KHSblog.net- Mengukur Kebenaran di Era Materialisme: Membedah Kekayaan dan Persahabatan Lewat Surah Az-Zukhruf. Di era modern saat ini, materi sering kali diagung-agungkan secara berlebihan. Barang branded, kendaraan mewah, hingga jumlah pengikut di media sosial seolah-olah menjadi tolok ukur utama untuk menentukan derajat dan posisi sosial seseorang. Fenomena ini tanpa sadar menggiring masyarakat pada persepsi yang keliru: menganggap bahwa orang yang kaya dan populer pasti berada di pihak yang benar.
Lantas, bagaimana Al-Qur’an memandang harta, kekayaan, dan standar kebenaran yang hakiki?

Harta sebagai Titipan, Bukan Ukuran Kemuliaan
Islam mengajarkan bahwa seluruh isi alam semesta adalah milik Allah SWT semata. Segala kemudahan hidup yang kita nikmati—termasuk kendaraan yang kita naiki setiap hari—harus dimaknai sebagai bentuk nikmat dan kasih sayang-Nya. Manusia tidak memiliki daya untuk menundukkan itu semua tanpa izin dari Sang Pencipta.
Namun, kenikmatan harta benda bersifat sementara (fana). Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia hingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal. Kita tidak boleh menjadikan kekayaan atau kepopuleran seseorang di sekitar kita sebagai parameter kebenaran. Standar kebenaran agama adalah nilai-nilai agama itu sendiri, yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bukan ditentukan oleh status sosial pemeluknya.
Allah SWT menegaskan betapa murahnya nilai dunia di mata-Nya melalui firman-Nya:
“Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, loteng-loteng rumah mereka dari perak dan tangga-tangga (perak) yang mereka naiki.” (QS. Az-Zukhruf: 33)
Ayat di atas menjadi tamparan keras bagi kita. Seandainya Allah tidak mengkhawatirkan seluruh manusia akan tergiur lalu menjadi kafir, Allah sangat sanggup melimpahkan rumah beratap perak, emas, dan perhiasan melimpah kepada orang-orang yang ingkar. Hal ini membuktikan bahwa melimpahnya harta di dunia bukanlah tanda ridha atau kecintaan Allah kepada seseorang.

Jangan Jadikan Kekayaan Standar Persahabatan
Kedudukan harta yang keliru juga sering kali merusak tatanan relasi sosial. Tidak sedikit orang yang memilih lingkaran pertemanan hanya berdasarkan tingkat ekonomi dan gaya hidup. Padahal, persahabatan yang dibangun atas dasar keuntungan materi belaka akan hancur ketika masa di dunia berakhir.
Allah SWT mengingatkan tentang hakikat hubungan antarmanusia di hari kiamat kelak:
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Persahabatan sejati tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari ketakwaan. Hal ini sejalan dengan penegasan Rasulullah SAW mengenai kriteria mulia seorang hamba di hadapan Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, melainkan Dia melihat kepada hati dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2564)
Meluruskan Kembali Pandangan Hidup
Kaya atau miskin hanyalah ujian peran dalam kehidupan dunia, bukan standar mulia atau hinanya seseorang, apalagi standar kebenaran. Mari kita luruskan kembali orientasi hidup dengan menjadikan ketakwaan sebagai timbangan utama dalam menilai diri, memandang orang lain, serta memilih sahabat dalam mengarungi kehidupan. Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang silau oleh kilauan dunia hingga melupakan akhirat.
(Inspirasi tulisan disadur dari pemikiran Teh @dara_dharmayanti melalui unggahan laman Instagram beliau).
baca juga :