KHSblog.net- MENDIDIK, BUKAN SEKADAR MENGAJAR
(Sebuah renungan untuk guru, dosen, pembina, dan orang tua)
Mendidik adalah sebuah perjalanan melampaui kurikulum dan ruang kelas. Di sudut sebuah ruang kelas yang sunyi, papan tulis mungkin telah dibersihkan, namun kata-kata yang terucap di sana sering kali menetap selamanya di sudut memori seorang anak. Ada perbedaan tajam antara mentransfer informasi dan mentransformasi karakter. Menjadi pengajar mungkin hanya butuh gelar dan penguasaan materi, namun menjadi pendidik membutuhkan kerelaan untuk menghibahkan sebagian hati. Sebab, mendidik bukan sekadar memastikan nilai ujian berada di atas rata-rata, melainkan tentang bagaimana menyalakan pelita di dalam jiwa yang kelak akan menerangi jalannya sendiri saat kita tak lagi berada di sampingnya.

Berikut ini adalah tulisan dari Satria Hadi Lubis, makna mendidik bukan sekedar mengajar.
DI NEGERI ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Namun kita sangat kekurangan para pendidik. Yang banyak justru para pengajar. Bedanya apa?
Mengajar itu menyampaikan ilmu. Mendidik itu membentuk jiwa.
Mengajar membuat seseorang tahu. Mendidik membuat seseorang berubah.
Mengajar Itu mudah. Mendidik itu amanah besar.
Seorang guru bisa menyelesaikan silabus.
Seorang dosen bisa menuntaskan materi kuliah.
Seorang ayah ibu bisa menyuruh anaknya belajar.
Tapi… apakah itu cukup?
Allah SWT tidak sekadar mengutus Rasul untuk sekedar mengajar. Perhatikan firman-Nya :
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan Hikmah…” (QS. Al-Jumu’ah : 2)
Dalam ayat tersebut urutannya adalah tilawah, tazkiyah, dan ta’lim. Perhatikanlah, bukan langsung mengajar (ta’lim),
tapi didahului dengan tazkiyah (penyucian jiwa). Inilah inti pendidikan : membangun hati sebelum mengisi otak.
Rasulullah saw adalah pendidik, bukan pengajar. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik (mu’allim).” (HR. Ibnu Majah)
Namun, cara beliau mengajar bukan sekadar transfer ilmu. Beliau saw membentuk karakter, akhlak, dan keimanan. Beliau tidak hanya mengatakan “jujurlah”, tapi membangun rasa takut kepada Allah sehingga sahabat tidak berani berdusta. Beliau saw tidak hanya mengajarkan shalat, tapi menanamkan cinta kepada shalat.

Inilah bedanya…
pengajar menghasilkan orang yang tahu,
pendidik melahirkan orang yang hidup dengan ilmunya.
Lalu perhatikan sekeliling kita….
Banyak siswa pintar, tapi minim adab.
Banyak lulusan sarjana, tapi miskin integritas.
Banyak gelar, tapi lemah tanggung jawab.
Masalahnya bukan di kurikulum semata. Masalahnya adalah kita terlalu fokus mengajar, lupa mendidik. Sekolah mengejar nilai. Kampus mengejar akreditasi. Orang tua mengejar prestasi. Tapi… siapa yang mengejar iman dan takwa serta akhlak yang mulia ,sesuai amanah Pasal 31 ayat 3 UUD 1945?
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.
Padahal Ki Hajar Dewantara pernah berkata : “Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.”
Padahal Imam Malik pernah berkata : “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Dan Imam Syafi’ berkata: “Aku mempelajari adab selama 20 tahun sebelum mempelajari ilmu.”
Karena itu, kepada guru, dosen, pembina dan orang tua fokuslah menjadi pendidik, bukan pengajar. Fokuslah pada personal manusianya, fokus pada pembentukan akhlak mulia. Membangun bonding (ikatan hati) dengan anak didiknya dan mencintainya. Tanamkan iman sebelum ilmu, seperti generasi para sahabat ra yang belajar iman dulu, baru Al-Qur’an. Bukan sebaliknya.
Dan yang tak kalah penting. Pendidik itu senjatanya doa. Berdoa yang rutin, panjang dan sungguh-sungguh untuk anak didiknya. Ini yang sering dilupakan para guru, dosen, pembina, dan mungkin orang tua. Butuh waktu, air mata, dan kesabaran untuk mencetak generasi tangguh.
Jangan lupa juga…keteladanan.
Sebab anak didik tidak mendengar apa yang kita katakan, mereka melihat siapa kita. Allah SWT menyindir mereka yang hanya bisa omong doang : “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2)

Jika iklim pendidikan kita terus menerus dikuasai oleh kultur mengajar (bukan mendidik), maka yang terjadi adalah ilmu meningkat, tapi adab menurun. Teknologi maju, tapi moral runtuh. Generasi cerdas, tapi kehilangan arah dan rapuh. Generasi emas tahun 2045 hanya akan menjadi generasi cemas.
Bukan berarti ilmu tidak penting, tapi ilmu tanpa akhlak mulia lebih berbahaya daripada orang bodoh. Apalagi jika mereka menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat.
Maka mari kita ubah niat dan mindset kita di kelas, di rumah, di majelis…
Bahwa kita bukan sekadar pengajar.
Kita adalah pendidik generasi umat ini.
Karena satu pendidik sejati…
bisa mengubah masa depan sebuah bangsa.
baca juga :