Skip to main content

Meniti Sakinah: Rahasia Kebaikan Rumah Tangga di Bawah Payung Ketaatan

KHSblog.net- Meniti Sakinah: Rahasia Kebaikan Rumah Tangga di Bawah Payung Ketaatan. Rumah sejatinya adalah pelabuhan. Tempat di mana lelah setelah seharian menerjang badai kehidupan di luar sana luruh seketika saat pintu diketuk. Dalam bentangan sajadah kehidupan, pernikahan bukan sekadar ikatan legalitas antara dua manusia, melainkan sebuah institusi sakral yang dirancang oleh Allah SWT untuk menghadirkan ketenteraman jiwa.

Namun, di tengah gempuran ujian zaman, mempertahankan keharmonisan keluarga bukanlah perkara mudah. Mengapa ada rumah tangga yang tampak begitu kokoh dan penuh berkah, sementara yang lain begitu rapuh?

Dalam sebuah tausiyah yang sarat makna, Ustadz K.H. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc., Al-Hafizh mengupas tuntas rahasia kebaikan di balik dinding rumah tangga Muslim. Beliau mengingatkan kita bahwa kunci dari baiti jannati (rumahku surgaku) sejatinya bermuara pada satu poros utama: ketaatan kepada Sang Pencipta.

Energi Melesat dari Rumah yang Aman

Dakwah tentang ketahanan keluarga adalah sesuatu yang luar biasa penting. Mengapa? Karena keharmonisan rumah tangga adalah modal utama seorang mukmin untuk berkarya di dunia. Seseorang yang merasa aman, damai, dan selesai dengan urusan rumah tangganya, akan memiliki energi yang melesat jauh lebih baik saat beraktivitas di luar. Rumah menjadi tempat pulang yang paling dirindukan.

Di sinilah esensi dari firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 21, yakni agar manusia merasakan ketenteraman (litas-kunū ilaihā) serta dianugerahi rasa kasih dan sayang (wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah).

Menariknya, K.H. Abdul Aziz Abdur Rauf mengaitkan rahasia kebahagiaan ini dengan Surat Al-Baqarah ayat 187. Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa sumber keharmonisan rumah tangga sejati terletak di balik ketaatan masing-masing pasangan kepada Allah SWT. Ada sebuah kaidah spiritual yang indah:

“Siapa yang taat kepada Allah, maka Allah akan menjadikan makhluk lain taat kepadanya.”

Ketika seorang suami menjaga ketaatannya kepada Allah, maka atas izin Allah, ketataan itu akan memancarkan wibawa yang membuat istri ridha dan taat kepadanya. Sebaliknya, ketika istri taat kepada Allah, Allah akan melembutkan hati suaminya sehingga tumbuh rasa kasih sayang yang tulus. Rasa sayang inilah yang memicu sang suami untuk mengamalkan perintah Allah dalam Surat An-Nisa ayat 19: wa ‘āsyirūhunna bil-ma‘rūf (dan bergaullah dengan mereka secara patut).

Dengan demikian, rumah tangga orang beriman tidak akan pernah lepas dari bimbingan dan intervensi rahmat Allah SWT.

Islahul Fard: Perbaikan Diri Dimulai dari Rumah

Setelah seseorang berusaha memperbaiki dirinya sendiri (ishlahul fardi), maka langkah besar berikutnya dalam dakwah adalah memperbaiki keluarganya (ishlahul ‘ailah).

Menariknya, tolok ukur utama keberhasilan seseorang dalam memperbaiki dirinya (menjadi pribadi yang saleh) justru diuji di dalam rumah. Bagaimana akhlaknya kepada pasangan dan anak-anak adalah cerminan keimanan yang sesungguhnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi)

Target Utama Singgasana Iblis

Mengapa kita harus mati-matian menjaga benteng keluarga? Karena rumah tangga Muslim adalah target operasi utama iblis.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (HR. Muslim No. 2813), Rasulullah SAW mengisahkan tentang iblis yang membangun singgasananya di atas lautan yang luas. Setiap hari, iblis mengirimkan pasukan bala tentaranya ke penjuru bumi untuk menghasut manusia.

Satu per satu pasukan melapor. Ada yang melapor telah berhasil membuat manusia meninggalkan shalat, ada yang sukses menghasut manusia untuk berbohong, dan ada pula yang bangga karena membuat manusia berkhianat. Namun, semua laporan itu ditanggapi biasa saja oleh iblis.

Hingga akhirnya, datanglah seorang prajurit setannya yang melapor, “Aku tidak meninggalkannya (pasangan suami istri) hingga aku berhasil menceraikan keduanya.”

Mendengar hal itu, iblis langsung berdiri memberikan apresiasi tertinggi (surprise), mendekat kepada setan tersebut, memeluknya, dan berkata, “Prajurit terbaik adalah kamu!”

Merawat Jalinan “Pakaian”

Sahabat blog yang dirahmati Allah, hadis di atas menghentak kesadaran kita bahwa runtuhnya sebuah rumah tangga adalah prestasi terbesar yang dirayakan oleh iblis. Setan tahu betul, jika sebuah keluarga hancur, maka hancur pula generasi penerus, dan melemahlah tatanan masyarakat.

Oleh karena itu, mari kita kembalikan orientasi rumah tangga kita pada poros ketaatan. Suami dan istri adalah laksana pakaian (libas) yang saling melengkapi, menghangatkan, dan menutupi celah kekurangan. Ketika riak konflik datang menghampiri, jangan terburu-buru menyalahkan pasangan. Mulailah dengan bermuhasabah: Mungkinkah ada ketaatan kita kepada Allah yang sedang luntur, sehingga Allah mencabut pula keharmonisan dari rumah kita?

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga rumah tangga kita, menguatkan pilar ketaatan di dalamnya, dan mengumpulkan kita kembali bersama keluarga di surga-Nya kelak. Amin.

baca juga :

Tinggalkan Balasan