Skip to main content

Menjadikan Rasa Kurang Sebagai Bahan Bakar untuk Bertumbuh

KHSblog.net- Menjadikan Rasa Kurang Sebagai Bahan Bakar untuk Bertumbuh. Pernahkah Anda merasa melangkah terlalu lambat dibanding orang-orang di sekitar Anda? Di era yang serba cepat ini, melihat pencapaian orang lain sering kali memicu hadirnya perasaan tertinggal, tidak tahu banyak hal, belum mampu, atau bahkan merasa menjadi pihak yang gagal. Perasaan-perasaan seperti ini sangat wajar dan manusiawi. Namun, sudut pandang kita terhadap perasaan tersebutlah yang akan menentukan arah langkah berikutnya.

Rasa kurang tidak selalu berarti buruk. Jika disikapi dengan bijak, perasaan tersebut justru dapat menjadi bahan bakar yang ampuh untuk mendorong diri kita bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Merasa Ketinggalan? Gapapa ketika diri ngerasa ketinggalan banyak hal. Karena rasa itu bisa jadi menstimulus kita buat segera ngejar ketertinggalan.

Perasaan tertinggal dapat menjadi alarm positif yang membangkitkan kesadaran untuk segera bergerak. Allah SWT menuntun hamba-Nya untuk tidak berlarut dalam penyesalan, melainkan bergerak cepat menuju kebaikan:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

  • Merasa Tidak Tahu Banyak Hal? Gapapa ketika diri ngerasa ga tau banyak hal. Karena rasa itu bisa jadi menstimulus kita buat terus belajar.

Menyadari keterbatasan ilmu adalah pintu awal terbukanya pemahaman baru. Menuntut ilmu merupakan ikhtiar seumur hidup yang bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

  • Merasa Belum Mampu? Gapapa ketika diri ngerasa belum mampu. Karena rasa itu bisa jadi menstimulus kita buat terus berlatih.

Ketidakmampuan hari ini bukanlah kondisi permanen, melainkan proses yang membutuhkan konsistensi dan latihan. Allah SWT berfirman mengenai pentingnya kesabaran dan perjuangan:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

  • Merasa Gagal? Gapapa ketika diri ngerasa gagal. Karena rasa itu bisa jadi menstimulus kita buat cari tau apa yang perlu diperbaiki.

Kegagalan adalah media evaluasi berharga untuk menemukan celah yang harus diperbaiki. Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya bersikap sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah:

“Semangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)

Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam proses pendewasaan dan pembelajaran bukanlah rasa kurang, melainkan rasa jumawa. Karena seringkali yang membuat kita berhenti bertumbuh bukan karena merasa kurang, tapi karena merasa “sudah”.

Ketika seseorang merasa “sudah cukup”, “sudah pintar”, atau “sudah sukses”, saat itulah ia berhenti belajar dan memperbaiki diri. Sebaliknya, penerimaan terhadap rasa kurang yang diiringi ikhtiar akan menjaga kerendahan hati dan merawat semangat untuk terus membenahi diri setiap hari. Jadikan setiap perasaan tidak nyaman tersebut sebagai panggilan untuk bertumbuh mendekatkan diri kepada-Nya.

(Inspirasi tulisan dari laman Instagram Teh @dara_dharmayanti)

baca juga :

 

Tinggalkan Balasan