Skip to main content

Ketika Semua Panik, Selalu Ada yang Tetap Tenang: Menemukan Titik Temu Sakinah dan Serenit

KHSblog.net- Ketika Semua Panik, Selalu Ada yang Tetap Tenang: Menemukan Titik Temu Sakinah dan Serenity. Morning Recharge yang diselenggarakan oleh INALEAD pada Sabtu, 16 Mei 2026, menghadirkan sebuah perenungan mendalam tentang esensi kedamaian jiwa. Mengangkat tema “Ketika Semua Panik, Selalu Ada yang Tetap Tenang”, Coach Feri Dwi Sampurno, MM membedah secara gamblang rahasia menjadi pribadi yang tenang dan menenangkan di tengah situasi yang menegangkan.

Menghadapi Dunia yang Bising dan Ambigu

Kita hidup di era yang melelahkan—sebuah fase disorientasi yang signifikan. Dunia hari ini adalah manifestasi dari VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), sebuah istilah yang lahir pada tahun 1983 sebagai salah satu pemicu Perang Dingin. Fenomena ketidakpastian (uncertainty) kini bergeser secara masif menjadi isu kesehatan mental (mental health) dan kecemasan yang kian menguat.

INALEAD hadir untuk merespons kebutuhan ini: membangun kapasitas SDM agar memiliki daya tahan yang efektif dan efisien, serta mampu mengubah tekanan eksternal menjadi respons positif.

Trilogi Kepemimpinan: Selesai dengan Diri Sendiri

Coach Feri Dwi Sampurno menyusun trilogi kepemimpinan bertajuk The Secret of Sakinah and Serenity. Buku ini meyakini adanya tiga lapisan kepemimpinan:

  1. Memimpin diri sendiri (lead self).
  2. Memimpin orang lain (lead others).
  3. Memimpin perubahan atau organisasi (lead change/organization).

Kepemimpinan tidak melekat pada jabatan, melainkan pada individu. Siapa pun, dari level struktural tertinggi hingga staf bawah, membutuhkan kapasitas ini. Namun, hal yang paling mendasar sekaligus krusial adalah memimpin diri sendiri.

Sebuah Peringatan bagi Pemimpin:

Banyak orang tampak hebat memimpin orang lain dan lihai melakukan perubahan organisasi, tetapi belum selesai dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki otoritas dan kuasa (power), namun batinnya belum tuntas. Masih menyimpan luka masa lalu (inner child) atau luka pengasuhan, maka kekuasaan tersebut justru akan melahirkan kerusakan sistemik bagi orang-orang yang dipimpinnya. Sosok seperti Hitler adalah contoh nyata bagaimana luka masa lalu yang tidak tuntas menemukan panggungnya melalui sebuah jabatan.

Jika kita belum memiliki jabatan, lead self adalah kompas arah perjalanan. Setidaknya, jika kita belum mampu memudahkan urusan orang lain, kita tidak menjadi beban, melainkan menjadi oase atau lingkungan yang menenangkan bagi sesama.

Membedah Makna Ketenangan

Kapan terakhir kali Anda merasa tenang? Tenang yang sesungguhnya bukan sekadar kondisi tidak sibuk atau tidak adanya masalah.

Definisi Tenang:

Kemampuan untuk tetap berpikir jernih, mengenali pilihan-pilihan terbaik, serta memiliki daya untuk memilih dan mengimplementasikannya di tengah badai.

Ketenangan tidak sama dengan kesunyian fisik. Ada perbedaan mendasar antara “bising” dan “berisik”:

  • Bising: Suara luar yang datang dari notifikasi, target kerja, tuntutan validasi, atau perbandingan sosial (social comparison).
  • Berisik: Suara di dalam diri kita yang terus menggema meski kita berada di tempat paling sunyi sekalipun.

Kita sering kali melakukan healing ke pantai, hutan, atau beri’tikaf di masjid untuk mencari ketenangan. Namun, kita lupa bahwa keberisikan itu kerap ikut terbawa di dalam hati. Kita merasa cemas dan tidak nyaman saat membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang bahkan tidak kita kenal.

Tiga Bentuk Lelah yang Sering Tidak Dinamai

Kita perlu mawas diri terhadap tiga jenis keletihan batin ini:

  1. Tubuh Berhenti, Pikiran Tetap Berlari: Ini adalah gejala burnout. Keletihan luar biasa yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur; kita kehilangan kesegaran jiwa saat terbangun.
  2. Aktivitas Penuh, Makna Menipis: Hari-hari terlihat sangat produktif, namun hati kerap bertanya, “Untuk apa semua ini?” Kita menjadi sosok yang diandalkan orang lain, tetapi tidak menemukan keterpenuhan (fulfillment) pada diri sendiri. Kita terus bergerak, namun tidak pernah merasa “sampai”.
  3. Terlihat Stabil, Batin Mudah Retak: Senyum luar tetap terjaga, namun ruang di dalam dada terasa kian sempit.

Ada dikotomi besar antara Pencapaian (Achievement) dan Keterpenuhan (Fulfillment). Pencapaian berbicara tentang angka, aset, jabatan, dan pengakuan. Sementara keterpenuhan berbicara tentang makna, kedamaian batin, dan koneksi yang tulus. Menyadari hal ini memaksa kita mengubah pertanyaan hidup: dari “Apa lagi yang harus aku capai?” menjadi “Apa sebenarnya yang sedang aku cari?”

The Cold Button: Titik Temu Sakinah dan Serenity

Dunia sering mengira bahwa kekuatan sejati berada di tangan mereka yang bersuara paling lantang. Faktanya, the true hot button is the cold button. Pribadi yang paling menenangkan justru menjadi yang paling didengar, diikuti, dan dipercaya.

Di sinilah sakinah dan serenity bertemu sebagai satu kesatuan utuh:

  • Sakinah adalah tradisi Islam; ketenangan batin yang bersumber dari kedekatan dengan Allah dan fondasi spiritual yang kokoh. Sakinah adalah akar.
  • Serenity adalah konsep dari stoikisme dan psikologi Barat; ketenangan yang diekspresikan melalui tindakan, sikap, dan pengaruh positif kepada luar. Serenity adalah buah.

Secara etimologi, sakinah berasal dari akar kata yang berarti diam, menetap, hening, dan pulang. Ia bukan sekadar rasa rileks sesaat, melainkan ketenangan yang menetap dan meneguhkan hati agar tidak tercerabut oleh keadaan.

Menariknya, di dalam Al-Qur’an, konsep sakinah justru diturunkan dalam situasi yang sangat menegangkan dan penuh tekanan:

  1. QS. Al-Fath ayat 4 (Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah): Sakinah hadir untuk meneguhkan dan menambah keimanan di atas keimanan yang telah ada saat batin menghadapi tekanan.
  2. QS. At-Taubah ayat 26 (Perang Hunain): Menunjukkan bahwa sakinah hadir bukan saat situasi mudah, melainkan justru ketika keadaan genting dan terjepit.
  3. QS. Al-Baqarah ayat 248: Menegaskan bahwa sakinah adalah simbol hadirnya pertolongan dan keteguhan dari Allah.

Ketika batin seorang pemimpin telah “pulang”, maka kehadirannya akan menenangkan. Tugas pemimpin pada hakikatnya hanya dua: solve the problem (menyelesaikan masalah) dan to make a new problem. Seseorang benar-benar berfungsi sebagai pemimpin saat ia mampu menghadapi dan mengurai tantangan yang datang.

Tiga Kunci Menuju Sakinah

Untuk membangun fondasi batin yang kokoh, terdapat tiga pilar utama yang harus dijaga:

  1. Connectedness (Keterhubungan)

Sambungan jiwa yang sadar dan tulus dengan Allah, diri sendiri, dan sesama. Ketenangan akan terus mengalir selama komunikasi spiritual dan rasa keterpenuhan dengan Sang Pencipta terjaga dengan baik.

  1. Identity (Identitas Diri)

Kejernihan mengenai siapa diri kita yang sebenarnya sebelum tenggelam dalam berbagai peran duniawi. Para nabi dan rasul memiliki identitas yang sangat jelas di hadapan Allah. Semakin kuat identitas diri kita, semakin kokoh pula sakinah yang dimiliki, sehingga setiap masalah dapat dipilah dengan objektif berdasarkan skala prioritas.

Teladan Identitas:

Ketika Rasulullah SAW dilempari kotoran, beliau tidak marah secara personal karena bagi beliau hal itu bukanlah masalah besar (not a big problem). Namun, ketika agama, ideologi, dan kehormatan manusia dilecehkan, beliau bertindak tegas. Beliau tahu persis batasan identitasnya.

  1. Belief (Keyakinan)

Keyakinan mendalam yang muncul dari keterhubungan spiritual dan kejelasan identitas. Nilai-nilai (values) inilah yang bertindak sebagai jangkar, menopang jiwa agar tetap tegak berdiri tanpa harus menguras energi batin dalam menjalani kehidupan.

baca juga :

Tinggalkan Balasan