KHSblog.net- Jika Menikah Membuka Pintu Rezeki, Mengapa Banyak Cerai Karena Ekonomi. Mari kita jujur sejenak. Berapa banyak dari kita yang merasa ‘napas’ rumah tangganya tersengal-sengal setiap kali jatuh tempo tagihan tiba? Ada sebuah pertanyaan besar yang menghantui banyak keluarga: Jika menikah adalah pembuka pintu rezeki, mengapa ekonomi justru menjadi alasan utama banyak pasangan untuk berpisah? Benarkah rezekinya yang tidak datang, atau kita yang belum menemukan kunci untuk membuka pintunya dengan benar? Mari kita bedah bersama, bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi soal mentalitas di dalam jiwa.

Cahyadi Takariwan dalam serial Bincang Sakinah menguraikan bahwa menikah itu mendatangkan rezeki. Yuk simak sampai habis ya.
Menikah Itu Mendatangkan Rezeki.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.An-Nuur: 32).
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menyatakan, “Dalam ayat ini ada perintah untuk menikah”.
Dari ayat di atas, Ibnu Mas’ud ra berkata, “berkecukupan dengan menikah” (diriwayatkan dari Ibnu Jarir).
Dengan menikah, akan menundukkan pandangan, menjaga kehormatan, dan Allah akan memberikan kecukupan (QS. An-Nur: 32).
Allah menjamin rezeki untuk semua makhluk-Nya,
“Dan tidak satu pun makhluk bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya” (QS. Hud: 6).
Disebutkan dalam hadits bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah.
“Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak yang ingin membebaskan dirinya” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no.2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Yang dijamin mendapat pertolongan Allah adalah orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya.

Dalil lainnya yang menunjukkan menikah akan membuka pintu rezeki adalah hadits dari Abu Hurairah,
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR.Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)
Ibnu Batthal rahimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim).
“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (QS. An-Nahl: 71).
Rezeki pada setiap manusia, bentuk, wujud, jumlah dan kualitasnya berbeda-beda. Allah tidak menjamin bahwa akan memberi rezeki kepada semua makhluk secara sama rata. Karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba- hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.An-Nuur: 32).
Di antara tafsir Surat An Nur ayat 32 adalah: jika kalian miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rezeki sekaligus (Lihat An Nukat wal‘Uyun).

Segala Sesuatu Ada Pasangannya
Simak rangkaian firman Allah dalam surat An-Najm ayat 43-45, dan 48, sebagai berikut:
“dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm : 43).
“dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An-Najm : 44).
“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. ” (QS. An-Najm : 45).
“dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” (QS. An-Najm : 48).
Jika Rezeki Seret Setelah Menikah
Realitasnya, setelah menikah, ada banyak pasangan yang mengeluh bahwa mereka kesulitan rezeki.
Salah satu sebabnya karena mereka menganggap rezeki hanyalah harta. Mereka tidak melihat, bahwa Allah telah memberikan sangat banyak rezeki.
Jenis Rezeki
Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi menyatakan: Harta adalah rezeki yang paling rendah. ‘Afiyah adalah rezeki yang paling tinggi. Anak salih adalah rezeki yang paling utama. Sedangkan ridha Allah adalah rezeki yang sempurna.
Rezeki adalah pemberian, karunia, kenikmatan, yang diberikan kepada Allah Swt pada hamba-Nya.
Rezeki umum: segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Misalnya rumah, harta, kendaraan, kedudukan, sawah ladang, udara, kesehatan, kebahagiaan, istri / suami, keluarga, anak, dan lain sebagainya, yang didapatkan secara halal maupun haram.
Rezeki khusus: segala hal yang bermanfaat dalam menegakkan iman dan taqwa seseorang. Misalnya ilmu, amal shalih dan segala sesuatu yang membuat seseorang lebih taat kepada Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya. Rezeki khusus seperti ini akan menghantarkan seseorang atau hamba yang mukmin untuk meraih kebahagiaan sejati di dunia maupun di akhirat.

Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib meriwayatkan, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku minta kepada Allah.’ Maka beliau saw menjawab, ‘Mintalah kepada Allah ‘afiyah (keselamatan).’ Setelah beberapa hari, aku datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang aku bisa minta kepada Allah.’ Beliau saw menjawab, ‘Wahai ‘Abbas, paman Rasulullah, mintalah kepada Allah ‘afiyah (keselamatan) di dunia dan akhirat” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).
Nabi saw juga mengajarkan doa memohon ‘afiyah, “Allahumma inni as-alukal ’afwa wal ‘afiyah fid dunya wal akhirah. Allahumma inni as-alukal ‘afwa wal ‘afiyah fi dini wa ahli wa mali.
Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon ampunan kepadaMu, dan ‘afiyah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon ampunan kepadaMu dan ‘afiyah pada agamaku, keluargaku dan hartaku” (HR. Abu Daud 5074, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
‘Afiyah mencakup keselamatan dari berbagai musibah, fitnah, bencana, penyakit, dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia ini. Sedangkan ‘afiyah di akhirat, mencakup keselamatan dari siksa setelah kematian, seperti siksa kubur, siksa neraka dan kengerian yang terjadi antara keduanya, hisab dan kesulitan-kesulitan lainnya (Muhammad Ashim Musthafa, 2022).
Bukalah Pintu-pintu Rezeki: Istighfar
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, 11: 98)
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no.2557).
Kata Imam Nawawi dilapangkan rezeki adalah diluaskan atau diperbanyak rezekinya. Juga bisamaksudnya adalah Allah berkahi rezekinya. (Syarh Shahih Muslim, 16: 104)
Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

Bukalah Pintu-pintu Rezeki : Taqwa, Haji, Umroh
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Dari Abdullah bin Mas’ud , Rasulullahsaw bersabda, “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR. An-Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1: 387. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Bukalah Pintu-pintu Rezeki : Infak, Sedekah
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)
Jauhi Penghambat Rezeki
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zadul Ma’ad menyatakan, ada empat hal yang menjadi penghambat rezeki. Empat hal itu adalah, yang pertama tidur pagi, kedua sedikit shalat, ketiga bermalas-malasan, dan keempat sifat khianat.
baca juga :
- Jika Menikah Membuka Pintu Rezeki, Mengapa Banyak Cerai Karena Ekonomi
- Lima Racun Pernikahan
- Delapan “Tidak” yang Membuat Keluarga Retak
- Kunci Harmoni Rumah Tangga: Dekati Allah
- Renungan Pernikahan
- Menikah Ibadah Sepanjang Masa
- Nenek 71 tahun dinikahi remaja 16 tahun asal Sumatera Selatan ini bikin gempar…hehehe
- Rencana Keuangan bagi mantemans yang sudah menikah, Yuuk simak…