Skip to main content

Membentuk Keluarga Qur’ani

KHSblog.net – Membentuk Keluarga Qur’ani. Bagaimana menurut Anda? Bacaannya yang merdukah? Bacaannya fasih atau yang diiringi amalan nyata.

Mari kita revisi. Sudah benar tidak kita berumah tangga? Upgrade status menjadi ayah, menjadi istri. Pelajari sunnahnya.

Berikut ini tulisan hasil menyimak kajian Qur’an bersama Ustad Muzammil Hasballah (Kamis, 18 September 2025) di Sekolah Islam Terpadu KBTK Little Star Surabaya disertakan pula agenda penggalangan dana untuk Palestina (terkumpul 17 juta an lebih).

Muzammil Hasballah menjelaskan untuk membentuk keluarga Qur’ani Visi keluarga muslim ada 4 hal.

 

  1. At Tahrim ayat 6

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

 

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Bagaimana caranya selamat dari azab neraka. Lebih berat nasihatnya untuk para suami. Karena suami sebagai qowwam (pemimpin). Jagalah diri kalian. Yang harus kita jaga diri kita sendiri dulu dan keluargamu.

 

Perintah kepada suami, ajarkan kepada istri dan anak-anak kalian adab. Pendidikan dimulai dari rumah. Bukan dari sekolah yang bayarnya mahal. Gurunya sama, sekolahnya juga sama namun outputnya berbeda. Mengapa? Karena pengaruh besar dari rumah.

 

  1. At Tur ayat 21

 

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

 

Reuni kembali di surga. Karena berumah tangga bukan soal bersama di dunia. Namun tetap bersama di surga.

 

Betapa banyak orang yang bermusuhan di dunia. Akan datang suatu hari seorang sahabat pergi dari saudaranya. Berpisah dari ibu dan anaknya. Berpisah dari pasangannya. Nafsi. Nafsi. Dihisab sendiri. Allah tidak akan menimpakan dosa kepada yang lain. Ada safaat orang sholih, namun harus tetap berjuang masing-masing. Berjuang masuk surga.

 

Kabar baiknya adalah selama kita punya iman maka masuk surga. Meski sekecil atom. Tempat kembalinya adalah surga. Sesuai amalannya. Narunhawiyah (neraka hawiyah). Juga menjadi tempat kembali. Nauzubillahi mindzalik.

 

Pastikan amal sholih itu lebih tinggi dari keburukan. Maka berusahalah masuk surga agar kita bisa berkumpul bersama keluarga.

 

Orang tua lebih sholih, anak cucunya pun demikian namun leveling nya berbeda. Nah ini yang harus kita pastikan. Ya Allah di mana anakku? Karena beda level surga.

 

Siapapun yang imannya sekecil atom maka masuk surga. Fastabikhul Khairat. Ada yang lupa dengan tujuan hidup. Fokuslah ibadah. Taat dalam beribadah.

 

Visi akhirat masuk surga selamat dari neraka.  Ada visi di Surat Al Furqon ayat 74:

 

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

 

  1. Menjadi penyenang pandangan mata orang tuanya

 

  1. Menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa.

 

Qur’an akan bisa dihafami apabila ditadabburi dan direnungkan.

 

Mengapa di doa ini (surat Al Furqon ayat 74) adalah pasangan dulu baru keturunan? Mana yang Allah dahulukan itu pasti Allah punya hikmah di dalamnya. Apa itu? Mustahil kita berhasil menjadi orang tua yang baik sebelum kita menjadi pasangan yang baik. Menjadi suami dan istri yang baik.

 

Mendidik itu tugas siapa? Keduanya (ayah dan ibu). Bareng-bareng. Kalau rumah tangga sering banyak cekcoknya, konfliknya tidak sehat, maka tumbuh kembang anak tidak sehat.

 

Jangan lupakan tahapannya. Urutannya harus selesai diri sendiri dulu. Jadi pasangan yang baik dulu. Menikah itu segera bukan tergesa. Pantaskan diri di hadapan Allah.

 

Kunci sukses menjadi pasangan adalah masing-masing fokus pada kewajiban sebelum menuntut hak.

 

Akhir-akhir ini sering melihat konten ceramah ustad tentang suami ideal. Lantas apa yang dilihatnya dari konten tersebut di forward ke suaminya. “Nih kayak gini jadi suami.” Mengapa malah tidak introspeksi diri. [Ingat ‘segitiga’ pasangan dengan Allah] Apabila pasangan suami istri itu dalam kondisi baik hubungannya dengan Allah maka dipastikan hubungan keduanya juga baik, lantas ini berdampak kepada anak-anaknya.

 

Laki-laki (suami). Diberikan lebih kesabarannya. Lebih nalarnya. Logikanya. Maka inilah mengapa laki-laki disebut qowwam. Ciri suami qowwam: punya kelebihan dan menafkahi keluarganya.

 

Surat An Nisa Ayat 34:

 

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”

 

Perempuan sholihah adalah ketika dia bisa menjaga ketaatan dirinya kepada Allah dan ketaatan kepada suaminya. Masing-masing fokus kepada kewajiban. Kewajiban istri menjadi hak suami. Dan sebaliknya. Kewajiban suami menjadi hak istri.

 

Dalam Al-Qur’an ada banyak pelajaran tentang keluarga. Keluarga Nuh, istrinya tidak sholihah. Sebaliknya ada suami yang tidak sholih yaitu keluarga Fir’aun. Sholih keduanya mencontoh dari keluarga Imran.

 

Kerusakan akan semakin parah apabila ada di pihak istri. Maka di Qur’an ada surat An Nisa. Bukan surat Ar Rijal.

 

Mudah ndak saat kita sebagai istri tidak meninggikan suara? Ini bentuk taat. Maka harus saling belajar. Bukan buat istri atau suami tetapi untuk Allah. Dan selanjutnya untuk anak-anaknya.

 

  1. Ayah yang sholih membawa rezeki yang baik. Baca biografi para ulama. Imam Bukhari, tidak menafkahi keluarganya dari hal-hal yang subhat. Biografi imam Syafi’i. Karena sumber rizkinya dari yang halal. Bawa pulang yang halal. Pada masa salafusshalih Istri yang sholihah itu bilang, “Kami bisa menahan rasa lapar, tetapi tidak bisa menahan pedihnya siksa api neraka.”

 

  1. Orang tua yang sholih mendoakan anak-anaknya. Doa adalah senjata seorang mukmin. Sempurnakan ikhtiar dengan doa. Terus belajar, terus upgrade diri. Bukan kita yang menjadikan hafiz Qur’an namun atas hidayah Allah. Jangan lupakan doa untuk anak-anak kita.

 

Ketika Nabi Zakaria belum punya keturunan, berdoa, “Jangan biarkan aku seorang diri, berikan aku keturunan yang baik, aku akan mendidiknya yang baik”. Cek surat Ali Imran. dan surat Maryam.

 

Mendoakan keturunan ada di dua lembar terakhir di surat Ibrahim.

 

Perlu banget menjadi orang tua sholih. Apa pentingnya? Supaya anak-anak kita dijaga Allah.

 

Rasullullah dianugerahkan usia 63 tahun. Masa tugasnya dari usia 40 sampai masa kenabian. 23 tahun. Lebih lama usia persiapan dari masa tugasnya. Artinya pendidikan butuh proses yang panjang.

 

Sabar itu kunci mendidik. Belajar dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Nabi Musa tidak bisa sabar. Dan imannya akan lebih banyak dengan kesabaran. Apa ujiannya?

Pertama, Nabi Khidir melubangi perahu bagus-bagus. Nabi Musa terkejut dan menganggap itu perbuatan yang sangat salah dan kejahatan besar, sebab merusak harta orang lain yang telah baik kepada mereka.

Nabi Khidir menjelaskan bahwa perahu itu milik orang miskin yang di depan mereka ada raja yang akan merampas setiap perahu. Melubangi perahu tersebut adalah untuk menyelamatkan milik mereka.

 

Kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak. Nabi Musa kembali tidak tahan dan marah karena perbuatan itu adalah membunuh jiwa yang tidak bersalah, dan ia mengingatkan Nabi Khidir bahwa ia telah melakukan sesuatu yang mungkar.

Penjelasan Khidir bahwa anak tersebut adalah seorang kafir, dan orang tuanya adalah mukmin. Ia khawatir jika anak itu besar, ia akan membawa orang tuanya ke dalam kesesatan.

 

Ketiga, Nabi Khidir memperbaiki dinding sebuah rumah di sebuah desa yang penduduknya kikir dan tidak mau menjamu mereka.

Reaksi Nabi Musa menawarkan untuk meminta upah atas pekerjaan tersebut, yang ia anggap sebagai tindakan kebaikan.

 

Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah itu adalah milik dua anak yatim yang di bawahnya tersimpan harta benda mereka. Ayah mereka adalah orang saleh, dan Allah menghendaki mereka mencapai usia dewasa untuk mengambil harta tersebut sebagai rahmat dari-Nya.

 

Ternyata dibalik tiga ujian Nabi Musa ada banyak hikmah luar biasa yang Allah sudah siapkan.

 

Kenapa mengutus dua orang Nabi (Musa dan Khidir)? Karena dulu bapak mereka orang sholih, maka dia dijaga oleh Allah. Kakek buyut 7 generasi yang sholih akan menurun.

 

Kebanyakan problem di generasi hari ini. Karena ketidakhadiran ayah. Tidak dekat secara emosional dengan anak. Ayah harus hadir dalam pengasuhan. Mendidik keluarga adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya di pundak ibu. 14 komunikasi di Al-Qur’an antara anak dan orang tuanya. Di 17 tempat tentang ayah. Perempuan fitrahnya banyak bicara. Hikmahnya apa? Anak belajar dari bahasa ibunya.

 

Mari perbaiki diri sebagai pasangan. Menjadi pasangan istri dan suami yang fokus untuk memenuhi kewajibannya. ***

baca juga :

Tinggalkan Balasan