Skip to main content

Harapanmu Bisa Menjadi Nyata di Hari Arafah

KHSblog.net- Harapanmu Bisa Menjadi Nyata di Hari Arafah. Ada satu hari dalam setahun ketika jarak antara bumi dan langit seolah runtuh. Hari di mana benteng keputusasaan dihancurkan oleh runtunan rahmat, dan setiap bisikan lirih dari hati yang lelah didengar langsung oleh Penguasa Semesta. Hari itu adalah Hari Arafah. Momentum puncak saat takdir bisa berubah melalui untaian doa, dan harapan-harapan yang sempat layu kembali dipeluk oleh keyakinan akan dikabulkan.


Ustaz Oemar Mita dalam sebuah tausiyahnya menyampaikan alasan mendasar mengapa doa-doa begitu mustajab pada hari Arafah. Pada hari tersebut, pintu-pintu langit dibuka lebar, Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekat ke langit dunia, dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

Hal ini sejalan dengan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis sahih:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Keagungan hari ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agamamu…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3) (Ayat ini turun saat Rasulullah SAW sedang wukuf di Arafah, menandakan betapa sakralnya waktu tersebut).

Selain itu, hari Arafah adalah waktu pembebasan terbesar dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah.” (HR. Muslim)

Boleh jadi, satu doamu di hari Arafah akan mengubah seluruh garis kehidupan dunia dan akhiratmu. Hari Arafah adalah momen terbaik untuk menaruh harapan sebesar-besarnya kepada Allah.

Sejarah mencatat betapa agungnya momentum ini. Bahkan, Malaikat Jibril pernah menuntun Nabi Ibrahim Alaihis salam dan Nabi Ismail Alaihis salam ke dataran tinggi Arafah pada sore hari. Keduanya lalu berdiri, mengangkat tangan, dan terus memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan hingga matahari terbenam dan cahaya senja perlahan menghilang. Jika para nabi saja tetap mengetuk pintu langit dengan penuh harap, selayaknya kita pun demikian.

Maka, jangan biarkan hari mulia ini berlalu begitu saja. Mintalah ampunan atas masa lalu, ketenangan untuk jiwa yang lelah, dan bentangkan kembali harapan-harapan yang selama ini terasa jauh dari jangkauan. Tidak ada yang terlalu sulit untuk Allah kabulkan.

Walaupun hari ini banyak hal membuat hatimu takut, masa depan terasa abu-abu, dan dunia sedang tidak baik-baik saja, ingatlah satu hal: pertolongan Allah selalu jauh lebih besar daripada apa yang kita khawatirkan. Menangislah di hadapan-Nya pada sore Arafah, lalu bersiaplah melihat bagaimana Allah mengubah kemustahilanmu menjadi kenyataan.

baca juga :

Tinggalkan Balasan