Skip to main content

Detik-Detik Yang Tak Pernah Kembali

KHSblog.net- DETIK-DETIK YANG TAK PERNAH KEMBALI. Akhir tahun 2025 sudah tinggal tiga minggu lagi. Waktu bergulir tanpa henti. 24 jam sehari. Bagi manusia yang tak paham memaknai waktu maka pasti merugi. Untuk apa saja hari-harinya diisi. Bagaimana menutup hari dengan terus berkontribusi. Kontribusi untuk menebarkan kebaikan penuh arti. Ya jangan sampai kita kehilangan detik demi detik yang tak pernah kembali.

Berikut ini tulisan dari Ustad Satria Hadi Lubis berjudul Detik-Detik Yang Tak Pernah Kembali.

NAMANYA Rafi, usia 29 tahun. Tidak ada yang salah dengan dirinya, sehat, pintar, punya banyak ide. Yang salah hanya satu : ia selalu merasa masih punya banyak waktu.

Kata favoritnya adalah “Nanti aja…”

Setiap pagi, Rafi bangun dengan niat yang besar ; mau belajar, mau olahraga, mau memperbaiki hidup. Tapi selalu ada satu kalimat yang muncul di kepalanya : “Nanti aja.”

Nanti aja baca bukunya.
Nanti aja shalatnya.
Nanti aja mulai kerja.
Nanti aja bantu orang tua.

Dan “nanti aja” itu berubah menjadi tidak pernah.

Sebaliknya, Rafi sering hanya berniat membuka HP sebentar. “Lima menit,” Katanya.

Tapi jari-jarinya terlalu lincah untuk menyapu layar, dan tiba-tiba matahari sudah pindah posisi. Waktu makan siang pun tiba, pekerjaan belum dimulai.

Rafi tidak jahat.
Ia hanya lalai.

Saat malam, Rafi sering punya ritual yang sama setiap hari, yaitu menyesal.

Menyesal tidak shalat tepat waktu.
Menyesal tidak memulai tugas.
Menyesal tidak menelpon ibunya.
Menyesal janji pada diri sendiri tapi dilanggar.

Ia sering bertekad pada dirinya sendiri: “Besok aku pasti berubah…!”

Tapi besok, Rafi hanya mengulang pola yang sama.

Suatu hari, bosnya memanggil.
Peluang naik jabatan yang sudah di depan mata akhirnya diberikan ke orang lain.
Alasannya sederhana: “Kamu punya potensi besar, Rafi… tapi kamu sering terlambat menggunakan waktumu.”

Belum sempat ia mencerna, ayahnya sakit dan butuh dirawat di rumah.

Di saat itulah Rafi sadar…
Begitu banyak waktu yang dulu bisa ia gunakan untuk mendekat kepada orang tuanya, tapi ia memilih sibuk dengan hal-hal kecil yang tak penting.

Sejak hari itu, Rafi memutuskan satu hal : “Aku tidak mau lagi menyesal karena membuang-buang waktuku.”

Ia mulai mengisi detik-detiknya:

Shalat tepat waktu
Membaca 2 halaman buku setiap hari
Membatasi penggunaan HP
Menyelesaikan tugas sebelum deadline
Menemani ayahnya di sore hari

Mulai dari yang kecil.
Perlahan… hidupnya terasa lebih terang.

Kisah Rafi bukan kisah orang lain.
Sering kali, itu kisah kita sendiri.

Kita semua punya “nanti aja” yang mencuri detik.
Kita semua punya waktu yang hilang tanpa suara.
Dan kita semua punya kesempatan untuk berubah… selama waktu itu masih ada.

Sebelum penyesalan yang lebih besar datang.

baca juga :

Tinggalkan Balasan