KHSblog.net- Jadilah Manusia “No Feeling, Just Vision”. Manusia diciptakan tidak hanya sebagai makhluk individu namun juga sebagai makhluk sosial. Manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan interaksi. Mau berbagi. Bersosialisasi. Bertetangga di mana dia berdomisili. Juga tak lepas dari kebutuhan berorganisasi. Semua hubungan sosial tersebut tentunya tak lepas dari bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain. Terkadang tanpa sadar kita menyakiti atau kita merasa tersakiti. Lantas kita mudah tersinggung dan berhenti berbuat baik. Berikut ini ada tulisan dari Ustad Satria Hadi Lubis yang bisa menjadi pengingat serta nasihat untuk penulis dan pembaca setia KHSblog. Yuk simak sampai habis.

ADA luka yang tidak terlihatâĤ
bukan karena fisik, tapi karena ucapan orang.
Ada jarak yang terciptaâĤ
bukan karena tempat, tapi karena hati yang tersinggung.
SeringkaliâĤ
bukan masalah besar yang menghentikan langkah kita,
tapi perasaan kecil yang kita besarkan.
Sedikit tidak dihargaiâĤ kita menjauh.
Sedikit disalahpahamiâĤ kita diam.
Sedikit disakitiâĤ kita berhenti berbuat baik.
PadahalâĤ
kalau setiap rasa dimasukkan ke hati,
kita akan kelelahan sebelum sampai tujuan.
Di sinilah seorang mukmin diujiâĤ
apakah ia hidup dengan perasaan, atau dengan visi hidupnya.
Karena jalan menuju ridha AllahâĤ
tidak selalu dipenuhi kenyamanan.
Akan ada gesekan.
Akan ada kekecewaan.
Akan ada orang yang tidak mengerti kita.
Allah SWT mengingatkan:
âDan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.â (QS. Al-Muzzammil: 10)
Bukan hanya sabarâĤ
tapi juga tetap berbuat baik.
Karena tujuan lebih penting daripada memanjakan perasaan.
Bukan berarti hati tidak merasa terlukaâĤ
tapi hati tidak diberi kendali penuh.
Ia tetap terlukaâĤtapi tidak berhenti.
Ia tetap kecewaâĤtapi tidak mundur dari kebaikan.
Ia tetap bergaulâĤmeski tidak selalu diperlakukan seperti yang diharapkan.
Karena ia tahuâĤ
yang ia cari bukan penerimaan manusia, tapi penilaian Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda:
âSeorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dan tidak bersabar atas gangguan mereka.â (HR. Tirmidzi)
PerhatikanlahâĤ
Rasulullah saw menyuruh kita bukan mencari kenyamanan dalam hidup, tapi tetap bertahan dalam pergaulan dan interaksi sesama manusia.
Beliau saw membuktikannya sendiri.
Beliau dihinaâĤ tapi tetap mendoakan.
Beliau disakitiâĤ tapi tetap memaafkan.
Beliau ditolakâĤ tapi tetap mengajak.
Karena beliau tidak hidup dengan feeling.
Beliau hidup dengan visi dan misi sebagai rahmat semesta alam.
Maka jika hari ini kamu merasa sakit hatiâĤ
Ingatlah tujuanmu lebih besar dari itu.
Kalau kamu berhenti hanya karena kecewaâĤ
maka rasa telah mengalahkan arah.
Dan ini yang rugi kamu sendiri.
Karena itu…
Tetaplah menyapaâĤmeski tidak selalu disambut.
Tetaplah membantuâĤmeski tidak selalu dihargai.
Tetaplah hadir dalam kebaikanâĤmeski hatimu harus berjuang.
Karena bisa jadiâĤ
justru di saat kamu menahan perasaan itulah, Allah SWT melihat ketulusanmu yang paling murni.
âDan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.â (QS. Al-Maâidah: 8)
No feelingâĤ bukan berarti mati rasa.
Just visionâĤ berarti tetap harus berjalan,
meski hati harus berkali-kali menahan luka,
demi satu tujuan : ridha Ilahi Robbi.
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
