan minyak kasturi dari Mala’il A’la (langit tertinggi). (Himpunan Fadhilah Amal: 609).
Memaksa Diri demi Kebaikan yang Hakiki
Melihat betapa indahnya pembelaan Al-Qur’an di alam kubur, maka pada akhirnya kita mau tidak mau harus “dipaksa” untuk mendekat kepada-Nya selama masih bernyawa. Salah satu cara mengikatkan diri secara kuat adalah dengan menghafalkannya.
Dapat dikatakan, dengan menghafalkan Al-Qur’an, kita telah mengunci diri kita dalam sebuah komitmen suci. Sesibuk apa pun urusan domestik kita, sepadat apa pun aktivitas pekerjaan kita, kita akan “terpaksa” untuk selalu murojaah (mengulang), selalu membuka mushaf, dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.

Dan ketahuilah, itu sungguh bukan termasuk “pemaksaan” yang aniaya. Melainkan sebuah pemaksaan yang penuh dengan kasih sayang dan kebaikan. Sebuah pemaksaan di dunia yang akan berbuah kemerdekaan dan rasa aman yang abadi di akhirat kelak.
Rasulullah SAW juga menguatkan bagaimana Al-Qur’an akan mendatangi pemiliknya kelak.
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabat-sahabatnya (orang yang rajin membacanya).” (HR. Muslim)
Sahabat, jika hari ini kita masih merasa “tidak punya waktu” untuk Al-Qur’an, mari kita renungkan kembali kisah di atas. Al-Qur’an tidak akan menjadi sahabat yang membela kita di dalam kubur yang gelap, jika di dunia kita memperlakukannya seperti orang asing yang hanya dipajang di sudut lemari.
Menghafal dan mengikrarkan diri bersamanya memang butuh perjuangan, butuh lelah, dan butuh memaksa ego kita yang sering kali malas. Namun, bukankah lelahnya mendidik diri bersama Al-Qur’an jauh lebih indah daripada lelahnya menghadapi himpitan liang lahat sendirian?
Selamat berproses dan selamat berikhtiar untuk terus mendekatkan diri, membaca, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur’an. Semoga kelak, sosok tampan itu pulalah yang berdiri di kepala kita, menemani kita melewati ujian pertama di alam barzakh dengan senyuman.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Bagikan tulisan ini ke keluarga dan sahabat tercinta agar menjadi amal jariyah yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
baca juga :
- “Pemaksaan” yang Menyelamatkan: Rahasia Menemukan Sahabat Karib di Alam Kubur
- Mengetuk Pintu Langit: 13 ‘Jalur Langit’ Agar Rezeki Mengejar Kita
- Ketika “Ibu Guru” Mengetuk Pintu Rumah: Hangatnya Cerita Home Visit Si Kecil
- Saat Dunia Bising, Hatimu Punya Ruang Hening (8 Langkah Praktis Menemukan Keberkahan Hidup di Tengah Beratnya Amanah)
- Saat Allah Jadi yang Utama, Rezeki Tak Lagi Mengejar, tapi Mengalir Deras
- Lima Pilar Ketahanan Keluarga dari Kisah Nabi Ibrahim ’alaihissalam
- Satu Atap, Dua Dunia: Saat Perbedaan Menjadi Jalan Allah Melunakkan Ego Kita
- Bukan karena Kita Hebat: Saat Hidayah Mengubah Lelah Menjadi Lillah
- Rahasia Daging Kurban Awet Berbulan-bulan, Segar, dan Bebas Bau!
- Langkah Mula Sang Garuda Muda: Cerita Brigasma Menjemput Piala Di Panggung Pertama