Skip to main content
Gerobak pentol dan tempe penyet copy

Potret Kerja Keras Mencari SeSuap Nasi: Bapak Pentol dan Jalanan Kota

KHSblog.net . Potret Kerja Keras Mencari Sesuap Nasi: Bapak Pentol dan Jalanan Kota— Kadang, pelajaran hidup itu tidak datang dari seminar mahal atau buku motivasi tebal. Justru sering muncul dari sudut-sudut kota, dari orang-orang sederhana yang tetap bergerak meski hidup tak selalu ramah. Seperti potret seorang bapak penjual pentol ini yang sedang mendorong gerobaknya pelan di tepi jalan, tepat di depan warung penyetan yang besar dan mentereng.

Gerobak pentol dan tempe penyet copyDi tengah suasana mendung dan jalan yang masih basah, beliau tetap teguh menjalankan rutinitasnya. Gerobak kayu sederhana menjadi “kantor berjalan” yang menampung harapannya hari itu. Ada toples-toples bumbu, panci kecil, kompor hijau yang menggantung manis di samping, dan jajaran pentol yang siap dijajakan. Tak ada spanduk promo, tak ada layanan pesan antar, tak ada lampu etalase. Yang ada hanyalah langkah kaki pelan tapi pasti, berharap ada pembeli yang berhenti.

Menariknya, di belakang beliau berdiri papan nama besar “Penyetan Sambal Nostalgia”, lengkap dengan ikan warna-warni dan ikon layanan online macam GoFood, ShopeeFood, hingga GrabFood. Dua dunia berbeda dalam satu frame: satu bisnis kuliner kekinian dengan strategi digital, dan satu lagi pedagang keliling yang masih setia berjualan dari kampung ke kampung.

Namun di balik semua perbedaan itu, tujuan mereka tetap sama: mencari rezeki yang halal.

Bapak penjual pentol ini mengingatkan kita bahwa kerja keras itu tidak selalu tampak heroik. Kadang ia hadir dalam bentuk keringat yang mengalir, gerobak berat yang didorong tanpa mengeluh, dan langkah-langkah kecil yang tetap dilalui meski hujan bisa turun sewaktu-waktu. Hidup memang tidak mudah, tetapi selama masih ada keberanian untuk berusaha, selalu ada ruang untuk berharap.

Rezeki itu bukan soal besar kecilnya, tetapi soal keberkahan dan ketekunan. Dan bapak inilah salah satu dari banyak pejuang nafkah yang tiap hari mengajarkan itu lewat tindakan, bukan kata-kata.

Di tengah kota yang makin digital, ada pedagang seperti beliau yang masih setia memanggil pembeli dengan suara khas, “Pentol… pentol…” Sederhana, tapi penuh makna.

Semoga kita tidak lupa bahwa kota sepadat apa pun tetap berdiri di atas kerja keras orang-orang kecil yang jarang tersorot kamera. Dari mereka pula kita belajar tentang keikhlasan dan semangat pantang menyerah.

Semoga menginspirasi dan menambah kepekaan sosial kita semua.

Salam ora et labora… tetap semangat bekerja dan berdoa!

Artikel keseharian ringan ala KHSblog.net 🚴‍♂️📸📝

Tinggalkan Balasan