KHSblog.net- Bukan karena Kita Hebat: Saat Hidayah Mengubah Lelah Menjadi Lillah. Pernahkah Anda merenung sejenak di tengah kesibukan hari ini? Mengapa kaki kita masih bisa melangkah ke masjid, tangan kita masih ringan menyisihkan uang untuk berinfak, atau hati kita tergerak untuk bersiap berkurban? Kadang kita merasa itu semua karena kebaikan atau kekuatan kita sendiri. Padahal, jika jujur pada hati kecil, semua itu adalah bukti nyata bahwa Allah sedang memeluk kita dengan hidayah-Nya. Di saat banyak orang merasa beribadah itu berat, Allah justru memilih Anda untuk merasakan nikmatnya sujud. Bukankah itu sebuah romansa cinta yang luar biasa dari Sang Pencipta?

Satu hal yang harus senantiasa kita syukuri di dalam hidup adalah nikmat iman dan Islam. Allah-lah yang memberikan petunjuk dan hidayah tersebut. Melalui petunjuk itulah, Allah berkenan melapangkan dada kita. Ingatlah, kemampuan kita untuk shalat, berzakat, berinfak, hingga berqurban, semuanya murni terjadi atas izin dan pertolongan Allah.
Oleh karena itu, jangan sampai terselip rasa “jumawa” atau sombong di dalam hati, seolah-olah semua amal itu karena kehebatan kita. Sebaliknya, momen-momen saat kita taat justru menjadi pengingat bahwa Allah masih sangat menyayangi kita. Sekecil apa pun proses kebaikan yang sedang kita upayakan, itulah yang akan menuntun kita menuju hidayah yang seutuhnya, bukan menuju kesesatan.
Hal ini diingatkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 125:
“Siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Berdasarkan ayat dan penjelasan para ulama, setidaknya ada 3 ciri utama orang yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima indahnya hidayah. Ciri-ciri ini sangat bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
- Memiliki Daya Ingat yang Baik tentang Hari Akhir (Visioner)
Seorang mukmin yang cerdas tidak hanya berpikir tentang apa yang akan dia makan besok, tetapi apa yang akan dia bawa mati nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda saat ditanya tentang siapa mukmin yang paling cerdas:
“Yaitu orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang terjadi setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)
Aplikasi Sehari-hari: Miliki mindset jangka panjang. Jadikan setiap pekerjaan, pengasuhan anak, hingga interaksi sosial sebagai investasi abadi untuk akhirat, bukan sekadar mencari validasi atau pujian manusia yang sifatnya sementara.

- Tidak Condong dan Diperbudak oleh Dunia
Orang yang mendapat hidayah melihat dunia hanya sebagai jembatan, bukan tujuan utama. Karakternya digambarkan dalam surah Ali ‘Imran ayat 114:
“Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh.”
Mereka mengambil dunia secukupnya untuk kebutuhan hidup dan perjuangan. Kita bisa belajar dari kisah sahabat Nabi, Utsman bin Affan r.a. Ketika melihat aset bisnis dan kekayaannya yang bernilai triliunan, beliau justru menangis dan bersedih. Beliau khawatir, apakah semua harta ini sudah dimaksimalkan untuk menolong agama Allah atau justru akan memberatkannya di akhirat.
Allah juga berpesan dalam surah Al-Qashas ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…”
Aplikasi Sehari-hari: Bekerjalah dengan giat, carilah rezeki yang halal, namun letakkan harta itu di tangan Anda, jangan di dalam hati. Gunakan kelebihan rezeki untuk berbagi dan membahagiakan sesama.
- Selalu Berupaya Mengumpulkan Bekal Menghapi Kematian
Bagi orang yang hatinya lapang, kematian bukan akhir yang menakutkan, melainkan gerbang pertemuan dengan Sang Kekasih, Allah Swt. Mereka memegang prinsip mulia: Wal-mautu fi sabilillah asma amanina (Dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami).
Orientasi akhirat yang kuat ini akan melahirkan kebiasaan untuk selalu bermuhasabah (evaluasi diri). Ketika terpeleset melakukan dosa, ia tidak menunda-nunda dan segera bertaubat. Kesadaran bahwa jatah usia kita di dunia ini ada batasnya, justru menjadi bahan bakar utama yang memotivasi kita untuk terus menebar kebaikan setiap hari.
Sahabat, hidayah itu menjemput kita lewat getaran-getaran kecil di dalam dada: rasa bersalah setelah berbuat dosa, atau rasa rindu untuk kembali bersujud. Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga kita dalam keimanan dan ketaatan. Mari kita sadari bersama bahwa setiap sujud, setiap rupiah yang kita sedekahkan, dan setiap amal kebaikan yang kita lakukan hari ini, semuanya adalah wujud pertolongan dan kasih sayang Allah. Jangan lepas genggaman hidayah ini, karena di sanalah letak kebahagiaan sejati kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Yuk, mulai hari ini, kita perbaiki niat dan perbanyak syukur!

Catatan spiritual: circle majelis SUBAR (Kamis, 28/05/2026)