Skip to main content

“Nanti Kalau Sempat Dibetulin”: Jebakan Alibi Simpan Barang Rusak yang Memguras Emosi

KHSblog.net- “Nanti Kalau Sempat Dibetulin”: Jebakan Alibi Simpan Barang Rusak yang Memguras Emosi. Pernahkah Anda memperhatikan pojok ruangan, atas lemari, atau gudang di rumah sendiri? Sering kali kita menemukan tumpukan benda yang sudah tidak berfungsi, lengkap dengan lapisan debu tebal di atasnya. Saat hendak merapikan dan berniat melemparnya ke tempat sampah, tiba-tiba muncul bisikan halus di dalam dada yang membuat tangan urung bergerak: “Jangan dibuang, sayang. Nanti kalau sempat, masih bisa dibetulin.”


Namun, mari jujur pada diri sendiri. Bulan berganti tahun, tetapi waktu “sempat” itu tidak pernah benar-benar datang. Barang tersebut tetap mangkrak berdebu di tempat yang sama.

Nanti kalau sempat, mau dibetulin. Spoiler: kalau sudah bertahun-tahun tidak disentuh, Anda tidak akan pernah membetulkannya!

Ini adalah alibi paling manis untuk menimbun sampah. Kipas angin mati, blender yang kurang sparepart, atau baju yang kancingnya lepas satu. Setiap kali mau dikeluarkan dari rumah, otak Anda langsung bisik-bisik defensif: “Jangan dibuang, sayang. Nanti kalau sempat masih bisa dibetulin.” Masalahnya, waktu sempat itu tidak pernah datang, dan barangnya tetap mangkrak berdebu di tempat yang sama.

Anda bukan sedang hemat, tetapi sedang menunda rasa bersalah.

Mengapa otak begitu berat melepaskan barang rusak? Karena selama barang itu disimpan, Anda merasa “aman” dari rasa bersalah. Melepaskan barang rusak memaksa Anda mengakui kenyataan pahit: uang Anda sudah melayang dan fungsi barang itu sudah habis. Menyimpannya adalah alibi halus agar Anda tidak merasa “gagal” atau “boros”.

Padahal, rumah Anda bukan bengkel atau tempat servis!

Setiap kali mata Anda melintas di depan barang rusak, ada sesuatu yang diam-diam terjadi. Otak merekamnya sebagai tugas yang belum selesai—satu lagi hal yang menggantung, satu lagi beban yang belum tuntas. Kecil, tetapi nyata. Jika hal seperti itu ada di lima sudut rumah Anda, beban kecil itu menumpuk menjadi sesuatu yang jauh lebih berat dari yang Anda sadari.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk menjaga kerapian, tidak berlebih-lebihan, dan senantiasa bersikap jujur, termasuk jujur terhadap kapasitas diri. Menimbun barang rusak hingga mengganggu kenyamanan dan kelapangan tempat tinggal bisa mengarah pada sikap israf (mubazir/berlebih-lebihan). Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Selain itu, menunda-nunda tindakan tanpa kepastian juga bertentangan dengan petunjuk Rasulullah SAW untuk senantiasa bertindak tegas dan melepaskan apa pun yang meragukan pikiran kita. Rasulullah SAW bersabda:

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan An-Nasa’i no. 5711)

Menyimpan barang rusak dengan janji palsu “nanti dibetulin” justru memelihara keraguan dan beban pikiran. Coba tes kondisi rumah Anda hari ini dengan “Aturan 48 Jam”:

Ambil barang yang statusnya “mau dibetulin” di rumah Anda hari ini

Jika dalam 48 jam tidak ada aksi nyata untuk membetulkannya, akui kenyataann. Tanya pada diri sendiri dengan jujur: “Mau dibawa ke tukang servis dalam 48 jam ke depan, atau mau dilepaskan sekarang?”ya: Anda memang tidak berniat membetulkannya. Dan itu tidak apa-apa. Yang tidak apa-apa adalah terus menyimpannya tanpa kepastian.

Lepas barangnya, selesaikan utang emosinya!

Membuang atau merelakan barang rusak bukan berarti Anda boros. Justru itu adalah bukti bahwa Anda berani jujur pada kapasitas diri. Saat Anda melepaskan barang-barang tersebut, Anda sedang membebaskan ruang fisik di rumah sekaligus menghentikan “utang emosi” yang diam-diam menyita pikiran selama bertahun-tahun. Rumah yang lapang dan rapi akan menghadirkan ketenangan jiwa bagi para penghuninya.

Inspirasi tulisan dari laman Instagram Teh @rika.subana

baca juga :

 

Tinggalkan Balasan