Skip to main content

Mengapa Harus Lelah Mengejar Validasi? Hidup Bukan untuk Disukai Semua Orang

KHSblog.net- Mengapa Harus Lelah Mengejar Validasi? Hidup Bukan untuk Disukai Semua Orang

Pernahkah kamu merasa sangat lelah karena terus-menerus memikirkan tanggapan orang lain? Rasanya, setiap langkah yang kita ambil harus selalu mendapat persetujuan atau pujian dari lingkungan sekitar. Namun, makin keras kita berusaha menyenangkan semua orang, makin hampa rasanya jiwa ini.

Realitasnya sederhana: kita memang tidak bisa membuat semua orang menyukai kita, dan hal itu sama sekali tidak perlu. Sebaik apa pun diri kita, akan tetap ada orang yang tidak suka, salah paham, atau memandang buruk.

Para Nabi Pun Memiliki Pembenci

Jika hari ini kamu merasa dinilai buruk oleh orang lain, tidak perlu terbawa perasaan (baper). Mari kita tengok sejarah para Nabi dan Rasul. Siapa yang meragukan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad? Beliau adalah Al-Amin (sosok yang terpercaya), santun, dan penuh kasih sayang. Namun, apakah semua orang mencintai beliau? Tidak. Beliau tetap dibenci, difitnah, dan dimusuhi oleh sebagian kaumnya.

Jika sosok setingkat Nabi yang berakhlak sempurna saja tidak bisa menyenangkan semua orang, apalagi kita manusia biasa?

Oleh karena itu, tidak perlu menghabiskan hidup hanya demi mengejar validasi manusia. Sungguh, jika itu yang kamu lakukan, hidupmu akan terasa sangat capek.

Beralih Diri Demi Diterima: Lelah yang Tak Bermanfaat

Yup, capek banget. Hidup akan terasa sangat berat jika terus-menerus diisi dengan rasa takut:

  • Takut tidak disukai,

  • Takut dinilai buruk,

  • Takut tidak diterima lingkungan,

  • Takut tidak punya teman.

Ketakutan-ketakutan ini kerap meracuni pikiran hingga membuat seseorang rela mengubah identitas dan kebaikan dirinya hanya demi membuat orang lain senang. Padahal, hidup ini bukan tentang menjadi manusia yang disukai semua orang. Lagipula, membuat seluruh dunia menyukai kita adalah hal yang mustahil.

Menjadi Hamba yang Dicintai Allah

Hidup yang sebenarnya adalah tentang menjadi hamba sebagaimana yang Allah inginkan. Sifat manusia itu berbolak-balik dan penilaian mereka sangat rapuh. Hari ini seseorang bisa memujimu setinggi langit, namun besok lusa orang yang sama bisa dengan mudah mencacimu.

Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an betapa tidak stabilnya kecenderungan manusia:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Maka dari itu, jangan pernah menggantungkan nilai dirimu pada penilaian manusia. Cukup fokus pada satu hal: apakah apa yang kita lakukan disukai oleh Allah atau tidak?

Rasulullah juga memberikan tuntunan yang amat menenangkan hati terkait prioritas keridaan ini dalam sabdanya:

“Barangsiapa yang mencari keridaan Allah meskipun manusia benci, maka Allah akan mencukupkan bebannya dari kejahatan manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414)

Tetap Tenang, Kamu Tidak Gagal

Mulai hari ini, lepaskan beban berat dari bahumu. Tenang saja, kalau hari ini kamu tidak disukai oleh sebagian manusia, itu sama sekali bukan pertanda bahwa hidupmu gagal. Kegagalan sejati adalah ketika kita kehilangan keridaan Allah hanya demi mengejar penerimaan yang semu dari sesama hamba.

Fokuslah memperbaiki hubunganmu dengan Sang Pencipta. Ketika Allah ridha padamu, Dia akan menanamkan kedamaian di hatimu, sesuatu yang tak akan pernah bisa kamu dapatkan dari validasi manusia.

(Inspirasi tulisan dari laman Instagram Teh @dara_dharmayanti)

baca juga :

 

Tinggalkan Balasan