KHSblog.net- Menanam Harapan di Tengah Keterbatasan: Catatan Sore Bersama POKTAN Barokah Pakal Surabaya.
Sore itu, Rabu, 6 Mei 2026, mentari di langit Surabaya Barat mulai melunak. Di tengah suhu dataran rendah yang khas, rombongan yang terdiri dari Ibu Yuli Aryani, Wilda Erniawan, Handria Yudita, Vina Dewi Yunati, Khusnul Khotimah, Siti Romlah, dan Rizta Abtika Putri dan Novita Ratna berkumpul di Perum Benowo Indah (PBI), Kelurahan Babat Jerawat, Pakal Surabaya.

Tepat pukul 15.30 WIB, suasana hangat menyambut kehadiran mereka untuk berguru pada Kelompok Tani (POKTAN) Barokah. Bukan sekadar kunjungan biasa, agenda sore itu adalah sebuah misi penting: membentengi ketahanan pangan keluarga dari halaman rumah sendiri.
Melawan Krisis dengan TASAPOT
Kegiatan dibuka dengan pembekalan materi yang krusial tentang antisipasi krisis pangan. Di tengah lahan perkotaan yang semakin sempit, konsep TASAPOT (Tanaman Sayur Dalam Pot) dan TAMBULAMPOT (Tanaman Buah Dalam Pot) menjadi solusi primadona.
Mengapa harus pot? Jawabannya logis: hemat air, hemat tenaga, hemat pupuk, namun tetap memiliki nilai estetika. Tak hanya untuk konsumsi pribadi, hasil kebun mini ini bahkan memiliki nilai jual. Peserta diperkenalkan pada dua jenis TASAPOT, yakni Sayur Daun (seperti sawi, kangkung, dan pakchoy) serta Sayur Buah (seperti cabai, terong, dan tomat).
Selain aspek pangan, menanam ternyata merupakan terapi jiwa. Berdasarkan studi psikologi, melihat dedaunan hijau secara rutin dapat mempertajam ingatan sekaligus menumbuhkan semangat hidup.

Seni Mengolah Media dan Benih
Praktik pun dimulai dengan detail. Para peserta diajak memahami bahwa menanam adalah sebuah proses presisi. Langkah pertama adalah penentuan lokasi yang harus mendapat sinar matahari minimal 6 jam sehari.
Hal yang paling menarik adalah rahasia “dapur” media tanam. Campuran tanah, sekam, kotoran hewan (KOHE), dan arang sekam harus proporsional agar media tetap berongga.
“Kalau musim panas seperti sekarang, gunakan rasio 2:1:1—dua bagian tanah, satu bagian arang sekam, dan satu bagian pupuk,” jelas instruktur di lapangan. Penggunaan arang sekam yang telah melalui proses pembakaran menjadi kunci penting untuk mencegah serangan jamur.
Istilah-istilah teknis seperti HSS (Hari Setelah Semai) dan HST (Hari Setelah Tanam) pun mulai akrab di telinga peserta. Mereka diajarkan untuk telaten melakukan spray dan memastikan benih tidak mengalami ETIOLASI—atau yang sering disebut KUTILANG (Kurus, Tinggi, Langsing)—akibat kurang cahaya matahari.
Pesan dari Sang Ahli
Di sela-sela keriuhan praktik, Ibu Lutfiatur Rasyidah atau yang akrab disapa Bu Fia selaku Ketua POKTAN Barokah, memberikan tips berharga mengenai perawatan tanaman. “Jangan menyiram tanaman di siang hari saat mereka sedang berfotosintesis. Siramlah pagi hari maksimal pukul sembilan, atau sore hari. Dan ingat, siramlah pada bagian pangkal batang dekat akar, bukan sekadar membasahi daun agar nampak segar,” pesan perempuan yang baru saja dikaruniai cucu berusia 6 bulan ini.
Untuk pengendalian hama atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), peserta disarankan menggunakan cara alami seperti menanam bunga kertas atau kemangi di sekitar sayuran sebagai tanaman pengalih bagi serangga dan hama lainnya.

Keceriaan dan Slogan Perjuangan
Suasana semakin meriah saat sesi kuis berlangsung. Pengetahuan peserta diuji secara spontan. Bu Wilda Erniawan dan Bu Handria Yudita berhasil menjawab tantangan tersebut. Sebagai apresiasi, Bu Dita membawa pulang bibit bawang dayak, sementara Bu Wilda mendapatkan bibit Kale—si “Raja Sayuran”.
“Semoga setelah ini istiqomah,” ujar Bu Dita penuh harap sembari memandangi bibit barunya.
Kunjungan ditutup menjelang Magrib dengan sesi swafoto bersama. Semangat sore itu terangkum jelas dalam slogan yang diusung POKTAN Barokah:
“Tanam yang kita makan, makan yang kita tanam.” Sebuah langkah kecil dari Babat Jerawat untuk masa depan pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
baca juga :
