Skip to main content

Modal Roti Cokelat dan Niat: Cerita Pendakian Pertamaku di Gunung Lorokan.

KHSblog.net- Modal Roti Cokelat dan Niat: Cerita Pendakian Pertamaku di Gunung Lorokan.

“Bim, ayok muncak, diajak Kak Icha,” bunyi notifikasi pesan dari Ayra yang mendadak muncul di bagian atas layar ponselku. Saat itu, aku sedang tenggelam dalam doom scrolling di salah satu platform media sosial. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakannya. Lagipula, tidak ada ruginya keluar rumah sejenak untuk menyapa dan mengenal alam lebih dekat. Percakapan kami pun berlanjut dari obrolan pribadi menjadi sebuah grup WhatsApp bernama ‘Pendaki Kalsyer’ yang dibuat oleh Ayra.

Karena tidak memiliki teman sesama laki-laki di obrolan tersebut, aku pun mengajak Arab—seorang teman yang, sama sepertiku, belum pernah merambah dunia pendakian. Di dalam grup, kami membahas banyak hal. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur bergantian: apa saja yang perlu disiapkan, ke mana tujuan kami, kapan berangkatnya, hingga bagaimana teknis perjalanannya. Semuanya dikupas tuntas. Akhirnya, keputusan final pun diambil. Kami berempat sepakat untuk menaklukkan puncak Gunung Lorokan yang berlokasi di Pacet, Mojokerto, pada tanggal 1 Agustus kemarin.

Untuk transportasi, kami memutuskan untuk mengendarai mobil. Titik kumpul disepakati di rumah Ayra, dan tepat pukul 05.00 pagi kami semua sudah harus bersiap di sana.

Malam hari sebelum pendakian, aku dan Arab menyempatkan diri membeli roti sebagai bekal di sana. Saat itu, kami benar-benar polos dan tidak tahu bahwa dua buah roti isi krim cokelat sama sekali tidak akan banyak membantu mengisi perut yang lapar di jalur pendakian. Aku hanya membawa botol air minum favorit berwarna merah berkapasitas dua liter serta sebuah jaket. Sisanya? Hanya modal niat, jiwa, dan raga. Malam itu, aku bahkan hampir tidak bisa memejamkan mata karena terlalu excited. Rasanya kedua kakiku sudah tak sabar ingin segera menapaki tanah pegunungan.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Aku terbangun pukul 04.05 pagi—sebuah pencapaian unik karena aku baru memasang alarm untuk pukul 04.10. Begitu terbangun, pikiran pertama yang terlintas adalah membangkitkan Arab dari tidurnya. Kami sama-sama bergegas. Setelah mandi dan menyiapkan barang bawaan, aku meluncur menjemput Arab. Sesampainya di rumah Ayra, kami menyantap sarapan berupa nasi kotak yang disiapkan oleh mamanya Ayra sambil menunggu Kak Icha yang belum tiba. Begitu semua berkumpul, kami memindahkan barang-barang ke dalam mobil dan berpamitan kepada nenek Ayra. Mobil kami dikemudikan oleh Pak Bayu. Kami memilih jalur bawah yang perjalanannya relatif lancar menuju Lorokan melalui basecamp Alap-Alap.

Setibanya di Alap-Alap, kami melakukan registrasi terlebih dahulu di pos perizinan. Di sana, kami didampingi oleh mama dan om dari Ayra, serta adiknya yang bernama Alvino. Kami berempat bersama Alvino memutuskan untuk berjalan lebih dulu, sementara mama dan om Ayra akan menyusul dari belakang.

Perjalanan awal menuju Pos 1 dipenuhi oleh rasa takjubku pada keindahan alam. Pohon-pohon tinggi menjulang gagah, diselingi hamparan warna hijau dedaunan yang menyegarkan mata. Tiba di Pos 1, kami beristirahat sejenak selama kurang lebih 5 menit untuk mengisi energi sebelum melanjutkan langkah ke Pos 2. Namun, dalam perjalanan menuju Pos 2, tempo langkah kami mulai melambat. Medan yang kami lewati mulai menanjak cukup tajam. Pola berhenti dan berjalan terus berulang hingga akhirnya kami tiba di Pos 2. Di sini, kami beristirahat cukup lama, sekitar 10 menit. Aku mulai meneguk air minum bekalku dan mengatur ulang ritme napas yang mulai tersengal.

Setelah tenaga pulih, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Bukit Kencana. Di tempat ini, kami menyempatkan diri berfoto ria dan beristirahat sejenak setelah melewati jalur miring yang cukup menguras stamina. Aku membuka salah satu roti krim cokelat dan menikmatinya bersama Arab. Target perhentian berikutnya adalah Puncak Wunut Kembar yang berada di ketinggian 939 mdpl. Tiba di Wunut Kembar, kami kembali mengabadikan momen bersama setelah perjalanan yang diselingi banyak jeda tadi.

Lepas dari Wunut Kembar, langkah kami berlanjut menuju Puncak Alap-Alap pada ketinggian 979 mdpl. Kami beristirahat sejenak sembari mengabadikan setiap jengkal keindahan sudut Alap-Alap. Medan dari Wunut Kembar menuju Alap-Alap terbilang cukup miring, memaksa kami untuk ekstra hati-hati dalam memperhatikan setiap pijakan langkah. Sambil menunggu om dan mama Ayra yang masih di belakang, Arab mengajakku untuk berjalan melaju lebih dulu ke Puncak Lorokan, meninggalkan Kak Icha, Ayra, dan Alvino. Kami meninggalkan barang bawaan berat dan mulai berlari-lari kecil menyusuri medan jalur.

Di antara Puncak Wunut Kembar dan Lorokan, terdapat Puncak Harapan yang berdiri di ketinggian 1.001 mdpl. Kami sempat berfoto sejenak di sana sebelum akhirnya memacu langkah menuju Lorokan. Di tengah jalan, aku sempat merasa agak sesak napas karena terlalu terburu-buru, ditambah lagi saat itu kondisi tubuhku memang sedang batuk dan pilek. Namun, dengan saling memberi semangat, kami berdua akhirnya berhasil menapakkan kaki di Puncak Lorokan!

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk di grup ‘Pendaki Kalsyer’, meminta kami segera kembali ke Alap-Alap karena om dan mama Ayra sudah sampai di sana. Kami pun turun menjemput rombongan untuk kembali bersama-sama ke arah Puncak Lorokan. Namun di tengah perjalanan naik kembali, kami memutuskan untuk menyudahi langkah hanya sampai di Puncak Harapan. Pertimbangannya adalah medan yang semakin curam serta kondisi fisik kami semua yang mulai kelelahan. Kami pun kembali turun ke Puncak Alap-Alap untuk mengisi perut yang kosong dengan bekal lezat dari mama Ayra.

Tujuan berikutnya adalah Air Terjun Coban Waru yang terletak di sebelah timur Puncak Alap-Alap. Sesampainya di lokasi air terjun, kami berfoto sebentar lalu tergoda untuk bermain air. Aku yang sebenarnya tidak membawa baju ganti sama sekali, justru nekat untuk basah-basahan. “Nanti kan juga kering sendiri,” pikirku santai. Lagipula, aku sangat penasaran seberapa dingin dan menyegarkannya air pegunungan di sana. Kami pun puas bermain air selama hampir satu jam penuh. Tepat pukul 13.50, kami melangkah kembali ke basecamp, menyelesaikan proses registrasi ulang, dan menunaikan ibadah salat.

Ungkapan terima kasih yang mendalam ingin kusampaikan kepada mama Ayra yang telah memanjakan kami dengan mentraktir makanan di sentra wisata kuliner dekat basecamp. Perut kenyang, badan lelah, kini saatnya untuk pulang. Kami akhirnya tiba kembali di rumah Ayra saat langit sudah menyajikan nuansa gelap menjelang waktu Maghrib.

Cerita pendakian ini akan selalu menjadi pengalaman yang tak tertandingi dan tak terlupakan dalam hidupku. Bukan semata-mata karena pemandangan alamnya yang memanjakan mata, atau pesona air terjunnya yang megah—meski itu tentu menjadi salah satu alasannya. Namun alasan utamanya adalah karena aku melewatinya dan mengukir tawa bersama teman-temanku. Terima kasih untuk sebuah kenangan yang manis!

baca juga :

 

Tinggalkan Balasan