Skip to main content

Menjemput Cahaya di Tengah Kegelapan: Saat Satu Ayat Al-Qur’an Mengubah Jalan Hidup

KHSblog.net- Menjemput Cahaya di Tengah Kegelapan: Saat Satu Ayat Al-Qur’an Mengubah Jalan Hidup. Seberapa gelap pun jalan hidup yang sedang kita tempuh hari ini, jangan pernah ragu untuk mendekati Al-Qur’an. Sering kali kita terjebak dalam rasa bersalah dan pemikiran bahwa kita harus menjadi orang bersih dan sempurna terlebih dahulu baru pantas menyentuh kalam-Nya. Padahal, Al-Qur’an turun bukan hanya untuk mereka yang sudah suci, melainkan sebagai penawar dan petunjuk bagi jiwa-jiwa yang sedang tersesat dan merindukan arah pulang.

Allah SWT berfirman mengenai peran utama Al-Qur’an dalam mengangkat manusia dari kegelapan dosa menuju indahnya hidayah:

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim: 1)

Kita tidak pernah tahu ayat mana yang dipilih Allah SWT untuk menyapa Sanubari dan menjadi titik balik perubahan hidup kita. Kisah perjalanan hidup Fudhail bin Iyadh adalah bukti nyata bagaimana hidayah bisa merengkuh siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Sebelum dikenal sebagai ulama besar, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok ulung yang sangat ditakuti. Ia biasa mencegat para pedagang dan musafir yang melintas di kawasan antara Abyurd dan Sarkhas (wilayah Samarkand, Uzbekistan). Namanya menebarkan ketakutan, dan hidupnya jauh dari kata baik. Namun, takdir Allah atas perjalanan hidup Al-Fudhail belum usai.

Suatu malam, didorong oleh rasa sukanya pada seorang wanita, ia berniat memanjat tembok rumah wanita tersebut. Di tengah kesunyian malam itu, tanpa sengaja ia mendengar bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)…(QS. Al-Hadid: 16)

Hanya satu ayat. Namun, kalimat Ilahi itu meluncur meresap hingga ke relung hatinya yang paling dalam. Seketika itu pula hatinya bergetar dan ia memantapkan diri untuk bertaubat malam itu juga.

Dalam perjalanan pulangnya, ia bermalam di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Di sana, ia mendengar percakapan rombongan musafir yang sedang ragu melanjutkan perjalanan. Mereka berkata, “Kita tunggu sampai pagi saja, karena Fudhail biasanya beroperasi di jalan ini. Kita bisa dirampok olehnya.”

Mendengar betapa besarnya ketakutan masyarakat terhadap dirinya, hati Al-Fudhail semakin terenyuh dan terguncang. Rasa penyesalan mendalam merobek kesombongannya. Di situlah ia bulatkan tekad: “Aku harus berubah total.”

Al-Fudhail pun bertobat nasuha dan meninggalkan masa lalunya. Berkat ketekunan dan kesucian niatnya, ia kelak tumbuh menjadi salah satu ulama besar yang terkenal zuhud, wara’, dan sangat menjaga kehormatan dirinya. Seorang penjahat yang dahulu ditakuti banyak orang, bertransformasi menjadi wali Allah hanya karena hatinya disentuh oleh satu ayat Al-Qur’an.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan orang yang belajar dan berinteraksi dengan Al-Qur’an:

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari no. 5027)

Mungkin selama ini kita merasa perlu menjadi baik dulu baru berani mendekati Al-Qur’an. Padahal bisa jadi, justru berawal dari keberanian mendekat pada Qur’an itulah hidup kita perlahan dipulihkan dan diperbaiki. Jangan menunggu hati bersih untuk membaca Al-Qur’an, tetapi datanglah kepada Al-Qur’an agar hati kita dibersihkan.

Al-Qur’an adalah perkataan Allah (Kalamullah). Jangan pernah meremehkan satu halaman yang kita baca, satu ayat yang kita tadabburi, atau sedikit waktu yang kita sisihkan di tengah kesibukan. Kita tidak pernah tahu ayat mana yang akan menjadi pemantik perubahan terbesar dalam hidup kita.

Dekat dengan Al-Qur’an bukanlah beban yang memberatkan, melainkan nikmat tertinggi bagi jiwa. Jika hari ini melangkahkan kaki terasa berat dan hati terasa mengeras, mulailah dengan membuka mushafnya. Baca walau hanya satu ayat dengan perlahan, lalu bermohonlah kepada Allah agar hati kita senantiasa dilembutkan untuk terus berdampingan dengan Al-Qur’an.

Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi bersama Esensi Muslimah Circle dan Teh @dara_dharmayanti.

Semoga Allah senantiasa menjaga dan memeluk kita dalam setiap kesibukan yang mendekatkan diri kepada-Nya.

baca juga :

Tinggalkan Balasan