KHSblog.net- Langkah Mula Sang Garuda Muda: Cerita Brigasma Menjemput Piala Di Panggung Pertama. Riuh rendah Central Mall Gunawangsa Tidar hari itu terasa berbeda bagi kami. Hari Minggu, 24 Mei 2026, menjadi saksi sejarah yang tidak akan pernah kami lupakan. Untuk pertama kalinya, Brigasma (tim paskibra SMA Islam Al-Mizan Surabaya) melangkahkan kaki ke arena kompetisi. Kami menantang diri dalam Lomba Keterampilan Baris-Berbaris (LKBB) yang diselenggarakan oleh Kartapati Battle Series.

Sebagai pendatang baru, perjalanan menuju lapangan perlombaan ini bukanlah perkara mudah. Sebulan sebelum peluit pertama berbunyi, kami sudah duduk melingkar bersama Kak Wardani, Kak Barly, dan Kak Rafi para pelatih hebat dari tim Kartapati. Kami merancang strategi: menghitung personel yang siap berkomitmen, patungan uang pendaftaran, hingga menyusun jadwal latihan yang menguras keringat.
Dinamika satu bulan itu layaknya roller coaster. Di minggu pertama, kami masih berlatih santai sesuai jadwal rutin hari Selasa. Memasuki minggu kedua, intensitas mulai naik dengan tambahan satu hari latihan demi menyamakan tempo langkah. Ujian datang di minggu ketiga; latihan sempat rehat total karena anggota tim yang tidak lengkap. Namun, badai itu kami bayar tuntas di minggu keempat. Lima hari berturut-turut, kami memeras keringat, memantapkan formasi, dan mengunci setiap gerakan hingga benar-benar matang.

Ketegangan di Balik Kostum dan Riasan
Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika kami bertolak dari sekolah. Bersama rekan-rekan dari Pondok Pesantren Darul Muttaqin, kami membelah jalanan kota menggunakan bemo. Setibanya di lokasi, tidak ada waktu untuk bersantai. Kami langsung mencuri waktu untuk berlatih kilat sebelum bergeser ke basecamp.
Saya mendapat kehormatan untuk mengikuti apel pembukaan bersama lima orang teman lainnya. Di sana, jantung rasanya berdetak dua kali lebih cepat saat mengetahui fakta bahwa kami mendapatkan nomor urut 23 dari total 26 tim yang berasal dari 10 sekolah. Sembari menunggu giliran, kami bergegas merias wajah dan mengenakan kostum kebanggaan.
Saat waktu tampil kian mendekat, ketegangan makin memuncak di area latihan terakhir. Jujur, rasa gugup dan takut sempat menyergap dada. Ada bisikan cemas di kepala: bagaimana jika saya melakukan kesalahan dan merusak nilai pasukan?
Namun, sebelum melangkah ke karpet hijau, kami menyempatkan diri berfoto di depan deretan piala yang berjejer rapi dan berkilauan. Kilau trofi itu seolah membakar kembali sisa-sisa keberanian kami.
Sampai akhirnya, suara lantang panitia memecah lamunan, “Waktu dimulai!”

Penampilan Terbaik dan Kejutan yang Manis
Langkah tegap, pandangan lurus ke depan, dan aba-aba yang menggelegar. Semua ketakutan luruh berganti fokus. Begitu komando “bubar jalan” diteriakkan menandai akhir dari penampilan, gemuruh lega langsung melingkupi kami. Di belakang panggung, kami saling merangkul dan memberi semangat, tahu bahwa kami baru saja memberikan seluruh jiwa kami di atas lapangan.
Di lantai dua mall, Kak Barly sudah menyambut kami dengan senyum lebar. “Tadi adalah penampilan terbaik kalian,” ujarnya bangga.
Tidak lama berselang, Kak Wardani memberikan wejangan yang menenangkan sekaligus membakar motivasi. “Jangan berpuas diri dulu. Kita tidak akan berkembang lebih jauh jika langsung puas sekarang,” pesan beliau. Kami pun merapatkan barisan, membuat lingkaran kecil, dan menyorakkan jargon Brigasma dengan sisa tenaga yang ada.

Setelah membersihkan riasan, bersantap siang, dan menunaikan salat Zuhur di mushola, momen yang mendebarkan itu pun tiba: pengumuman juara.
Juara 2 Mula, Dimenangkan Oleh SMA Islam Al-Mizan
Suara pengeras suara itu bak petir di siang bolong. Kami terkejut, lalu seketika bersorak-sorai gembira. Untuk sebuah tim yang baru pertama kali mencicipi lantai kompetisi LKBB, menempati posisi juara tengah adalah sebuah prestasi yang luar biasa bagi kami.
Uniknya, kemenangan ini kami rayakan bersama teman-teman dengan cara yang tidak biasa: push-up 20 kali! Mengapa? Karena hari itu kami berhasil membawa pulang dua piala sekaligus.

Hari pun beranjak sore. Setelah puas berfoto ria dan menyelesaikan pembuatan video transisi latihan untuk media sosial, kami melangkah pulang menuju sekolah. Tidak ada lagi rasa gugup yang tersisa, yang ada hanyalah rasa bangga yang memenuhi dada. Langkah awal Brigasma telah diukir, dan ini barulah sebuah permulaan. (BSR)

baca juga :