Skip to main content

Membersihkan Racun Pernikahan #1

KHSblog.net- Membersihkan Racun Pernikahan #1. Pernikahan dan hidup berumah tangga tak ubahnya seperti organisme hidup. Selalu ada perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Selalu ada dinamika, tantangan, godaan, ujian di setiap fase perkembangannya. Maka sangat penting bagi setiap keluarga untuk menguatkan daya tahan, agar tidak mudah terlemahkan oleh berbagai persoalan.

Di antara hal yang harus diwaspadai oleh pasangan suami istri adalah hadirnya racun pernikahan (beberapa waktu lalu sudah ditulis juga tentang Lima Racun Pernikahan). Suami dan istri setelah melewati masa-masa yang panjang dalam kehidupan berumah tangga, berpeluang memiliki berbagai endapan atau residu, dampak dari interaksi dengan berbagai persoalan sehari-hari. Endapan emosi negatif yang berlangsung dalam waktu lama, bisa menjadi racun yang berbahaya bagi keutuhan keluarga.

Berikut ini ringkasan tulisan nasihat dari ustad Cahyadi Takariawan bagaimana membersihkan racun pernikahan.

  1. Kokohkan Fondasi Keluarga

Keluarga akan selalu kokoh, apabila berdiri pada fondasi yang kokoh. Sebaliknya, keluarga akan rapuh apabila fondasinya pun rapuh.

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)nya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim” QS. At Taubah : 109

Ketika menafsirkan QS. At Taubah ayat 109 tersebut, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan: “Barangsiapa yang menginginkan tingginya bangunan yang ia dirikan, maka hendaklah memperkuat pondasi dan struktur bangunannya. Karena inti dari kekuatan suatu bangunan ada pada pondasi dan baiknya perancangan struktur, sebagaimana halnya seseorang yang memiliki cita-cita yang tinggi harus memperbaiki asas untuk menggapai keinginannya”. “Sedangkan orang jahil yang mendirikan bangunan tanpa pondasi, niscaya bangunan itu tidak akan tinggal lama dan akan segera runtuh”.

  1. Hadirkan Kohesi Suami Istri

Suami dan istri digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai libas  atau pakaian. Allah berfirman,

“… mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah : 187).

Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka– karena menyatunya antara suami dan istri seperti menyatunya antara pakaian dan orang yang memakainya (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Mereka adalah penutup dan penjaga bagi kalian, dan kalian adalah penutup dan penjaga bagi mereka (Tafsir Al-Muyassar).

Suami istri diibaratkan pakaian yang menggambarkan sebagai penutup, perlindungan bagi tubuh, sebagai hiasan yang membuat penampilan menjadi indah, juga sebagai kedekatan. Dan gambaran itulah yang terdapat dalam sepasang suami-istri (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur)

Pakaian adalah penutup bagi tubuh, lalu kenapa sebagian orang menyingkirkan pasangan hidupnya yang telah diciptakan untuknya sebagai pelindung baginya? Pakaian adalah lencana yang menjadikan diri seseorang berwibawa, akan tetapi kenapa kehidupan berkeluarga seseorang terkadang penuh dengan kekecewaan dan akhirnya menjadi sirna? (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur)

Pakaian adalah pelindung dan pemberi kehangatan bagi tubuh, maka apakah setiap dari kita sudah menjadi pelindung dan telah memberikan kehangatan bagi pasangannya? (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur)

  1. Hangatkan Komunikasi Sehari-hari

Sangat penting bagi suami dan isteri untuk selalu merajut komunikasi setiap hari. Kehangatan komunikasi akan menyebabkan suami dan istri selalu terhubung setiap saat. Jika tidak bisa komunikasi secara langsung karena sedang berpisah tempat, bisa lewat sarana teknologi seperti telepon, chatting, email dan lain sebagainya. Harus ada ikatan hati dan rajutan perasaan, yang dibangun melalui proses komunikasi setiap hari.

Sekedar menyapa, “Apa yang sedang kau lakukan sekarang ? Bagaimana kabar anak-anak kita? Engkau sudah makan siang? Jangan lupa obatnya diminum siang ini”, dan semacamnya, sangatlah penting. Komunikasi rutin ini akan membuat suasana kedekatan antara suami dengan isteri, walaupun mereka sedang berada di tempat yang tidak sama.

Komunikasi yang nyaman antara suami dan istri, akan berdampak detoksifikasi. Racun-racun pemikiran dan perasaan, akan mudah terbersihkan dari dalam diri mereka. Tanpa komunikasi yang nyaman dan melegakan, tumpukan racun akan semakin nyata. Syaikh Mazin bin Abdul Karim Furaih, memandang bahwa dialog yang baik merupakan bagian dari tanda keimanan seseorang. Hal ini menunjukkan, dialog yang baik bukanlah perkara yang boleh dikesampingkan atau disepelekan. Ia merupakan masalah keimanan, bukan semata-mata masalah kemanusiaan dalam berinteraksi antara seseorang dengan orang lainnya.

Perhatikan ungkapan Syaikh Mazin berikut ini:

“Al-Qur’anul Karim sangat memperhatikan persoalan dialog, sehingga lafadz qaala (berkata) disebutkan secara berulang- ulang sebanyak lima ratus kali lebih. Ini tidak aneh, sebab dialog merupakan salah satu cara untuk memberi kepuasan intelektual, dan kepuasan intelektual merupakan dasar keimanan. Karena, keimanan tidak dapat muncul begitu saja, tetapi ia muncul dari dalam jiwa manusia”.

bersambung…

baca juga :

Tinggalkan Balasan