Skip to main content

6 Tahapan Menjadi Ayah Hebat, Nomer 5 Butuh Keterlibatan Serius 

KHSblog.net- 6 Tahapan Menjadi Ayah Hebat, Nomer 5 Butuh Keterlibatan Serius. Peran ayah begitu penting. Perahu bernama keluarga membutuhkan nahkoda handal. Tak hanya berbekal kompetensi sebagai nahkoda, namun tanggung jawab menyadari peran sebagai pemimpin di keluarga adalah kunci suksesnya.

Sungguh sangat besar tanggung jawab ayah terhadap keluarganya. Kita semua sebagai orang tua tidak menginginkan lahirnya generasi setaraf buih di tengah keluarga. Generasi yang lemah iman, lemah fisik, lemah ekonomi maupun lemah mental.

Kitab suci Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 9 mengingatkan tentang hal ini:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Jangan sampai kita menjadi orang tua yang merugi kelak dikemudian hari. Meninggalkan generasi yang lemah. Jika kita akan membentuk generasi yang unggul dan tidak merugi, sehingga kita tetap terhimpun baik di dunia maupun di akhirat kelak, tidak ada jalan lain selain melakukan pembenahan diri.

Contoh telah ada untuk berbenah diri menjadi ayah unggul. Yaitu meneladani Rasulullah. Meniru langkah beliau. Maka niscaya kita bisa mencetak generasi yang mampu menggenggam dunia.

Berikut ulasan dari membaca buku berjudul Ayah yang Ku Puja ditulis oleh Nurul Chomaria, S.Psi tentang langkah apa saja yang perlu ditempuh demi perbaikan kualitas generasi selanjutnya.

1. Sadar peran.

Setelah paham mengenai betapa besar dampak pengasuhan seorang ayah terhadap anak-anaknya, kini saatnya untuk berubah. Dengan menyadari peran ayah yang besar dan saling melengkapi dengan pasangannya, sekarang bukan saatnya saling melempar tanggung jawab.

Suami dan istri adalah satu tim yang kompak. Merawat, mengasuh serta mendidik anak-anaknya.

Peran sentral pembuat kebijakan adalah ayah. Maka ayah harus berbenah diri dari segi kualitas maupun kuantitas ilmu dan waktu yang disediakan untuk keluarga.

2. Komitmen baru dengan pasangan.

Apabila paradigma baru menuju ke arah kebaikan keluarga sudah ditetapkan, maka sangat penting untuk mengomunikasikan dengan pasangan.

Istri sebagai wakil kepala keluarga di rumah. Selagi ayah tidak berada di tempat, maka ibu memegang peran kepemimpinan dalam keluarga.

Peran ibu tidak bisa disepelekan, karena keterlibatan ibu dalam urusan kerumahtanggaan malah melebihi waktu yang disediakan para ayah.

Salah satu langkah awal untuk menetapkan kebijakan baru adalah membuat komitmen baru dengan pasangan (istri). Saling berbagi informasi betapa ayah juga perlu terlibat dalam keluarga, dan bagaimana dampak yang begitu dahsyatnya terhadap anak-anak.

Di awal, sebagian ayah merasa jengah atau ‘malu’ dengan pasangan untuk menyatakan dirinya telah berubah. Ini perlu dipahami, butuh proses. Yang pasti apabila sudah berkomitmen maka jengah dan malu akan minggir. Demi perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan pasti membutuhkan proses. Tentunya pihak pasangan tidak bisa menuntut hasil instan dalam upaya perbaikan keluarga.

Jadikan pasangan sebagai sahabat. Menurut John M Gottman, psikolog dari University of Washington, menyatakan bahwa pasangan suami istri yang bersahabat cenderung hidup berbahagia.

Mengapa? Karena mereka saling mengenal dan akrab. Masing-masing tahu benar kesukaan, ketidaksukaan, kekhasan pribadi, harapan dan impian pasangannya.

Dengan persahabatan, pasangan ini dapat mencegah pertengkaran menjadi tak terkendali. Memang peran pasangan bisa digabung sebagai mitra dan sahabat.

Suami sebagai mitra, bisa diajak bertukar pikiran dan memecahkan masalah secara bersama. Suami sebagai sahabat bisa dijadikan curahan isi hati untuk melakukan sharing.

3. Hargailah pasangan/ibu dari anak-anak.

Ayah dan ibu di mata anak merupakan pimpinannya. Mereka menganggap ayah dan ibu sosok sempurna yang diharapkan bisa solid dalam memimpin mereka.

Realitas menunjukkan banyak kejadian anak-anak bermasalah karena antara ayah dan ibu tidak seiring sejalan dan saling melecehkan.

Ayah berkata ‘no’ dan di belakang, ibunya berkata ‘yes’. Sikap ‘simpang siur’ ini menyebabkan anak merasa bingung. Hal ini menjadi penyebab akan terbentuk jiwa oportunis yang tidak bertanggungjawab kelak dikemudian hari.

Dari sini anak bisa mencari celah suatu kejadian yang dimungkinkan mendapatkan restu dari salah satu pihak orang tuanya.

Ayah dan ibu diharapkan membentuk tim yang kompak. Jika suatu saat ada friksi, jangan berdebat di depan anak. Sebaiknya menyelesaikan masalah ‘orang tua’ ke dalam kamar sehingga anak tidak melihat dan mendengar apa yang diperdebatkan. Hal ini akan membawa dampak yang positif, yaitu anak akan belajar sikap konsisten dari kedua orang tuanya yang ‘seiring sejalan’.

4. Sisihkan waktu untuk keluarga.

Sang Pemilik Kehidupan sudah memberikan waktu 24 jam sehari. Tanpa mengaturnya dengan bijak maka akan ada pihak lain yang terzalimi.

Semisal seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja berangkat pagi dan pulang malam. Saat berangkat anak masih tidur, pulang telah mendapatkan anaknya tidur. Anak tidak bertemu ayahnya. Apabila pola seperti ini terjadi setiap hari, dijalankan terus menerus, tidak mustahil jika anak dengan ayah mengalami keterasingan.

Hal ini juga berpengaruh yaitu ayah kesulitan masuk ke dunia anaknya walaupun hanya untuk menasihati. Jarak antara anak dan ayah yang kian jauh akan berakhir dengan perasaan hampa. Maka ayah wajib mengalokasikan waktu, sebagain dari 24 jamnya untuk berinteraksi dan mendidik anak-anaknya.

Anak yang merasa dekat dengan orang tuanya akan bersikap terbuka dan berterus-terang jika menghadapi permasalahan. Orang tua bisa mendampingi anak memasuki berbagai tahap perkembangannya. Memasuki fase aqil baligh nya. Orang tua wajib mendampingi dalam hal ini. Jangan biarkan anak mencari informasi sendiri atau dengan teman-teman yang kebenaran informasinya patut dipertanyakan.

5. Terlibat dalam urusan keluarga.

Apabila ayah sudah menyediakan waktu khusus untuk keluarganya, maka segera melibatkan diri dalam urusan rumah tangga.

Kehidupan berkeluarga seperti kehidupan dalam organisasi, atau perusahaan. Keduanya sama-sama kumpulan orang-orang.

Ayah yang piawai bekerja di kantor dan bisa memimpin anak buah dalam mencapai tujuan perusahaan, maka di rumah pun peran sebagai pemimpin keluarga tidak selayaknya ‘dipindahtangankan’ ke istri.

Tugas kepemimpinan tetap ada di pundak sang ayah. Jangan sampai terjadi, di luar ayah sukses memimpin orang lain, tapi di rumah ia gagal memimpin keluarganya.

Ada banyak kesempatan kegiatan yang bisa ayah masuk terlibat dalam keluarga. Salah satunya adalah dalam pengasuhan anak yaitu ketika berusaha mengantar anaknya tidur. Ayah bisa membacakan cerita yang disukai anak-anak. Dari kegiatan ini, selain mempererat hubungan orang tua dan anak, anak juga bisa mempelajari berbagai nilai yang tersirat dari cerita yang dibacakan.

Mengajak anak berkebun, menjaga anak ketika ibu belanja, membantu memandikan anak, dll. Tinggal mana yang dipilih ayah, dan pekerjaan mana yang siap diambil perannya oleh ayah .

6. Mengikuti grup support.

Perubahan memerlukan keberanian. Begitu pun untuk mendobrak pendapat umum yang mengatakan suami yang terlibat dalam urusan rumah tangga adalah ‘para suami yang takut pada istri’ perlu ditindaklanjuti.

Umumnya para suami yang akan terlibat dalam urusan rumah tangga, akan merasa malu dan gengsi dengan keluarga besarnya dan masyarakat sekitar. Rasa inilah yang menyebabkan tidak adanya perubahan sikap mental ayah selama ini.

Maka support dari ‘orang terdekat’ sangat penting. Yaitu mereka yang memiliki visi dan misi yang sama. Terutama pasangan (istri).

Berikutnya ayah bisa melakukan sharing kepada teman-teman atau orang-orang yang melakukan hal yang sama. Dengan memiliki grup support, ayah tidak merasakan beda dengan yang lain.

Begitu pentingnya keterlibatan ayah dalam keluarga. Selain ketrampilan ayah yang akan bertambah, bonding atau keterdekatan antara ayah dengan anak akan terbina dengan baik.

baca juga :

Tinggalkan Balasan