Skip to main content

Saat Kemudahan Menguji Hati: Menemukan Kedekatan dengan Allah di Kala Sulit

KHSblog.net- Saat Kemudahan Menguji Hati: Menemukan Kedekatan dengan Allah di Kala Sulit. Pernahkah kita menyadari bahwa momen-momen paling khusyuk dalam hidup sering kali tercipta bukan saat kita berada di puncak keberhasilan, melainkan saat kita terbentur oleh kenyataan yang menghimpit? Ketika hidup terasa berjalan sangat mulus, tanpa ujian berarti, ada bahaya halus yang mengintai: kemanjaan jiwa yang membuat kita perlahan melupakan nikmatnya bersujud

Kalau semuanya mudah, bisa jadi kita akan lupa caranya berdoa. Sebuah refleksi A to Z perjalanan kehidupan memperlihatkan bahwa kalau semua berjalan sesuai keinginan, mungkin kita tidak lagi punya banyak alasan untuk menangis dalam sujud. Tidak lagi sering mengangkat tangan dengan hati yang benar-benar merasa butuh. Tidak lagi datang kepada Allah dengan perasaan: “Ya Allah, hanya Engkau yang bisa nolongin aku. Aku ga ngerti. Tolong bantuin aku. Hanya kepada-Mu aku bersandar.”

Padahal, ada banyak kedekatan dengan Allah justru lahir dari keadaan yang tidak mudah.

Saat semua pintu terasa tertutup, semua jalan terasa buntu, dan bingung mesti bagaimana lagi, pada akhirnya kita belajar untuk mengetuk pintu-Nya. Saat merasa di titik tidak tahu harus cerita ke siapa, akhirnya kita menemukan tempat paling aman untuk mencurahkan semuanya. Saat merasa tidak mampu mengendalikan keadaan, kita belajar untuk menyerahkan apa yang memang bukan kuasa kita.

Kondisi ini sejalan dengan apa yang Allah tetapkan dalam Surah Al-Ankabut ayat 2:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Ujian dan kesukaran hadir bukan sebagai bentuk kemurkaan, melainkan undangan lembut dari Allah agar hamba-Nya kembali mendekat. Rasulullah SAW juga mengingatkan betapa indahnya keimanan seorang mukmin dalam setiap keadaan:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik… Jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka itu adalah baik baginya.” (HR. Muslim)

Mungkin yang membuat hati benar-benar kering bukan ruwetnya hidup dengan banyak masalah, melainkan ketika hidup terasa cukup, sementara hubungan dengan Allah perlahan menjadi jauh. Kita masih bisa tertawa, beraktivitas, dan kelihatan baik-baik saja. Tapi sebenarnya, kita sedang kehilangan sesi-sesi intim (intimate) dengan Allah. Tidak lagi merasa perlu berlama-lama dalam doa. Duh.

Oleh karena itu, jangan hanya berdoa: “Ya Allah, mudahkan hidupku.” Tapi berdoalah: “Ya Allah, jangan jadikan kemudahan membuatku jauh dari-Mu.”

Pada akhirnya, kesulitan bukanlah musuh yang harus dibenci, melainkan cermin yang memantulkan kembali seberapa besar ketergantungan kita kepada Sang Pencipta. Ketika kemudahan berpotensi menidurkan jiwa, kesukaran hadir untuk membangunkan kita kembali pada hakikat hamba yang selalu membutuhkan Tuhannya. Semoga setiap helai ujian yang menyapa tidak membuat kita patah, melainkan membimbing langkah kita pulang menuju tempat bersujud yang paling tenang.

(Tulisan inspirasi dari laman Instagram Teh @dara_dharmayanti)

baca juga :

Tinggalkan Balasan