KHSblog.net- Ayah Handal yang Multi Fungsi. Ayah, sebagai pemimpin di rumah seringkali diidentikkan hanya sebagai pemenuh kebutuhan perekonomian keluarga. Kita semua melupakan peran ayah sebagai pembimbing, pelindung, pengasuh dan pendidik anak.

Peran sebagai pemimpin tidaklah mudah. Semua yang kita pimpin merupakan amanah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak di kemudian hari, Rasulullah bersabda:
“Siapapun hambanya yang Allah percayakan memimpin rakyat, terus dia tidak berupaya sungguh menasihatinya, maka dia tidak mendapatkan wangi surga,” (HR. Bukhari)
“Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak- anaknya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaq’alaih)
Setiap diri kita ternyata pemimpin. Bahkan seorang pembantu yang menjaga rumah kita termasuk pemimpin, ia pun bertanggung jawab terhadap hasil kepemimpinannya yaitu keselamatan harta kita dan keselamatan penjagaan anak kita yang kita titipkan kepadanya.
Sungguh segala daya dan upaya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta. Tak terkecuali hasil kepemimpinan seorang laki-laki atas istri dan anak-anaknya.
Begitu berat tanggung jawab seorang pemimpin tidak terkecuali seorang ayah di tengah keluarganya. Yang terpenting ayah hendaklah ikut terlibat dalam upaya pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya.
Anak bukan hanya seonggok daging. Anak tidak hanya membutuhkan makan supaya bisa hidup. Anak membutuhkan bimbingan dan arahan sebagai peletak dasar mental, pikir, sikap serta perilaku yang akan dibawanya hingga akhir hayat.
Sungguh benar sabda Rasulullah, suatu ketika ada seseorang yang datang dan menanyakan peran orang tua maka Rasul pun menjawab:
“Mereka itu (yang menyebabkan) surga atau nerakamu.”
Sebagai seorang pemimpin ayah wajib memimpin keluarganya. Memimpin di sini bisa diibaratkan sebagai peran sentral dalam membuat kebijakan, mendorong tiap anggota untuk bersikap dan berperilaku sesuai kebijakan tersebut dan melakukan supervisi sehingga penyimpangan bisa diminimalisir.
Peran sebagai pemimpin menuntut pengorbanan yang lebih dari segi biaya waktu serta tenaga. Memang sangat memerlukan kesadaran ayah dalam hal menerima peran yang satu ini.
Keyakinan kebanyakan para ayah masa kini yang hanya sebagai pemenuh kebutuhan perekonomian keluarga saja, mulai bergeser. Para ayah mulai ikut berkiprah di dalam rumah.
Pada mulanya mungkin dalam diri mereka timbul rasa malu namun seiring dengan bergesernya paradigma masyarakat tentang pengasuhan anak maka rasa malu ini mulai terkikis.
Memang kebanyakan laki-laki hanya dipersiapkan sebagai pencari nafkah saja. Namun sekarang, banyak yang mulai sadar perannya sebagai pendidik, pembimbing, pengasuh dan pengarah langkah anak.
Hal ini mengingatkan kembali tentang sejarah hidup tokoh-tokoh besar, ternyata proses pembentukan karakter dan keahlian si tokoh banyak ditentukan oleh peran ayah walaupun tanpa menihilkan peran ibu.
Misalnya dalam kisah hidup Imam Syafi’i. Beliau ditinggal ayahnya wafat ketika berusia 6 tahun. Namun di sini ada transfer ilmu dari ayahnya ke ibunya ibaratnya ‘isi kepala’ sang ayah sudah dipindahkan ke ‘kepala’ sang ibu.
Sang ayah menentukan visi dan sang ibu membangun kerangkanya. Demikian juga dengan Rasulullah yang telah ditinggal wafat ayah ibunya, peran ayah digantikan oleh kakek dan pamannya.
#ayah #parenting #ayahhandal #keluarga #challenge #writingchallenge #60HMB #day3
baca juga :
[display-posts tag = ayah]