KHSblog.net- Ketaatan Bukan Soal Mood: Seni Memaksa Diri Melawan Hawa Nafsu. Banyak dari kita hari ini terjebak dalam romantisme spiritual yang keliru: mengira bahwa semua bentuk ibadah dan kebaikan harus selalu diawali dengan getaran hati yang damai, tenang, dan penuh gairah. Kita sering mendengar kalimat, “Saya belum siap,” atau “Nanti tunggu hatinya ikhlas dan sreg dulu.” Sebagai generasi yang sangat mendewakan kenyamanan emosional, kita cenderung menjadikan mood sebagai kompas utama dalam bertindak. Jika sedang ingin, kita lakukan; jika hati sedang enggan, kita tunda. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri, jika standar ini terus kita pakai, kapan kita akan benar-benar bertumbuh?

Dalam pandangan saya, spiritualitas bukanlah tentang mengikuti ke mana arah perasaan angin berembus. Kenyataannya, tidak semua kebaikan itu langsung terasa menyenangkan saat pertama kali bersentuhan dengan ego kita. Tidak semua kebaikan mudah untuk dilakukan. Tapi justru di situlah letak keindahan dan esensi dari sebuah perjuangan. Ada kalanya, jalan satu-satunya untuk selamat adalah dengan melangkahi perasaan kita sendiri: kita perlu memaksakan diri untuk melakukan kebaikan, meskipun hati sedang sangat enggan.
Mengaitkan ibadah melulu dengan kenyamanan adalah sebuah kekeliruan berpikir. Bangun lebih awal di sepertiga malam untuk tahajud saat kantuk sedang hebat-hebatnya, atau meluangkan waktu di akhir pekan untuk ikut kajian di tengah kepungan rasa lelah, itu sama sekali bukan tentang mood. Ini adalah tentang komitmen. Ini tentang prinsip.
Hal ini sejalan dengan tabiat dasar manusia yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an:
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat di atas menjadi tamparan keras bagi opini kita yang sering kali merasa paling tahu apa yang terbaik bagi diri sendiri. Ketaatan memang menuntut ego untuk tunduk. Mengapa demikian? Karena arsitektur akhirat memang dirancang seperti itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (oleh syahwat), sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan nafsu.” (HR. Muslim)
Dari hadits ini, peta jalannya menjadi sangat kontras dan hitam-putih. Surga membutuhkan perjuangan dan kerelaan untuk meninggalkan hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu. Sebaliknya, neraka terlihat begitu mudah dan memikat karena semua keinginan hawa nafsu diikuti tanpa sensor.

Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa memotivasi diri untuk memaksa keluar dari zona nyaman spiritual adalah sebuah keharusan. Memaksa diri untuk meninggalkan sesuatu yang disukai tapi nyata-nyata tidak bermanfaat, lalu menggantinya dengan kebaikan, adalah bentuk jihadun nafsi, jihad melawan diri sendiri yang paling nyata di era modern ini. Berat memang, tapi insyaallah jalan yang mendaki inilah yang menyelamatkan. Memang tidak mudah, tapi ketetapan hati untuk tetap melangkah di saat ingin menyerah akan menjadi bukti konkret kesungguhan kita di hadapan-Nya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa keikhlasan dan kenikmatan dalam beribadah jarang sekali datang sebagai hadiah gratis di awal perjalanan. Sering kali, rasa ikhlas dan ketagihan berbuat baik justru lahir dari rahim “keterpaksaan” yang dirawat secara konsisten. Berhentilah menunggu hati menjadi bersih sempurna baru mau bergerak. Paksa tubuh ini untuk taat, seret kaki ini ke majelis ilmu, dan bangunkan jiwa ini untuk bersujud. Sebab pada akhirnya, komitmen untuk terus memaksakan diri dalam kebaikan adalah penentu apakah kita sedang berjalan menuju surga yang penuh perjuangan, atau justru sedang terbuai di jalan kemudahan yang semu.

(Inspirasi tulisan ini disarikan dari laman Instagram Teh @dara_dharmayanti)
baca juga :