KHSblog.net- Di Manakah Level Waktu Anda? Jarum jam di dinding terus berdetak tanpa kompromi, mengikis angka demi angka. Di sudut meja, sebuah layar ponsel menyala redup di tengah kegelapan malam, menampilkan video demi video pendek yang terus digulirkan tanpa jeda oleh jemari yang mulai lelah. Di sudut kota yang lain, seorang pekerja bersimpuh di atas sajadah tipisnya, menyeka peluh usai menggenapkan sujud di sepertiga malam terakhir.
Kita semua, si pelamun di depan layar ponsel dan si perindu surga di atas sajadah, memiliki modal investasi yang sama persis: sebuah jatah bernama 24 jam sehari. Tidak kurang, tidak lebih. Namun, saat senja meredup dan malam menutup hari, ke manakah aliran modal itu bermuara? Mengapa ada waktu yang menguap begitu saja bagai embun, sementara ada pula yang menjelma menjadi barisan cahaya? Kualitas hidup kita sebagai seorang muslim sesungguhnya tidak diukur dari seberapa sibuk jemari kita bergerak, melainkan dari sebuah pertanyaan sunyi yang mendasar: Di level manakah sebagian besar waktu Anda dihabiskan?

Berikut ini tulisan Ustad Satria Hadi Lubis, nasihat tentang 24 jam waktu yang kita miliki. Yuk baca sampai habis.
Setiap manusia memiliki waktu yang sama banyak setiap hari: 24 jam. Yang membedakan bukanlah jumlah waktunya, melainkan ke mana waktu itu mengalir.
Dalam Islam, setiap aktivitas memiliki nilai hukum. Para ulama membaginya menjadi lima kategori: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.
Karena itu, sesungguhnya kualitas hidup seorang muslim dapat diukur dengan satu pertanyaan sederhana:
Di level manakah sebagian besar waktu Anda dihabiskan?
Level Pertama: Dari Haram ke Haram
Ini adalah level yang paling berbahaya. Seseorang berpindah dari satu maksiat ke maksiat lainnya. Ketika selesai melakukan dosa, ia terjebak pada dosa berikutnya. Hidupnya dipenuhi hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah.
Misalnya, pagi hari membuka konten pornografi, siang menipu dalam pekerjaan, sore bergunjing dan memfitnah orang lain, malam berjudi atau menikmati hiburan yang melalaikan hingga meninggalkan salat. Media sosialnya penuh ghibah. Lisannya dipenuhi dusta. Penghasilannya bercampur dengan yang haram.
Semakin sering seseorang berpindah dari haram ke haram, semakin sulit hatinya menerima kebenaran. Mungkin ia tampak menikmati hidup, tetapi hatinya semakin gelap. Allah berfirman:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Level Kedua: Dari Haram ke Makruh
Ini lebih baik daripada level pertama, tetapi belum cukup. Seseorang mulai meninggalkan dosa-dosa besar, tetapi waktunya masih dipenuhi hal-hal yang tidak disukai Allah.
Misalnya, ia sudah tidak berjudi, tetapi masih sering menunda salat hingga akhir waktu. Ia tidak lagi mabuk, tetapi lisannya masih kasar. Ia meninggalkan riba, tetapi masih gemar membuang waktu dengan aktivitas yang mendekatkan kepada kelalaian. Ada kemajuan, tetapi belum menjadi pribadi yang produktif dalam ketaatan.
Level Ketiga: Dari Makruh ke Mubah
Inilah level kebanyakan manusia. Mereka tidak banyak berbuat dosa besar, tetapi sebagian besar waktunya habis pada hal-hal yang netral dan tidak mendapatkan pahala.
Berjam-jam scrolling media sosial tanpa tujuan. Menonton video hanya untuk menghabiskan waktu. Mengobrol panjang tanpa manfaat. Bermain game berlebihan. Rekreasi yang terus-menerus tanpa keseimbangan.
Semuanya mungkin tidak berdosa jika dilakukan dalam batas yang benar, tetapi juga tidak menambah tabungan pahala. Hasan al-Bashri pernah berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkurang pula bagian dari dirimu.”
Waktu yang hanya dihabiskan untuk perkara mubah memang tidak selalu berdosa, tetapi bisa menjadi kerugian besar jika mendominasi kehidupan.

Level Keempat: Dari Mubah ke Wajib
Di level ini seseorang mulai mengubah kebiasaan yang tak mendapat pahala menjadi ladang pahala. Waktunya dijadwalkan untuk menunaikan kewajiban rukun Islam, seperti sholat fardhu, puasa Ramadhan, membayar zakat dan haji jika mampu.
Selain itu menunaikan kewajiban lainnya, seperti amanah dalam bekerja, berdakwah dan membina, berbakti kepada orang tua, mendidik keluarga, menafkahi keluarga dengan harta yang halal. Menjaga hak sesama manusia.
Namun pada level ini, perkata sunnah masih sering dilalaikan. Misalnya, jarang membaca Al-Qur’an. Jarang salat tahajud, jarang salat sunnah rawatib, jarang membantu orang lain, atau jarang bersedekah.
Aktivitas sehari-harinya mulai dipenuhi amal-amal wajib. Ia sadar bahwa hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk hal-hal yang netral (mubah).
Level Kelima: Dari Wajib ke Sunnah
Inilah level terbaik. Bukan berarti meninggalkan kewajiban, tetapi selalu memperkuatnya dengan amal-amal sunnah. Rasulullah saw bersabda dalam hadis qudsi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari)
Sebagian ulama, bahkan memandang perkara sunnah sebagai “kewajiban” yang diterapkan khusus bagi dirinya, sehingga mereka jarang meninggalkan amalan sunnah. Misalnya, menjaga sholat sunnah rawatib 12 raka’at. Selalu menjaga wudhu, selalu salat malam, puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan amal-amal sunnah lainnya.
Mereka yang berada pada level terbaik ini, waktunya habis berpindah dari wajib ke sunnah atau dari pahala yang lebih besar ke pahala yang lebih kecil. Bahkan perkara mubah mereka jadikan sebagai ladang pahala juga karena dilakukan sesuai sunnah Rasul. Misalnya, tidur, makan, dan rekreasi mereka meneladani Rasulullah saw.
Untuk yang makruh dan haram bagaimana? Tentu di level terbaik ini sudah menjadi masa lalu. Bukti dari taubat mereka yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Sebab pengertian taubat sesungguhnya adalah meninggalkan perkara haram dan makruh, serta mengubah yang mubah menjadi berpahala dengan melakukannya sesuai sunnah Rasulullah saw.

Karena itu, audit waktu Anda…!
Cobalah renungkan….
Dalam 24 jam terakhir, lebih banyak waktu Anda digunakan untuk apa?
Berapa lama untuk sholat dan membaca Al-Qur’an?
Berapa lama untuk bekerja?
Berapa lama untuk berdakwah dan membina orang lain?
Berapa lama untuk mengurus keluarga?
Berapa lama untuk scrolling media sosial?
Berapa lama untuk hobi bersenang-senang?
Berapa lama untuk ngobrol dan nongkrong tanpa makna?
Ketahuilah…
Allah SWT tidak menuntut kita berubah sekaligus dalam satu malam. Yang Allah cintai adalah perubahan yang terus bertumbuh.
Jika hari ini masih banyak berada di wilayah haram, bertaubatlah dan tinggalkan dosa itu. Jika masih sering melakukan hal-hal makruh, kurangi sedikit demi sedikit. Jika waktu kita habis untuk perkara mubah, ubahlah sebagian menjadi amal wajib. Dan jika Allah telah memudahkan kita mengerjakan kewajiban, maka perkuat dengan banyak melakukan amalan sunnah, karena di situlah letak kecintaan Allah yang paling besar.
Ingatlah, hidup bukan hanya tentang seberapa lama kita hidup, tetapi pada level apa waktu kita dihabiskan. Orang yang paling beruntung bukanlah yang paling sibuk, melainkan yang paling banyak mengisi waktunya dengan apa yang paling dicintai Allah, sehingga pahala amal sholih mengalir deras sebagai bekal pulang ke kampung akhirat.
Maka, setiap pagi, jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya kerjakan hari ini?” Bertanyalah juga, “Di level mana saya akan menghabiskan waktu hari ini?” Itulah pertanyaan yang mencerdaskan, yang akan mengubah cara Anda menjalani hidup, hingga setiap detik dan menit menjadi investasi menuju kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.
Catatan:
Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan. Jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan berdosa.
Sunnah adalah perbuatan yang dianjurkan. Jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa.
Mubah adalah perbuatan yang dibolehkan. Dikerjakan atau ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.
Makruh adalah perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan. Jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dikerjakan tidak berdosa, meskipun tidak disukai dalam syariat.
Haram adalah perbuatan yang dilarang. Jika dikerjakan berdosa, jika ditinggalkan karena Allah mendapat pahala.
baca juga :