KHSblog.net- Reward Beasiswa Tahfidz: Perjalanan, Kebersamaan, dan Pelajaran Berharga. Selasa, 28 April 2026. Jarum pendek jam menunjukkan angka pukul 10.00 WIB kurang, menunggu siswa-siswi beasiswa tahfidz untuk turun ke aula dan berkumpul. Pagi yang menjelang siang hari itu, siswa-siswi mendapatkan reward atas lelahnya memuraja’ah surat demi surat Al-Qur’an, melakukan ikhtiar jalur langit, dan setiap ayat-ayat yang dilantunkan setiap hari sebelum hari beasiswa tiba.
Semua siswa-siswi mendengarkan arahan ustadz/ustadzah. Tampak dari raut wajah mereka, terlihat senang dan antusias dengan teman seperjuangan mereka. Yuk, simak lanjutan tulisan aliran rasa Pradipta Setyana Syifa kelas 6B SDIT Permata Surabaya.

Aku berada di bemo 4, bersama dengan an-nisa’ (siswa perempuan) kelas 6 yang ikut beasiswa. Dan kegiatan itu kami awali di bemo dengan muraja’ah juz 30 awal, surat An Naba’. Total ada 6 surat yang sudah kami muraja’ah, sambil menikmati perjalanan diiringi angin sepoi-sepoi yang masuk.
Sampai di Food Junction Banjarsugihan Surabaya, kami menunggu beberapa menit untuk masuk. Sambil menunggu, ustadz dan ustadzah memberi kami uang jajan, di dalam amplop putih itu. Cukup untuk kami membeli camilan, makanan,dan minuman.
Sambil menunggu adzan dhuhur, semua siswa-siswi sibuk mengelilingi Food Junction, ada yang membeli makan, membeli barang-barang yang dibutuhkan, dan menunggu pesanannya jadi. Aku, dan 2 teman (Aira, Tasya) berkeliling, melihat-lihat apa yang mau kami beli. Dan kami memutuskan untuk membeli camilan saja, padahal saya belum sarapan pagi. Hehe.

Kami bertiga berkeliling lagi, mencari minuman sambil menunggu pesanan camilan kami jadi. Dan, kami juga membeli minuman yang sama, kalau saya sih ikut-ikutan aja yang penting enak dan harganya masuk dompet saya. “Aku udah pernah beli ini Dip, enak banget! Percaya sama aku ini minumannya uenakk poll!!” kata Aira yang menunjukkan dia percaya bahwa minumannya enak. Aku yakin saja, dan memang aku ikut karena rekomendasi temanku.

Di meja, kami berbincang-bincang. Topik obrolannya random, dan tidak menentu.sambil menikmati hangatnya camilan gurih kita bertiga, minuman yang manis dan segar. Lalu, kami bertiga juga disuruh teman an-nisa’ kelas 6 yang lain (Shofa,Inara) untuk menghabiskan makanan mereka. Memang sih, dari yang kulihat porsinya banyak banget! Dan kami mendadak jadi sukarelawan penghabis makanan.
Waktu sholat dzhuhur tiba, siswa-siswi berjalan menuju tempat sholat yang ada disitu.

Seusai sholat, kami langsung menuju ke bioskop. Dan memesan popcorn. Lalu, masuk ke XXI.
Awalnya, kami bertiga masih duduk dengan tertawa, tidak sabar untuk melihatt filmnya, masih sok kuat dan tidak mungkin menangis. Menunggu, sembari memakan popcorn yang kita beli.
Lalu, saat filmnya akan dimulai, rasa berdebar menyelimuti hatiku. Pasti nanti aku nangis. Pertengahan film, satu persatu tetes air mata mulai turun, membasahi pipiku. Popcorn yang tadinya manis, menjadi pahit.

Melihat 2 anak yang ayahnya masih ada, tapi seolah perannya tidak ada. Melihat anak sulung perempuan yang dulu masih takut dengan dunia luar, dan ayahnya adalah pelindung di waktu kecilnya. Pelukan hangatnya, kebersamaannya, dan senda guraunya. Dira, Darin. Kalian benar-benar sekuat itu.
Tapi semua berubah, saat anak sulung perempuan itu dewasa dan adik laki-lakinya, Darin. Benar-benar berubah total.
Pertengahan film, aku menangis bersama 2 teman ku. Ku luapkan semua disini. Sesenggukan, nangis lagi, sesenggukan, nangis lagi. Repeat. Kami bertiga, saling meminjamkan bahu di kegelapan. Dan, aku melihat sisi rapuhmu sekarang, sisi yang jarang kau tunjukkan.
Mungkin ngerasa relate kali ya…? dan mungkin ada pesan yang tak sempat ku sampaikan kepada seseorang. Ada rasa rindu pelukan hangatnya, tawa lebarnya bersamaku, sholat maghrib berjama’ah, dan telur ceplok yang gosong. Abi, sang pemimpin di keluargaku.
Kami saling bersandar, menguatkan.
Film menguras air mata. Ayah, Ini Arahnya Ke mana, Ya?

Sebuah film yang terasa sepeti pelukan, genggaman, dan penguat. Terutama untuk anak perempuan pertama di luar sana.
Diakhir film, para an-nisa’ termasuk ustadzah menangis sejadi-jadinya. An-nisa’ keluar studio dengan mata yang sembab. Dan masih terbayang-bayang beberapa scene film yang ngena dihati mereka.
Benar-benar, jika dunia tanpa peran ayah, apa jadinya ya?
Aku juga ngerasa relate sama beberapa kata yang ada di film itu. Terimakasih untuk ayah yang tidak bercerita, tapi selalu berusaha ada untuk kita.
“Aku ga butuh ayah yang sempurna. Aku cuman butuh ayah ada.” –Dira dan Darin.
baca juga :