Advertisements

Tujuh Pilar Pengasuhan Untuk Anak (Bagian #2)

Tujuh Pilar Pengasuhan Untuk Anak (Bagian #2). Ayah sebagai pemimpin dan penentu Garis Besar Haluan Keluarga (GBHK).  Anak-anak yang banyak mengalami masalah di luar rumahnya tawuran remaja misalnya, bahkan narkoba dll ini adalah karena kurangnya bounding peran ayah di keluarganya. Salah satu penyebab masalah kurangnya bounding antara lain karena ayah dan ibu yang innerchild, ayah diam, ayah keras, ayah jayus, ayah melempar tanggung jawab, dan ayah  menyalahkan ibu.

Selain berperan menjadi penentu GBHK idealnya ayah memiliki kewenangan untuk  menentukan tujuan keluarga sesuai ketentuan Allah, membuat kebijakan peraturan, menentukan standart keberhasilan, mendidik dan membimbing istri dan anak, melakukan pengontrolan, mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas. Tentunya semua kewenangan tersebut dibicarakan bersama pasangan hidupnya. Ayah juga berhak untuk dicintai, dihargai, dihormati, dipedulikan serta dipercaya. Inilah pilar kedua tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan untuk anak-anak.

  1. Tetapkan Tujuan Pengasuhan & Sepakati

Melalui penentuan Garis Besar Haluan Keluarga (GBHK) dibuat di awal dengan melibatkan ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai penguat ayah di dalam pengasuhan anak.

Pengasuhan pada anak laki-laki dan perempuan berbeda. Sang Maha Hidup memberikan otak yang berbeda pada tiap-tiap anak. Fitrah dan fungsinya pun berbeda di dalam keluarga. Tanggung jawab keduanya juga berbeda. Anak laki-laki merupakan sasaran tembak bisnis narkoba dan pornografi. Membekali anak-anak dengan tujuan pengasuhan yang jelas dengan menanamkan bahwa anak-anak adalah hamba Allah, mukmin yang bertaqwa. Membentuk anak-anak sesuai peran dan tanggung jawabnya. Apabila perempuan menegaskan perannya kelak sebagai calon istri. Dan laki-laki perannya sebagai calon suami. Anak-anak kelak memainkan perannya sebagai pengayom, pendidik keluarga serta penanggung jawab keluarga.

 

  1. Komunikasi Yang Benar, Baik dan Menyenangkan

Sebagai orangtua mari kita mengevaluasi cara berkomunikasi dengan anak-anak. Belajar komunikasi yang benar dengan anak yaitu mendengar aktif, membaca bahasa tubuh anak, menghindari 12 gaya populer  kekeliruan dalam komunikasi (dari Elly Risman) yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membanding-badingkan, mencap (memberi label), mengancam, menasehati, membohongi, menghibur,mengkritik, menyindir, dan menganalisa.

 

  1. Ortu Yang Menanamkan Nilai Agama

Tanggung jawab orangtua adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Anak faham adalah anak tidak terbebani dan tidak menolak, namun anak melakukannya dengan suka dan bahagia. Jadi targetnya adalah bukan bisa tetapi suka. Prioritas penanaman nilai agama yang utama adalah lurus imannya, takut pada Allah, benar dan baik ibadahnya serta berakhlakul karimah. Berikutnya adalah menyiapkan mereka memasuki masa baligh dan dewasa, siap menjadi menantu, siap menjadi istri dan suami, siap menjadi ibu dan ayah.

  1. Menyiapkan Masa Baligh

Dimulai dari kesadaran dan kesepakatan bahwa anak adalah amanah dari Allah. Kesadaran bahwa kita sebangai orangtua kelak memiliki tanggung jawab pada Allah. Anak juga perlu pendampingan melewati masa pubertas. Peka bahwa  sekarang adalah masa genting untuk membentengi anak-anak kita dengan isu berkembang. Sedangkan sepakat yaitu kedua orangtua harus punya  concern, commitmen dan continuity dalam menyiapkan masa baligh nya. Kuncinya adalah menyediakan waktu dan tenaga, tingkatkan terus pengetahuan dan ketrampilan. Bagaimana mempersiapkannya? Masing-masing orangtua membuat daftar: apa yang luput selama ini dan apa yang diperlukan sekarang. Mempersiapkan materi sesuai umur. Lantas menentukan prioritas dan bagi tugas (ayah dan ibu).

 

  1. Bijak Memanfaatkan Teknologi

Berikut ini langkah-langkah bijak memanfaatkan teknologi:

  • Sepakati makna teknologi/media
  • Sadari bahwa anak kita adalah digital native
  • Pahamkan baik dan buruknya sebelum anak menggunakan
  • Cek kesesuaian conten dengan usia, cek rating, cek batas usia
  • Buat aturan & tentukan konsekuensi
  • Latih bagaimana mengantisipasinya hal buruk
  • Lakukan kontrol: ketika anak menggunakan gadget dan internet

Musyawarah. Bicara dengan pasangan tentunya tetap harus diintensifkan. Pilih waktu dan isyu kritisnya.

Nah kawan warganet, semoga kita sebagai orangtua dan yang akan menjadi orangtua harapannya bisa mengambil dan menerapkan 7 pilar pengasuhan untuk anak ini sebagai langkah perbaikan generasi mendatang. Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, namun juga cerdas spiritual. Aamiin. (NRA)

 

 

 

 

 

Advertisements

About khsblog

Manusia yang sedang belajar menjadi Ayah bagi 2 buah hatinya. Tinggal di altar suci Sunan Giri dengan makanan khas Nasi Krawu dan camilan Pudak. Tunggangan setia yakni Milestone dan MT-03...ini alternatif personal blog dari www.setia1heri.com I @ setia1heri I kangherisetiawan@gmail.com

Posted on 26 August 2018, in keluargaharmonis and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: