Skip to main content

Tak Sulit Memahami Pasangan Kita

KHSblog.net- Tak Sulit Memahami Pasangan Kita. Pernahkah Anda merasa kaget melihat pasangan Anda tiba-tiba hobi menanam bunga, padahal dulu ia benci menyentuh tanah? Atau tiba-tiba ia menjadi pendiam, padahal biasanya ia adalah radio rusak di rumah? Seringkali kita bergumam, “Dia berubah ya, tidak seperti dulu.”

Kenyataannya, kita semua memang berubah. Keluarga bukanlah benda mati seperti meja atau kursi; ia adalah organisme hidup yang terus bermutasi setiap detiknya. Pikiran berkembang, perasaan meluas, dan beban hidup bertambah.

Masalahnya, banyak dari kita yang berhenti “mengobrol” dan hanya sekadar “berbicara”. Kita tinggal satu atap, tapi kehilangan pengenalan. Padahal, rahasia keharmonisan yang diajarkan Rasulullah bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada detail-detail kecil: tentang mandi bersama, lomba lari di padang pasir, hingga obrolan hangat sebelum tidur. Memahami pasangan ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan, asalkan kita mau kembali membuka mata dan telinga untuk mereka.


Dalam serial kelas Bincang Sakinah, Ustad Cahyadi Takariawan memberikan pembekalan yang “daging” semua isinya. Yuk simak ulasannya.

Memahami Pasangan

Coba perhatikan dengan seksama isteri / suami Anda. Apakah dia masih sama seperti saat duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan sekian tahun yang lalu ? Tentu, orangnya masih sama, itulah orangnya, tidak berbeda. Namun, apakah kondisinya masih sama?

Perhatikan pasangan Anda saat ini, dan tanyakan kepada diri sendiri, “Sudahkah memahami dan mengerti kondisinya hari ini?”

“Tahukah apa yang sedang diinginkannya hari ini?”

“Tahukah Anda, apa yang sedang

dipikirkannya?”

“Tahukah anda apa yang menggelisahkan

hatinya?”

Keluarga Adalah “Organisme Hidup”

Keluarga merupakan “organisme hidup”. Semua mengalami perkembangan dan

pertumbuhan. Pikirannya berkembang, kepribadiannya berkembang, perasaan, cita-cita, keinginan, harapan, termasuk pula permasalahannya berkembang. Setiap saat, kita semua mengalami perubahan dan perkembangan. Tidak pernah sama.

Kehilangan Pengenalan

Waspadai gejala “tiba-tiba”,

“Saya tidak menyangka, dulu dia baik-baik saja….”

“Sekarang mendadak berubah drastis….”

“Tiba-tiba ia berubah…..”

Nabi Saw Sangat Mengenali Istri

A’isyah berkata, “Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Sesungguhnya aku tahu kapan engkau sedang ridha kepadaku dan kapan engkau sedang marah kepadaku”. Aku berkata, “Dari mana engkau tahu hal itu?”

Beliau Saw berkata, “Jika engkau ridha kepadaku maka engkau berkata : Demi Rabbnya Muhammad. Jika engkau sedang marah, engkau berkata : Demi Rabbnya Ibrahim”. Aku berkata, “Benar, demi Allah wahai Rasulullah Saw aku tidak menghajr (marah) kecuali hanya kepada namamu”. (HR. Al-Bukhari V/2004 no 4930 dan Muslim IV/1890 no 2439).

Anas bin Malik berkata, “Suatu saat Nabi Saw di tempat salah seorang istri beliau. Salah seorang istri beliau (yang lain) mengirim sepiring makanan. Maka istri beliau –yang beliau sedang di rumahnya– memukul tangan pembantu itu sehingga jatuhlah piring dan pecah (sehingga makanan berhamburan). Nabi Saw mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, beliau Saw berkata, “Ibu kalian cemburu.” (HR Al-Bukhari V/2003 no 4927)

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Perkataan Nabi Saw : Ibu kalian cemburu” adalah udzur dari Nabi Saw (untuk istri beliau yang menyebabkan pecahnya piring) agar sikap istrinya tersebut tidak dicela, akan tetapi sikap tersebut biasa terjadi diantara seorang istri dengan madunya karena cemburu. Rasa cemburu itu memang merupakan tabiat yang terdapat dalam diri (perempuan) yang tidak mungkin untuk ditolak”. (Fathul Bari V/126)

Ibnu Hajar juga menambahkan, “Mereka (para pensyarah hadits ini) berkata bahwasanya pada hadits ini ada isyarat untuk tidak menghukum perempuan yang cemburu karena sikap kekeliruan yang timbul darinya. Karena ia tatkala cemburu akalnya tertutup karena marah yang sangat yang dikobarkan oleh rasa cemburu”. Abu Ya’la telah mengeluarkan hadits dengan sanad hasan dari Aisyah secara marfu’, “Perempuan yang cemburu tidak bisa membedakan antara bagian bawah lembah dan bagian atasnya”… dan dari Ibnu Mas’ud –dia menyandarkannya kepada Nabi Saw, “Allah menetapkan rasa cemburu pada para perempuan, maka barangsiapa yang sabar terhadap mereka maka baginya pahala orang mati syahid”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al- Bazzar mengisyaratkan akan sahihnya hadits ini. (Fathul Bari IX/325)

Agar Selalu Mengerti dan Memahami Pasangan

Beraktivitas bersama. Mengobrol, bercengkerama. Berdiskusi, saling bertanya. Curhat, saling mendengar cerita. Memperhatikan dan mengamati. Lakukan tindakan yang membahagiakan. Tidur, makan, mandi, beribadah bersama.

1. Berduaan dengan istri

A’isyah berkata, “Orang-orang Habasyah (Ethiopia) masuk kedalam masjid bermain, maka Nabi Saw berkata kepadaku, “Wahai yang kemerah-merahan (maksudnya adalah Aisyah), apakah engkau inginmelihat mereka?” Aku berkata, “Iya”. Nabi Saw berdiri di pintu lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya dan aku sandarkan wajahku di pipinya.

Rasulullah Saw berkata, “Sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)”. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jangan terburu-buru”. Lalu beliau (tetap) berdiri untukku (agar aku bisa terus melihat mereka). Kemudian beliau berkata, “Sudah cukup”. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jangan terburu buru”.

A’isyah berkata, “Aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para perempuan tahu bagaimana kedudukan Rasulullah Saw di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah Saw ” (HR.Al-Bukhari V/2006 no 4938, Muslim II/608 no 892, An-Nasai no 1594). Dalam riwayat yang lain, A’isyah berkata, “Hingga akulah yang bosan (melihat permainan mereka)”. (HR Al-Bukhari V/2006 no 4938)

2. Bermain-main dengan Istri

A’isyah menceritakan bahwasanya ia pernah bersafar bersama Rasulullah Saw, dan berlomba lari dengan beliau. A’isyah berkata, “Maka akupun berlomba dengannya dan aku mengalahkannya”. Pada kesempatan yang lain, A’isyah kembali bersafar bersama beliau Saw, dan kembali berlomba lari. A’isyah berkata, “Maka akupun berlomba dengannya lalu Rasulullah Saw mendahuluiku. Beliau tertawa dan berkata, “Ini untuk kekalahanku yang dulu” (Syaikh Al-Albani berkata, “Sanadnya shahih”).

3. Bercengkerama

Anas bin Malik berkata, “Nabi Saw memiliki sembilan orang istri. Beliau jika membagi (giliran jatah menginap) diantara mereka bersembilan maka tidaklah beliau kembali kepada perempuan yang pertama kecuali setelah sembilan hari. Mereka selalu berkumpul di rumah istri yang gilirannya mendapat jatah menginap Nabi Saw. (HR Muslim II/1084 no 1462).

Ibnu Katsir berkata, “…Dan istri-istri beliau berkumpul setiap malam di rumah istri yang mendapat giliran jatah menginapnya Rasulullah Saw, maka beliau pun terkadang makan malam bersama mereka kemudian masing-masing kembali ke tempat tinggalnya” (Tafsir Ibnu Katsir I/467).

4. Mengobrol

Ibnu Abbas ra berkata, “Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi Saw), maka Rasulullah Saw berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. ( HR Al-Bukhari IV/1665 no 4293, VI/2712 no 7014 dan Muslim I/530 no 763).

Imam An-Nawawi menjelaskan, “Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapaun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, mengobrol melayani tamu, atau pengantin baru untuk keakraban, atau suami mengobrol dengan istrinya dan anaknya untuk mewujudkan kasih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

5. Mandi Bersama

Nabi Saw terbiasa mandi bersama istri beliau. Suatu ketika beliau Saw mandi bersama Ummu Salamah (HR Al-Bukhari I/122 no 316, II/681 no 1828, Muslim I/243 no 296, I/256 no 324).

Beliau juga pernah mandi bersama Maimunah (HR Al-Bukkhari I/101 no 250, Muslim I/256 no 322).

Beliau juga mandi bersama Aisyah, “Aku dan Nabi Saw mandi bersama dari satu tempayan”. (HR Al-Bukhari I/100 no 247)

6. Memuliakan Istri

Aisyah berkata, “Rasulullah Saw dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu shalat maka beliaupun pergi shalat”. (HR Al-Bukhari V/2245 no 5692)

Anas bin Malik berkata, “Aku melihat Nabi Saw mempersiapkan kelambu di atas onta untuk Shafiyah, lalu beliau Saw duduk di dekat onta lalu meletakan lutut beliau. Shafiyah menginjakkan kakinya di atas lutut beliau untuk naik di atas onta”. (HR Al-Bukhari II/778 no no 2120, III/1059 no 2736)

7. Tampil Indah

Nabi Saw sangat peduli dengan keindahan penampilan, termasuk ketika bertemu istri. Menjadi pelajaran bagi kita semua agar selalu tampil indah untuk pasangan.

Anas bin Malik berkata, “Pakaian yang paling senang dipakai oleh Rasulullah saw adalah hibarah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Bathal menjelaskan, “Hibarah adalah pakaian dari negeri Yaman yang terbuat dari kain Quthn, merupakan pakaian termulia di sisi mereka”. Al-Qurthubi menjelaskan, “Dinamakan Hibarah karena pakaian tersebut menghias dan mengindahkan (pemakainya)”.

Waktu mungkin akan mengubah fisik dan impian kita, namun ia tak seharusnya mengubah komitmen kita untuk saling mengenal. Jika keluarga adalah sebuah organisme hidup, maka komunikasi adalah napasnya dan pengertian adalah nutrisinya. Meneladani Rasulullah adalah tentang memanusiakan pasangan kita. Menyadari bahwa ia punya rasa cemburu, punya lelah, dan punya keinginan untuk selalu dimuliakan. Jangan tunggu sampai kalian menjadi dua orang asing yang hanya berbagi atap. Mari kembali menatap mata pasangan kita dengan pandangan baru setiap harinya, karena di sana selalu ada bab baru yang menarik untuk dibaca, dipahami, dan dicintai kembali. Sebab memahami dia, sejatinya adalah cara paling indah untuk mencintai dirimu sendiri.***

baca juga :

 

Tinggalkan Balasan