Skip to main content

Resensi Buku Kitab Anti Penundaan: Momentum Merdekakan Diri dari Kebiasaan Menunda

KHSblog.net- Resensi Buku Kitab Anti Penundaan: Momentum Merdekakan Diri dari Kebiasaan Menunda. Pernahkah Anda menatap daftar tugas (to-do list) yang panjang, lalu justru memutuskan untuk membuka media sosial atau merapikan meja kerja yang sebenarnya tidak kotor-kotor amat? Kita sering kali menipu diri sendiri dengan kesibukan semu, merasa telah melakukan banyak hal, padahal kita hanya sedang berlari dari tugas yang utama. Menunda-nunda seolah sudah menjadi “penyakit” modern yang menjangkiti hampir semua orang.

Baru-baru ini, saya membaca sebuah buku yang menampol kesadaran saya cukup keras: Kitab Anti Penundaan karya Darmawan Aji. Jujur saja, buku ini sukses membuat saya menangis. Bukan karena ceritanya yang mengharu biru atau mengandung bawang, melainkan karena rentetan nasihat tegas dan berani yang disampaikan oleh penulisnya. Setiap babnya ditulis berdasarkan data yang akurat dan sumber referensi yang sangat keren, membuat kita tidak berkutik dan harus mengakui kesalahan kita selama ini.

Melalui buku ini, Darmawan Aji membedah secara mendalam bagaimana cara memahami penundaan beserta risiko-risiko fatalnya, pengaruh self-talk (dialog batin) terhadap kebiasaan menunda, penyebab penundaan, serta apa yang menjadi akar dari masalah tersebut. Sebuah realitas pahit yang jamak dilakukan oleh banyak orang, termasuk saya sendiri.

Satu hal menarik yang diluruskan dalam buku ini adalah bahwa penundaan ternyata berbeda dengan malas. Penundaan adalah sebuah tindakan aktif, di mana kita secara sadar memilih melakukan hal lain untuk menghindari tugas utama. Sementara itu, malas adalah tindakan pasif, di mana seseorang memang tidak ingin melakukan apa pun.

Menurut pakar motivasi Piers Steel yang dikutip dalam buku ini, 95 persen orang suka menunda-nunda. Namun, pembedanya terletak pada respons mereka: ada di antara mereka yang sadar lalu berusaha sekuat tenaga mengatasi dan mencari solusinya, sementara sisanya memilih menyerah dan membiarkan penundaan menjadi dinding pembatas abadi antara diri mereka dan kesuksesan. Nah, Anda sendiri masuk kategori yang mana?

Untuk mengetahuinya, coba refleksikan, pernahkah Anda mengalami situasi-situasi seperti ini?

  • Sibuk dengan aktivitas yang remeh-temeh seharian.
  • Tidak mengerjakan tugas penting yang sudah dituliskan di to-do list dalam waktu lama.
  • Menunggu mengerjakan sesuatu sampai mendekati deadline habis.
  • Menonton drama Korea sebagai pelarian karena “malas” dengan tugas yang berat.
  • Menunggu momen dan mood yang tepat untuk mengerjakan sesuatu.
  • Sering terlambat hadir dalam rapat atau janji temu.

Bila Anda sering mengalami bahkan hanya salah satu dari situasi di atas, bisa jadi tanpa Anda sadari, Anda sedang terjebak dalam lingkaran setan penundaan.

Membaca Kitab Anti Penundaan adalah langkah awal yang baik untuk mengenali musuh di dalam selimut bernama prokrastinasi. Buku ini tidak hanya melempar kritik, tapi juga memberikan kompas untuk keluar dari kebiasaan buruk tersebut.

Kebetulan, saat ini kita berada di momentum yang sangat sakral, menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Arti merdeka tentu bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa asing, melainkan juga bebas dari belenggu kebiasaan buruk yang merugikan masa depan kita sendiri. Yuk, di momentum jelang kemerdekaan ke-81 ini, kita jadikan sebagai ajang berbenah diri. Mari merdekakan diri kita agar tidak lagi menjadi seorang prokrastinator (penunda-nunda). Selamat membaca dan selamat bertumbuh!

baca juga :

Tinggalkan Balasan