Skip to main content

Tumpukan Buku yang Belum Terbaca: Beban Hisab atau Tabungan Kebaikan?

KHSblog.net- Tumpukan Buku yang Belum Terbaca: Beban Hisab atau Tabungan Kebaikan? Daya tarik buku memang sulit dilawan. Mulai dari buku yang kita beli sendiri, daftar wishlist lama yang akhirnya tereksekusi, hadiah dari sahabat, hingga titipan buku untuk diulas. Namun, saat menengok rak buku, kenyataan kerap menampar: tidak sedikit buku yang masih terbungkus plastik rapi. Hwaa! Harus bagaimana dong?

Waktu terus berjalan tanpa kompromi, dan sebagai seorang muslim, kita menyadari betul bahwa setiap nikmat termasuk harta yang dibelikan buku dan waktu yang kita miliki, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah mengingatkan kita dalam sebuah hadis:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Ketika rasa bersalah muncul karena merasa tidak punya cukup waktu untuk membaca, ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan. Kita bisa mulai melakukan decluttering (memilah buku), mendonasikannya ke lembaga yang membutuhkan, membuka perpustakaan mini di rumah untuk warga sekitar, menjualnya kembali, atau menjadikannya hadiah berkesan untuk teman. Langkah ini memastikan buku-buku tersebut tidak mangkrak dan tetap mengalirkan manfaat.

Namun, jika dorongan untuk membaca itu sebenarnya masih sangat kuat, masalah utamanya sering kali bukan pada tiadanya waktu, melainkan bagaimana kita mengelolanya. Solusinya adalah dengan dialokasikan waktu rutin khusus untuk membaca, lalu eksekusi tanpa tapi.

Salah satu cara paling efektif adalah dengan mengganti (switch) kebiasaan scrolling media sosial menjadi waktu membaca buku. Tanpa disadari, “pencuri waktu” paling lihai di era digital adalah konsumsi informasi acak yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Allah SWT mengingatkan kita untuk menjaga waktu dalam Al-Qur’an:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3)

Ketika kita memilih untuk mengalokasikan waktu membaca, manfaat besar akan langsung terasa. Ilmu bertambah, cara pandang terhadap hidup meluas, dan kualitas hidup insyaAllah menjadi lebih baik.

Membaca kembali koleksi buku yang sudah ada di rumah bukan sekadar menyelesaikan tumpukan unboxing, melainkan bagian dari ikhtiar agar harta tidak menjadi mubazir. Lebih dari itu, ini adalah upaya nyata untuk menyiapkan “kepulangan” kita ke akhirat agar kelak lebih ringan hisabnya di hadapan Allah SWT.

Inspirasi tulisan dialihbahasakan dan dikembangkan dari hantaran Instagram Teh @dara_dharmayanti.

baca juga :

Tinggalkan Balasan