KHSblog.net- Menyaring Dunia, Merawat Jannah di Dalam Dada. Setiap hari, kita dibombardir oleh ribuan informasi, visual yang berseliweran di layar gawai, hingga obrolan yang mampir ke telinga. Sadar atau tidak, semua itu layaknya air yang mengalir ke dalam bejana diri. Jika airnya jernih, tenanglah jiwa kita. Namun jika airnya keruh, maka gelisah dan kotor pulalah ruang batin kita. Sebuah nasihat indah dari laman Teh @dara_dharmayanti mengingatkan kita kembali tentang sebuah seni yang sering kita lupakan: seni mengelola dan menyaring apa saja yang masuk ke dalam diri.
Mari sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia, merenung, dan memperbaiki cara kita menjaga diri.

Kita adalah Nahkoda, Bukan Korban Keadaan
Seringkali kita menyalahkan lingkungan atau keadaan atas ketidaktenangan hati yang kita rasakan. “Habisnya, media sosial isinya begitu,” atau “Teman-teman saya bicaranya kasar.” Padahal, kita bukanlah korban keadaan. Kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.
Allah SWT telah membekali kita dengan kehendak bebas untuk memilih. Kita punya kendali penuh untuk menyaring apa yang mau kita lihat, apa yang mau kita dengar, dengan siapa kita berteman, serta apa yang kita konsumsi secara fisik maupun mental. Kita berhak, bahkan wajib memilih suasana hati dan pikiran-pikiran yang memberdayakan diri.
Prinsip kepemimpinan diri ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jika diri kita sendiri adalah wilayah kekuasaan kita, lantas mengapa kita membiarkan “sampah-sampah” visual dan pendengaran bebas menjajahnya?
Menyelaraskan Langkah Menuju Jannah
Ketika kita berani menetapkan sebuah tujuan tertinggi (goals), yaitu menjadi penduduk jannah (surga)-Nya, maka secara otomatis seluruh radar kehidupan kita harus berubah. Kita akan berikhtiar sekuat tenaga memimpin diri menempuh jalan yang mendatangkan rida Allah.
Ikhtiar ini harus menyeluruh, melibatkan tiga elemen utama dalam diri kita:
- Fisik: Menjaga raga dari segala hal yang haram dan konsisten menegakkan apa yang Allah perintahkan. Mulut tidak hanya dijaga dari makanan yang syubhat, tapi juga dari ucapan yang menyakiti.
- Akal: Terus haus mencari ilmu, serta menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai kompas utama serta sumber referensi dalam berpikir.
- Hati: Menjaga ruang batin dari penyakit-penyakit yang mengotorinya. Seperti iri, dengki, dan riya serta senantiasa merawat keikhlasan hanya karena Allah.
Allah SWT mengingatkan pentingnya menjaga seluruh elemen ini dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Mengetuk Pintu Langit: Aku dan Tujuanku
Pada akhirnya, sebuah kesadaran besar akan muncul: Aku bertanggung jawab penuh atas diriku sendiri. Di hadapan Allah kelak, tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain atas kelalaian kita.
Namun, menyadari kelemahan diri sebagai manusia, kita tahu bahwa kita tidak akan mampu berjalan sendiri. Maka, di setiap embusan napas, kita perlu berikhtiar untuk selalu terhubung dengan goals besar kita sembari terus mengetuk pintu langit. Meminta tolong kepada Allah, Sang Maha Pemberi Hidayah, dan melibatkan-Nya di sepanjang waktu yang kita miliki.
Sebagai penutup, mari kita ingat sebuah untaian indah yang menjadi pengingat bagi jiwa yang rapuh. Manusia adalah apa yang ia konsumsi. Baik yang masuk lewat mulut, mata, telinga, maupun pikiran. Kita tidak bisa mengontrol seluruh dunia, tapi kita punya kuasa penuh untuk menutup pintu rumah kita dari hal-hal yang merusak. Jadikan Al-Qur’an sebagai penyaring, dan jadikan rida-Nya sebagai tujuan. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita untuk memimpin diri ini pulang ke kampung halaman yang sesungguhnya: Jannah-Nya.
baca juga :
- Menyaring Dunia, Merawat Jannah di Dalam Dada
- Saat Dunia Bising, Hatimu Punya Ruang Hening (8 Langkah Praktis Menemukan Keberkahan Hidup di Tengah Beratnya Amanah)
- Bukan karena Kita Hebat: Saat Hidayah Mengubah Lelah Menjadi Lillah
- Hidup Untuk Mencari Kebahagiaan Bukan Kenyamanan
- Miliki Empat Sifat Mulia ini Agar Bahagia Dunia Akhirat
- Masjid Sumber Menemukan Kawan di Dunia Hingga Ke Surga
- Bersyukur Agar Tak Kufur
- Antara Kyai dan mobil mewah
- selamat membuka dunia….12-12-2015