Skip to main content

Mahar Ijazah: Jejak Sujud dan Aksara di Ambang Kelulusan

KHSBlog.net- Mahar Ijazah: Jejak Sujud dan Aksara di Ambang Kelulusan. Dunia rasanya baru saja usai digempur oleh Tes Kompetensi Akademik (TKA), namun pekan ini, “medan pertempuran” baru sudah menanti di depan mata. Namanya USP—Ujian Satuan Pendidikan. Bagi sebagian orang mungkin hanya sekadar deretan soal di atas kertas, namun bagiku, ini adalah penentu sejarah yang akan terpatri seumur hidup di lembar ijazah.

Sembilan mata pelajaran berdiri kokoh menantang kemampuan kognitifku. Hari Rabu kemarin, atmosfer di sekolah terasa sedikit lebih tegang. Biang keladinya adalah Bahasa Jawa. Di angkatan 13, mata pelajaran ini punya reputasi sebagai “momok” yang disegani. Bayangan tentang rumitnya lekuk-lekuk Aksara Jawa sempat menari-nari di kepala. Namun, syukur merayap di hati ketika lembar soal dibuka; hanya ada segelintir soal aksara yang muncul. Sebuah keberuntungan kecil di tengah ujian besar.

Di sela-sela riuhnya rumus dan teori, aku mencoba mencari jangkar agar jiwaku tetap tenang. Istiqamah menjadi kuncinya. Di sela jadwal ujian yang padat, aku tetap berupaya mendekap erat rutinitas ibadah. Tahajud yang sunyi, Dhuha yang menyejukkan, hingga lantunan Al-Ma’tsurat menjadi bahan bakar spiritualku. Ada nikmat tersendiri saat kita merasa sedang mengetuk pintu langit demi meraih rahmat dan pertolongan-Nya.

Setiap pagi, langkah kakiku menapaki anak tangga menuju aula di lantai tiga. Sebelum sesi matrikulasi dimulai, aku memilih menyendiri di sana. Di tengah keheningan pagi, aku membuka lembar-lembar rangkuman sembari menunggu waktu Dhuha. Khusus hari Rabu, fokusku terbagi antara logika IPAS dan keindahan tembang Jawa.

Ada seni tersendiri dalam mengerjakan USP. Ujian ini berlangsung selama dua setengah jam, waktu yang cukup lama untuk mengundang rasa kantuk bertamu. Aku harus ekstra teliti. Salah fokus sedikit saja, tangan bisa salah melingkari pilihan. Niat hati ingin menjawab A, eh malah tercoret D. Padahal, tidurku cukup dan aku tidak begadang. Mungkin itu ujian fokus yang sebenarnya.

Bagian yang paling membuat jantung berdesir adalah soal uraian. Satu nomor berbobot lima poin. Bayangkan jika jawabannya kurang lengkap atau meleset sedikit saja, poin itu akan gugur dengan sia-lama. Rasanya sayang sekali. Apalagi, nilai ini akan menetap selamanya di buku ijazah—dokumen yang mirip KTP, berlaku seumur hidup.

Namun, aku memilih untuk tidak membiarkan stres mengambil alih kemudi otak. Jika terlalu tegang, pikiran justru bisa mendadak kosong. Prinsipku sederhana: bawa santai, tetap bahagia, tapi tetap fokus. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Cukup Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Kalimat itu menjadi mantra penenang saat aku mulai merasa buntu.

USP ini memang krusial, terutama bagi perjalananku menuju SMP negeri nanti. Namun, aku percaya sepenuhnya bahwa rencana Allah pasti yang terbaik. Jika tidak sesuai ekspektasi, pasti akan diganti dengan yang lebih indah.

Perjalanan ini sebenarnya baru permulaan. Masih ada UKK (Unjuk Kerja Karya), ujian SKL, ujian Tahfidz, hingga karya wisata dan magang yang menanti di depan. Tapi untuk saat ini, menikmati kepulangan sekolah pukul 12.30 di tengah teriknya matahari sudah menjadi “nikmat duniawi” yang luar biasa. Bisa tidur siang setelah otak “berasap” adalah kemewahan tersendiri.

Untuk teman-teman semua, aku hanya mohon selipan doa terbaik. Semoga hasil yang keluar nanti sebanding dengan ikhtiar yang tertuang. Terima kasih sudah bersedia membaca sekelumit cerita sekali seumur hidup ini. Semoga tulisan ini menjadi kenangan manis yang bisa kukenang di masa depan.

Kamsahamnida, kawan-kawan!(Pradipta S.Syifa 6B SDIT Permata Surabaya)

baca juga :

Tinggalkan Balasan