Blog Archives

8 Hari yang Istimewa (4)

8 Hari yang Istimewa

Part #4

“Kelas berapa dek?” Tanyaku pada seorang anak perempuan yang duduk di depan lobi hotel.

“Lima…”, jawabnya singkat.

Sambil saya lihat lagi sekelilingnya. Rupanya dia isoman ke Hotel Asrama Haji sendirian. Hati semakin pilu. Kelas lima usia anak pertama saya. Yang hari ini berangkat swab ke Puskesmas beserta uyut, bapak dan ibu.

Read the rest of this entry

8 Hari yang Istimewa (3)

Part #3

Sore di hari pertama, kami saling bersapa dengan beberapa tamu yang duduk di depan lobi hotel sebelum cek kesehatan. Menanyakan dari mana alamatnya, berapa anggota keluarga yang masuk sini hingga berlanjut ngobrol gayeng. Beberapa jam setelah kedatangan kami, dari Puskesmas yang sama yaitu Manukan membawa tamu terkonfirmasi positif juga satu keluarga.

Read the rest of this entry

8 Hari yang Istimewa (2)

8 Hari yang Istimewa

#Part 2

Sejak tahu hasil swab saya dan adik bayi positif, teman dokter menyarankan hari itu juga segera berangkat isolasi mandiri ke rumah sakit yang beliau rekomendasikan. Dengan berat hari Ahad pagi, 6 Juni 2021 saya mulai menyiapkan perlengkapan apa saja yang akan dibawa. Kembali saya buka chat whatsapp dari teman dokter saya. Saya scroll dari awal hingga ke chat paling akhir. Sejenak saya berpikir, kalo saya berangkat isolasi hari ini, besok anak pertama kami tidak ada yang support ujian akhir semesternya.

Read the rest of this entry

 8 Hari yang Istimewa (1)

 8 Hari yang Istimewa

#part 1

“Semangat sehat ya, semoga segera negatif dan bisa pulang ke rumah”. Pesanku pada teman-teman seperjuangan di Hotel Asrama Haji saat berpamitan pulang.

Delapan hari kami sekeluarga diberikan takdir terbaik dari Sang Maha Rahman. Allah memberikan kami incip menikmati positif covid 19. Ya, kami sekeluarga di awal bulan Juni merasakan bagaimana awal virus ini menyapa. Tepatnya mulai hari selasa, 1 Juni 2021 suami merasakan badannya demam. Panas tinggi hingga mencapai 39 derajat celsius. Saya yang malam harinya khawatir dengan kondisi suami, terus memantau suhu demamnya. Tidak ada tanda-tanda turun panasnya. Masih di angka yang sama. Meskipu turun hanya di angka 38 derajat celcius. Mencoba mengompres juga. Tapi hasilnya masih sama.

Read the rest of this entry

Tangki Kesabaran

Tangki Kesabaran. “Kapan ndang mrene ndhok?”, tanya mbah dhok kepada cucunya.

“Dua puluh hari lagi mugo korona e lungo yo dhok, ndang iso mrono”. Jawab anak perempuan saya. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: