KHSblog.net- 7 Kebiasaan Yang Menyelamatkan Pernikahan. Bisakah pernikahan ini diselamatkan? Ada kalanya pernikahan terasa begitu rapuh. Kebahagiaan yang dulu sempat dirasakan di awal pernikahan, perlahan mulai hilang. Rasanya sekarang hambar-hambar saja, biasa-biasa saja. Tak ada gairah, tak ada getaran istimewa saat bersama dia. Bahkan pernikahan cenderung terasa sebagai beban.
Kini, harus melewati hari-hari dengan rasa kesepian, padahal tinggal di rumah bersama pasangan. Melihat kehadiran pasangan, tak seperti sebuah anugerah indah. Apakah ini musibah? Apakah aku telah salah memilih dia sebagai pendamping hidupku.? Ternyata dia tak seperti yang aku bayangkan sebelum menikah. Berjuta pertanyaan menggelayut setiap hari, mendera hati yang terus gelisah.

Ustad Cahyadi Takariawan memberikan tips bagaimana menyelamatkan pernikahan, setidaknya ada 7 kebiasaan yang harus dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Antara lain: kebiasaan spiritual, kebiasaan berpikir positif, kebiasaan mengerti dan memahami, kebiasaan memaafkan, kebiasaan membangun harapan, kebiasaan mendekatkan jarak, kebiasaan menciptakan makna bersama.
Yuk simak ulasan penjelasannya. Semoga bermanfaat.
- Kebiasaan Spiritual
Perhatikan kisah kehidupan Umar bin Abdul Aziz. Ayat ini sangat menginspirasi yaitu Al-Qur’an surat An-Nazi’at ayat 40-41. Kehidupannya saat telah menjadi Khalifah. Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sering kali disebut sebagai “Khulafaur Rasyidin kelima” karena ketakwaannya yang luar biasa. Salah satu aspek yang paling menyentuh dari kehidupannya adalah bagaimana ketaatannya kepada Allah secara langsung berimbas pada keharmonisan dan keselamatan rumah tangganya bersama sang istri, Fatimah binti Abdul Malik.
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). QS. An-Nazi’at: 40– 41.
Kebiasaan spiritual Umar yang paling menonjol adalah Rasa Takut kepada Allah (Khauf) dan Pengendalian Diri dari Hawa Nafsu. Hal ini tercermin dalam momen krusial saat beliau baru saja diangkat menjadi Khalifah:
a. Memilih Antara Kemewahan Dunia dan Ridha Allah
Setelah dilantik, Umar bin Abdul Aziz pulang ke rumah dengan kesedihan yang mendalam karena memikirkan beban amanah. Ia kemudian memberikan pilihan sulit kepada istrinya, Fatimah, yang merupakan putri seorang Khalifah dan terbiasa hidup mewah.
Umar berkata:
“Wahai Fatimah, aku telah memikul beban urusan umat Muhammad. Jika engkau ingin tetap bersamaku, kembalikanlah seluruh perhiasan dan harta pemberian ayah serta saudara-mu ke Baitul Maal. Karena aku tidak ingin ada harta yang bukan hak kita berada di rumah ini.”
b. Menahan Nafsu demi Keberkahan Pernikahan
Berdasarkan ayat 40 Surat An-Nazi’at, Umar benar-benar “menahan diri dari hawa nafsu”. Ia melepaskan segala bentuk fasilitas mewah, wewangian mahal, dan budak-budak demi menjaga kesucian hatinya.
Fatimah, yang melihat ketulusan dan rasa takut suaminya kepada hari akhir, memilih untuk menyerahkan semua hartanya dan hidup sederhana bersama Umar. Inilah titik di mana pernikahan mereka “diselamatkan” dari fitnah dunia. Pernikahan mereka bukan lagi berlandaskan materi, melainkan visi menuju surga (Ma’wa).
c. Keintiman dalam Ibadah Malam
Salah satu kebiasaan spiritual yang menjaga kedekatan mereka adalah tangisan di tengah malam. Fatimah meriwayatkan bahwa seringkali ia mendapati Umar sedang shalat dan menangis tersedu-sedu hingga seolah-olah jiwanya akan melayang karena takut kepada Allah.
Rasa takut yang sama (seperti yang digambarkan dalam ayat 40) membuat Umar menjadi suami yang sangat lembut, adil, dan tidak pernah berbuat zalim kepada istrinya.
Inilah kebiasaan spiritual yang menuntun seseorang takut melakukan perbuatan maksiat, serta takut menzalimi pasangan dan anak-anaknya.
Miliki kebiasaan spiritual yang membuat Anda semakin dekat kepada Allah.

- Kebiasaan Berpikir Positif
Menurut para ahli, setiap hari manusia berpikir sekitar 60.000 kali, atau 42 kali tiap menitnya. Sayangnya, sebagian besar dari isi pemikiran manusia, adalah tentang hal-hal negatif. Penelitian dari Fakultas Kedokteran di San Fransisco (1986) membuktikan hal tersebut, bahwa 80% pikiran manusia cenderung mengarah kepada keburukan atau hal-hal negatif.
Biasakan berpikir positif dalam kehidupan keseharian, terhadap diri sendiri, terhadap pasangan dan terhadap setiap kejadian/peristiwa yang dijumpai. Jika terbiasa berpikir positif, akan selalu menemukan alasan dan kekuatan untuk melakukan hal terbaik untuk pasangan.
Setiap peristiwa dan kejadian selalu bisa dilihat dari berbagai perspektif. Lihat dari sisi positif
- Kebiasaan Mengerti dan Memahami
Hal yang sering dilupakan oleh pasangan suami isteri adalah kenyataan bahwa mereka tidak sama. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda, dan tidak akan pernah menjadi sama berapapun lamanya mereka hidup bersama dalam keluarga. Sampai akhir hayatnya, suami adalah lelaki yang lengkap dengan segala potensi dan ego kelelakiannya. Sampai akhir hayatnya, isteri adalah perempuan yang lengkap dengan segala potensi dan ego keperempuanannya.
Harmonis itu bukan karena sama, tetapi disebut harmonis karena mereka berbeda namun saling mengerti, saling memahami, saling menerima kondisi pasangan, saling menguatkan, saling melengkapi, saling memberikan yang terbaik untuk pasangan.
Selalu berusaha mengerti dan memahami pasangan. Karena setiap hari ada perubahan.
- Kebiasaan Memaafkan
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nur: 22).
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”
(QS. Asy-Syura: 40).
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapangdada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).
Memaafkan adalah perintah Al-Qur’an. Memaafkan bukan kelemahan justru kemuliaan.
- Kebiasaan Membangun Harapan
Ketika bayi, kita merangkak lalu berdiri dan mulai belajar berjalan. Seberapa banyak bayi terjatuh? Tapi mereka segera bangkit lagi untuk belajar berjalan. Tidak masalah seberapa banyak kita terjatuh tapi bagaimana usaha kita untuk kembali bangkit. Dorongan yang membuat kita bangkit adalah harapan. Ya, harapan seperti matahari yang selalu terbit bersinar di pagi hari. Ia akan mengganti kelamnya malam, menyinari bumi dengan kehangatan.
Manusia bisa bertahan hidup tanpa makan hingga tiga minggu. Akan tetapi, tanpa minum manusia hanya bisa bertahan selama empat hingga tujuh hari, tergantung
situasi. Lalu apakah manusia bisa bertahan hidup tanpa harapan? Seperti matahari, ketika terbenam maka bumi pun menjadi kelam. Jika harapan hilang, dalam satu detik hidup jiwa manusia bisa melayang.
Harapan adalah faktor yang membuat manusia bersemangat menjalani hidup. bangun selalu harapan baru.

- Kebiasaan Mendekatkan Jarak
Ada ego yang harus kita tundukkan. Segera setelah ego berhasil ditundukkan, Anda berada dalam suasana menjauhi tuduhan, caci maki, melempar
kesalahan kepada pasangan. Mendekatlah semakin dekat kepada pasangan
anda. Benteng ego sudah berhasil Anda robohkan, kini saatnya anda membangun relasi positif dengan pasangan, tanpa sekat, tanpa hambatan psikologis.
Terus mendekatlah. Sentuh tangan pasangan, sentuh wajah pasangan, cium dengan lembut tangannya. Tatap matanya dalam-dalam, ucapkan dengan tulus, “Maafkan aku. Terlalu banyak kesalahanku”. Lebarkan kedua tangan Anda, buka hati, perasaan dan pikiran, lalu peluk pasangan Anda.
Jarak fisik maupun psikologis harus terus didekatkan. Jangan makin menjauh.
- Kebiasaan Menciptakan Makna Bersama
John Gottman menyarankan setiap pasangan suami istri untuk mampu menciptakan makna bersama dalam kehidupan rumah tangga.
Bagaimana memahami makna pernikahan?
Bagaimana memahami makna kehadiran anak?
Bagaimana memahami makna kesetiaan?
Bagaimana memahami makna persahabatan? Dan lain sebagainya.
Dalam keluarga muslim, misalnya menciptakan makna bersama bahwa menikah
adalah ibadah, hidup berumah tangga adalah menjalankan sunnah, kehadiran anak adalah amanah, kesetiaan adalah kepada nilai kebenaran dan kebaikan.
Miliki ritual bercengkerama untuk menemukan dan menciptakan makna bersama pasangan.
baca juga :
- 7 Kebiasaan Yang Menyelamatkan Pernikahan
- Membersihkan Racun Pernikahan #1
- Bagaimana Menciptakan Percakapan yang Tidak Membosankan di Sepanjang Kehidupan Pernikahan?
- Lima Racun Pernikahan
- Rumah Tangga Butuh Ruang Bercerita
- Renungan Pernikahan
- Menuliskan 1 Hari 1 Kebaikan Pasangan
- Menikah Ibadah Sepanjang Masa
- Dosa yang merusak Pernikahan
- Nyesekkkk…menjalin hubungan pacaran 10 tahun tak berakhir di pelaminan…aduh dekkk