Skip to main content

Dari Kata-Kata, Menjadi Amal Nyata

KHSblog.net- Dari Kata-Kata, Menjadi Amal Nyata. Berikut ini merupakan tulisan aliran rasa dari seorang sahabat satu circle sekaligus juga satu amanah di salah satu sekolah di Surabaya Barat. Indra Maya nama lengkapnya. Semoga tulisan ini menjadi pengingat, nasihat yang saat lelah menyapa kami kembali termotivasi untuk bangkit.

Senin pagi, 15 Juni 2026. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 08.00 ketika perjalanan ukhuwah kami dimulai. Sebuah bis elf menjadi saksi langkah awal rihlah yang telah lama kami nantikan. Dari Surabaya, kami bertolak menuju Kota Batu, Malang, membawa harapan, semangat, dan kerinduan untuk semakin menguatkan ikatan persaudaraan.

Perjalanan kali ini terasa berbeda. Bukan hanya para anggota yang ikut serta, tetapi juga keluarga masing-masing. Anak-anak yang riang, para istri yang penuh kehangatan, dan para suami yang siap menemani perjalanan dakwah, semuanya menyatu dalam satu rombongan. Sebelum roda kendaraan berputar, kami menengadahkan tangan, memanjatkan doa safar, memohon perlindungan dan keberkahan kepada Allah.

Seiring bis elf meninggalkan hiruk-pikuk Surabaya, suasana perjalanan dipenuhi obrolan hangat, tawa ringan, dan lantunan dzikir. Jalan yang menanjak dan menurun seakan mengingatkan kami pada kebesaran Allah. Takbir dan tasbih pun mengalir dari lisan, menyatu dengan pemandangan alam yang perlahan berubah semakin hijau dan menyejukkan.

Alhamdulillah, sekitar dua jam kemudian kami tiba di tujuan. Udara sejuk langsung menyambut kedatangan kami. Hamparan hutan pinus yang menjulang tinggi menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mata memandang penuh kagum, sementara hati berbisik syukur atas keindahan ciptaan Sang Khalik.

Beberapa saat kami terdiam menikmati suasana. Seakan alam mengajak kami untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan kembali merenungi kebesaran-Nya. Momen itu terasa terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Maka kami pun berkumpul, mengabadikan kebersamaan dalam foto bersama. Senyum yang terukir bukan sekadar ekspresi di wajah, tetapi gambaran kebahagiaan karena dapat berjalan bersama dalam ikatan ukhuwah yang sama.

Setelah beristirahat sejenak dan menata barang-barang di kamar masing-masing, petualangan berikutnya menanti. Kami memutuskan untuk melakukan tracking menuju Coban Rois. Jalur yang harus dilalui tidaklah mudah. Tanah yang menanjak, jalan berbatu, dan langkah yang semakin berat menjadi tantangan tersendiri.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Ketika satu langkah terasa berat, langkah yang lain hadir untuk menguatkan. Ketika napas mulai tersengal, terdengar suara saudara yang memberi semangat. Perjalanan menuju air terjun itu seolah menjadi gambaran perjalanan dakwah; tidak selalu mudah, tetapi akan terasa ringan ketika dijalani bersama.

Dan benar saja, semua rasa lelah terbayar lunas ketika kami tiba di hadapan Coban Rois. Air terjun yang menjulang dengan gemuruh air yang menenangkan menghadirkan kekaguman yang sulit dilukiskan. Udara dingin menyentuh kulit, sementara hati dipenuhi rasa syukur. Di hadapan kebesaran alam itu, kami kembali menyadari betapa kecilnya diri ini dan betapa agungnya Sang Pencipta.

Waktu berlalu tanpa terasa. Senja perlahan turun, mewarnai langit dengan semburat jingga yang indah. Kami pun kembali menuju vila untuk beristirahat dan menyambut datangnya waktu maghrib. Setelah menunaikan shalat berjamaah dan menikmati makan malam bersama, suasana kehangatan semakin terasa.

Malam itu, kami berkumpul di balkon vila. Secangkir minuman hangat dan camilan sederhana menemani diskusi yang penuh makna. Topik yang dibahas bukan sekadar agenda kegiatan, tetapi juga mimpi-mimpi dakwah yang ingin diwujudkan bersama. Ada gagasan yang disampaikan, ada harapan yang dirajut, dan ada komitmen yang kembali dikuatkan.

Di tengah dinginnya udara Kota Batu, kami merasakan kehangatan yang sesungguhnya: kehangatan ukhuwah. Kami menyadari bahwa persaudaraan ini tidak dibangun hanya oleh kata-kata, tetapi oleh kebersamaan, perhatian, pengorbanan, dan amal nyata yang terus diupayakan bersama.

Malam semakin larut. Percakapan mulai melambat, kantuk perlahan datang menyapa. Satu per satu kami mengakhiri diskusi dan kembali ke kamar masing-masing. Tubuh memang meminta haknya untuk beristirahat, tetapi hati pulang dengan energi baru.

Rihlah ini mengajarkan satu hal yang sangat berharga: ukhuwah bukan sekadar pertemuan, bukan sekadar foto bersama, dan bukan pula sekadar rangkaian kegiatan.

Ukhuwah adalah perjalanan panjang untuk saling menguatkan dalam kebaikan. Dari kata-kata yang selama ini terucap, kami belajar untuk menghadirkannya dalam tindakan. Dari nasihat yang sering terdengar, kami berusaha mewujudkannya dalam amal nyata.

Karena pada akhirnya, persaudaraan yang sejati bukan hanya dirasakan, tetapi juga diperjuangkan bersama.

baca juga :

Tinggalkan Balasan