KHSblog.net- Puncak Kebahagiaan Bukan Keluarga dan Harta. Kali ini tulisan nasihat dari ustad Satria Hadi Lubis. Banyak orang mengira bahwa puncak kebahagiaan adalah memiliki keluarga yang harmonis, anak-anak yang membanggakan, dan harta yang melimpah. Karena itu, sebagian besar energi hidup dihabiskan untuk mengejar semua itu.
Tidak ada yang salah dengan keluarga. Tidak ada yang salah dengan harta. Bahkan keduanya termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Namun masalah muncul ketika kita menganggap bahwa keluarga dan harta adalah tujuan akhir kehidupan.
Islam mengajarkan bahwa keluarga dan harta bukanlah tujuan, melainkan sarana. Bukan puncak kebahagiaan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada kita. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (ujian) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)
Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa harta dan anak adalah puncak kebahagiaan. Allah justru menyebutnya sebagai fitnah, yaitu ujian.
Mengapa? Karena melalui harta, Allah menguji apakah kita bersyukur atau kufur. Melalui kekayaan, Allah menguji apakah kita dermawan atau kikir. Melalui jabatan, Allah menguji apakah kita amanah atau khianat. Melalui anak-anak, Allah menguji apakah kita mampu mendidik mereka menuju surga atau justru membiarkan mereka menjauh dari agama.
Banyak orang bahagia ketika memiliki harta, tetapi lupa bahwa setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban.
Banyak orang bangga memiliki anak yang sukses di dunia, tetapi lupa bertanya apakah anak tersebut juga sukses dalam ketaatan kepada Allah.
Karena itu, ukuran kebahagiaan seorang muslim berbeda dengan ukuran kebahagiaan kebanyakan manusia. Bagi seorang muslim, kebahagiaan tertinggi bukanlah banyaknya harta yang dimiliki. Bukan pula banyaknya anak yang dimiliki. Bukan pula megahnya rumah atau tingginya jabatan.
PUNCAK KEBAHAGIAAN ADALAH KETIKA ALLAH RIDHO KEPADA KITA.
Apa artinya memiliki keluarga yang lengkap jika akhirnya keluarga itu tidak membawa kita semakin dekat kepada Allah?
Apa artinya memiliki harta berlimpah jika harta itu justru menyeret kita kepada kesombongan dan kelalaian?
Apa artinya kekurangan harta dan kemiskinan jika itu membuat kita berputus asa dan hilang harapan terhadap pertolongan Allah?
Apa artinya memiliki anak-anak yang sukses jika mereka tumbuh jauh dari petunjuk Allah?

Semua itu hanyalah kesenangan sementara. Allah Ta’ala berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Al-Kahfi: 46)
Perhatikan, Allah menyebutnya perhiasan, bukan tujuan hidup. Perhiasan memang indah. Tetapi nilai manusia tidak ditentukan oleh perhiasannya. Demikian pula harta dan anak. Keduanya adalah nikmat yang patut disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan.
Seorang mukmin mencintai keluarganya, tetapi cintanya kepada Allah lebih besar. Ia bekerja mencari harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai sesembahan. Ia mendidik anak-anaknya, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada mereka. Karena ia sadar bahwa semua yang ada di dunia ini bersifat sementara.
Hari ini ada, besok bisa tiada.
Hari ini bersama kita, besok bisa dipanggil oleh Allah.
Maka puncak kebahagiaan bukanlah memiliki harta dan keluarga semata.
Puncak kebahagiaan adalah ketika harta dan keluarga menjadi jalan untuk mendapatkan ridha Allah dan mengantarkan kita menuju surga-Nya.
Sebab pada akhirnya, yang paling membahagiakan bukanlah apa yang kita miliki di dunia. Yang paling membahagiakan adalah ketika Allah menerima kita sebagai hamba-Nya yang dicintai dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
baca juga :
- Puncak Kebahagiaan Bukan Keluarga dan Harta
- Menanam Harapan di Tengah Keterbatasan: Catatan Sore Bersama POKTAN Barokah Pakal Surabaya
- 8 Cara Menjaga Keutuhan Keluarga
- May Day dan Episode Keluarga
- Waktu Terbaik untuk Keluarga
- Mengapa Bercengkrama itu Penting?
- Calon istri atau istri tidak bisa masak, apakah salah?
- Tak Lelah Sedekah di Saat Wabah
- Pandemi? Tak Perlu Baper, Ini Ada Tips Ala Emak Super
- HIKMAH CORONAVIRUS