KHSblog.net- Ketika Kebaikan Tak Terbalas: Belajar Ketulusan dari Nabi Nuh dan Filosofi Akar. Pernahkah Anda berada di titik di mana Anda merasa sudah mengerahkan seluruh energi dan perhatian untuk orang lain, tetapi mendapat kepedulian yang tak sebanding? Perasaan tersebut sangat manusiawi. Ada kalanya terbersit di dalam hati kekecewaan kecil: “Capek juga ya, udah care ke orang lain, eh ternyata kita tak seistimewa itu baginya.” Atau bahkan muncul rasa rendah diri: “Capek juga ya… tapi kayaknya aku bukan siapa-siapa deh.”

Namun, jika landasan berbuat baik semata-mata karena Allah, tak peduli apakah gayung bersambut atau tidak, seorang hamba akan tetap teguh, konsisten, dan terus melangkah. Ketika niat difokuskan untuk mengharap ridha-Nya, goals atau tujuan hidup menjadi sangat jelas: melangit dan berorientasi pada akhirat.
Ketabahan Nabi Nuh dan Filosofi Akar
Mari kita meneladani kesungguhan Nabi Nuh alaihissalam. Selama ratusan tahun beliau berdakwah dan menebar kebaikan, namun hanya sedikit sekali orang yang mau beriman. Apakah beliau berhenti? Tidak. Nabi Nuh terus berikhtiar tanpa memedulikan penolakan manusia, karena beliau tahu bahwa tugasnya hanyalah berusaha, sedangkan balasan dan hasil adalah hak prerogatif Allah.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Jika hari ini Anda merasa amalan atau kepedulian Anda tidak dihargai, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik pemberi balasan. Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam sebuah hadits riwayat Umar bin Khattab RA:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Jika belum mendapat apresiasi dari manusia, lihatlah filosofi akar pohon. Akar berada di dalam tanah yang gelap: ia tidak terlihat, tidak dipuji, tidak difoto, dan jarang disebut-sebut oleh manusia. Namun, justru dari akarlah sebuah tanaman dapat berdiri tegak, kokoh, dan berbuah manis.

Oleh karena itu, tidak perlu bersedih jika amal baik kita tidak disorot oleh manusia. Allah Mahawaspada dan Maha Melihat setiap perbuatan sekecil apa pun. Pengetahuan Allah atas ikhtiar kita sudah teramat cukup sebagai penguat jiwa.
Melakukan kebaikan memang membutuhkan kelapangan dada. Manusia bisa saja lupa atau mengabaikan ketulusan yang kita berikan, tetapi Allah tidak pernah luput mencatat setiap peluh dan air mata yang jatuh dalam ketulusan. Ketika fokus kita teralih dari pujian manusia menuju ridha Pencipta, ketenangan hati akan datang dengan sendirinya. Tetaplah berbuat baik dan jadilah seperti akar: terus memberi kehidupan walau bekerja dalam hening.
(Inspirasi dan motivasi disarikan dari laman Instagram Teh @dara_dharmayanti)
baca juga :
- Ketika Layar Ponsel Dipenuhi Jejak Kebaikan: Tanda Allah Sedang “ Memakai” Kita
- Menata Ulang Diri: Langkah Kecil Menuju Perubahan Tanpa Tapi, Tanpa Nanti
- Jangan Berhenti Berbuat Kebaikan
- Rahasia Walau Udzur Tetap Dapat Pahala
- Rebahan Vs Khatam Al-Qur’an
- SELF TALK : AKU SIBUK, ATAU AKU PRODUKTIF?
- Meluaskan Kebaikan dengan Buku Bergizi
- Agar Keimanan Kita Terjaga.
- Nasehat Umur Agar Tak Futur
- Dahsyat Full Manfaat