Advertisements

6 Pustaka Keliling unik di Indonesia

Budaya membaca di Indonesia bisa dibilang sudah mulai luntur. Hasil survei yang dilakukan UNESCO September 2015 menunjukkan bahwa diantara 1000 orang di Indonesia hanya 1 orang yang membaca. Hal ini sangat rendah jika dibandingkan dengan wilayah Asia dan Eropa. Di Amerika, satu penduduknya dalam setahun bisa menuntaskan membaca buku sebanyak 25 sampai 30 buah, sedangkan di Indonesia satu penduduknya hanya mampu menuntaskan satu buah buku dalam setahun. Bukan berarti di Indonesia tidak ada Perpustakaan namun sedikit orang yang berminat untuk datang. Nah dalam rangka mendekatkan perpustakaan ke masyarakat berikut 6 ide unik pusatak keliling karya aseli anak bangsa mantemans.

Buku adalah jendela dunia maka membaca buku merupakan bagian membuka dunia dengan segala informasi dan wawasan didalamnya. Pustaka Keliling perlu diacungi jempol ditengah minat rendah, alibi kesibukan serta menggugah kembali budaya membaca dikalangan generasi muda.  Berikut 6 ide unik Pustaka Keliling di Indonesia.

  1. Jamu Keliling Pustaka. Didesain oleh M. Fauzi (33), warga Desa Sukorejo, RT 09, RW 03, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sambil jualan jamu, beliau juga menjajakan buku kepada masyarakat sekitar dengan latar belakang pelajar,buruh,  karyawan dan ibu rumah tangga. Terdapat puluhan buku berbagai jenis, seperti novel, kumpulan cerpen, buku masak, hingga kamus bahasa untuk pelajar. Slogannya yang terpampang di rak jamunya cukup menantang yakni Sak iki jamane moco (sekarang waktunya membaca)Jamu Keliling Pustaka dari Sidoarjo,Jawa Timur
  2. Perahu Pustaka. Di desain oleh Muhammad Ridwan Alimuddin (36), pria kelahiran Tinambung, 23 Desember 1978 untuk membuka wawasan masyarakat di Teluk Makasar.  Perahu yang dipakai jenis Perahu Baigo. Perahu ini lambungnya cukup lebar, dan cukup aman tanpa khawatir akan kandas. Pengerjaan perahu ini pun tidak main-main, karena kayu yang digunakan Ridwan tebang sendiri di hutan, lalu dikeringkan, dan disertai upacara untuk membuat perahu bersama para nelayan di daerah Polewali Mandar.Perahu Pustaka dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat
  3. Becak Pustaka. Masih didesain sama oleh Muhammad Ridwan Alimuddin.  Becak ini diperuntukkan dikampungnya sendiri di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Becak pustaka ini mendatangi sekolah dasar (SD) saat jam istirahat dan sore hari, serta mampir secara bergiliran di empat desa di Kecamatan Balanipa (Polewali Mandar, Sulawesi Barat), yaitu : Desa Galung Tulu, Sabang Subik, Pambusuang, dan Bala.Becak Pustaka dari Polewali Mandar Sulawesi Barat
  4. Motor Pustaka. Masih merupakan ide Muhammad Ridwan Alimuddin. Perahu Pustaka diperuntukkan untuk daerah pulau, Becak Pustaka untuk daerah daratan, sedangkan Motor Pustaka diperuntukkan untuk daerah bukit dan pegunungan.Motor Pustaka dari Polewali Mandar Sulawesi Barat
  5. Kuda Poni Pustaka. Didesain oleh Ridwan Sururi (42), pria kelahiran 13 April 1973, warga RT 2 RW 3 Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah. Kuda poni pustaka ini bernama Luna yang awalnya kuda liar namun berhasil dijinakkan. Setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis, kuda pustaka ini akan berkeliling ke sekolah-sekolah setempat sambil membawa dua rak berisi berbagai jenis buku. Mulai dari majalah, buku cerita, komik, dan sebagainya. Tidak hanya mengunjungi sekolah formal, tapi sekolah informal seperti TPQ pun kuda pustaka kunjungi. Bedanya, sekolah formal dikunjung saat pagi dan siang hari, sedangkan sekolah informal dikunjungi saat sore hari.Kuda Poni Pustaka dari Purbalingga Jawa Tengah
  6. Bendi Pustaka.  Muhammad Rahmat merupakan si pembuat ide Bendi Pustaka berasal daru Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Rahmat berkeliling kampung dari desa ke desa di Kecamatan Balanipa dan Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat dengan Bendi Pustaka miliknya setiap hari, kecuali Minggu. Sasarannya sendiri ia pusatkan untuk anak-anak pedalaman yang miskin sarana belajar. Karenanya, ia biasa menyambangi sekolah dan tempat bermain anak di desa yang ia kelilingi. Ia pun melengkapi Bendi Pustaka miliknya dengan membawa peralatan kesenian tradisional Calon, dengan tujuan agar kegiatan membaca para anak tidak membosankan dan alat tersebut bisa jadi pengalihan pembelajaran dikala anak-anak mulai bosan membaca.

Bendi Pustaka dari Polewali Mandar Sulawesi BaratGimana mantemans sudah tahu kan 6 pustaka keliling unik karya anak bangsa?. Meskipun bisa dibilang masih jauh dari sempurna namun semangat untuk menumbuhkan kembali budaya membaca patut diacungi dua jempol.  Terlebih ditengah kondisi anak-anak yang lebih menyukai bermain handphone, netbook, menonton tv, dibandingkan membaca buku.

Semoga menginspirasi mantemans di pelosok tanah air untuk menyalakan kembali api cinta gemar membaca!

sumber : agan enda.roses

Maturnuwun

———————

Advertisements

About khsblog

Manusia yang sedang belajar menjadi Ayah bagi 2 buah hatinya. Tinggal di altar suci Sunan Giri dengan makanan khas Nasi Krawu dan camilan Pudak. Tunggangan setia yakni Milestone dan MT-03...ini alternatif personal blog dari www.setia1heri.com I @ setia1heri I kangherisetiawan@gmail.com

Posted on 2 January 2016, in justinpoh and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. iya..sekarang gadget lebih disukai anak-anak..

    Like

  2. skita tunggu diskotik pusataka :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: