Advertisements

Sejarah Orang Samin, ajaran dan budayanya

Sejarah orang Samin, ajaran dan budayanya. Orang Samin adalah mereka keturunan atau pengikut ajaran Samin Surosentiko. Wong Sikep adalah sebutan lain pengikut ajaran Samin. Mereka hidup di sekitar Bojonegoro, Ngawi, dan Blora yang ada di pegunungan Kendeng. Penasaran dengan sosok yang seringkali memakai busana hitam ini? Monggo disimak Sejarah orang Samin, ajaran dan budayanya.


Sejarah Orang Samin, ajaran dan budayanyaORANG SAMIN

Orang Samin (disebut juga Pergerakan Samin, Ajaran Samin, atau Saminisme) adalah salah satu kelompok masyarakat yang ada di wilayah Blora Jawa Tengah dan sekitarnya, dan Bojonegoro Jawa Timur dan sekitarnya. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang memegang ajaran “Sedulur Sikep”, dimana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak dan menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun Jepang. Sikap masyarakat Samin, bahkan hingga sekarang, sering dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.

Masyarakat Samin juga mengisolasi diri, hingga pada tahun ’70-an mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin tersebar di kawasan perbatasan Jawa Tengah (Blora, Kudus, Pati) dan Jawa Timur (Ngawi dan Bojonegoro). Mereka tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi.

Kelompok Samin lebih suka disebut “Wong Sikep” (Orang Sikep) daripada “Wong Samin” (Orang Samin), karena kata “Samin” bagi mereka mengandung makna negatif (bodoh, tidak kooperatif, suka membangkang, tidak sopan, dan lain-lain). Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, terbelakang, berperilaku menyimpang, dan acap menjadi olok-olok serta bahan lelucon.

Ajaran Samin

Pokok ajaran Samin berasal dari Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kediren, Randublatung pada tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan oleh Belanda ke Padang pada tahun 1914.

Pengikut Samin mempunyai lima ajaran:

  • – tidak bersekolah,
  • – tidak memakai peci, tapi memakai “iket”, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,
  • – tidak berpoligami,
  • – tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut,
  • – tidak berdagang, dan
  • – penolakan terhadap kapitalisme.

samin surosentiko pendiri ajaran saminPenyebaran

Ajaran Samin tersebar pertama kali di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya, mulai dari pantai utara Jawa, sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, atau di sekitar perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pokok-pokok Ajaran Samin

Pokok ajaran Samin adalah sebagai berikut:

  • – Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
  • – Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang lain.
  • – Bersikap sabar dan jangan sombong.
  • – Manusia hidup harus memahami kehidupannya, sebab hidup adalah sama dengan roh, dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah mati, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
  • – Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.

Kebudayaan

Sebagaimana paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki “kitab suci”, yaitu Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa kitab, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan Serat Lampahing Urip. Kitab-kitab tersebut amat populer dan dimuliakan oleh orang Samin.

Ajaran dalam kitab Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa.

Dengan mempedomani isi kitab itulah, orang Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap “drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren.” (dengki serakah, perang mulut, iri hati). Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokale dilakoni” (Jalanilah sikap sabar dan upaya. Sabarnya diingat-ingat. Upayanya dijalankan)080395600_1460605525-Kaum_Samin

Sikap

Walaupun masa penjajahan Belanda dan Jepang telah berakhir, orang Samin tetap menilai pemerintah Indonesia saat itu tidak jujur. Oleh karenanya, ketika menikah mereka tidak mencatatkan dirinya, baik di Kantor Urusan Agama/(KUA), atau di catatan sipil. Secara umum, perilaku orang Samin sangat jujur dan polos tetapi kritis.

Bahasa

Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa (kromo inggil, boso, dan ngoko). Bahasa yang dipakai hanya bahasa Jawa ngoko. Bagi mereka, menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.

Pakaian

Pakaian orang Samin biasanya berupa baju warna hitam lengan panjang tanpa kerah. Laki-laki memakai ikat kepala. Untuk wanitanya, kebaya lengan panjang, berkain sebatas di bawah lutut atau di atas mata kaki.

Sistem Kekerabatan

Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya. Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah kakek atau nenek.

Hubungan ketetanggaan, baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin, terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan, masyarakat Samin memiliki tradisi saling berkunjung, terutama pada saat ada keluarga yang mempunyai hajat, sekalipun tempat tinggalnya jauh.

Pernikahan

Menurut orang Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya, perkawinan merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja Tama” (anak yang mulia).

Dalam perkawinan, pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan ‘syahadat’, yang berbunyi kurang lebih: “ Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama …. Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”

Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin.

Ajaran perihal perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut:

Saha malih dadya garan,
(Maka yang dijadikan pedoman,)

anggegulang gelunganing pembudi,
(untuk melatih budi yang ditata,)

palakrama nguwoh mangun,
(pernikahan yang berhasilkan bentuk,)

memangun traping widya,
(membangun penerapan ilmu,)

kasampar kasandhung dugi prayogantuk,
(terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai,)

ambudya atmaja ‘tama,
(bercita-cita menjadi anak yang mulia,)

mugi-mugi dadi kanthi.
(mudah-mudahan menjadi tuntunan.)

sedulur sikep samin karangpace bloraSikap Terhadap Lingkungan

Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif, mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan, dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional, maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (apa yang akan ditanam), mereka hanya berdasarkan musim saja, yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.

Pemukiman

Pemukiman masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam satu deretan rumah-rumah agar memudahkan untuk berkomunikasi. Rumah tersebut terbuat dari kayu terutama kayu jati dan juga bambu, jarang ditemui rumah berdinding batu bata. Bangunan rumah relatif luas dengan bentuk limasan, kampung, atau joglo. Penataan ruang sangat sederhana dan masih tradisional, terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak agak jauh, dan biasanya digunakan oleh beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar di samping rumah.

Upacara dan Tradisi

Upacara-upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain “nyadran” (bersih desa) sekaligus menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat, dan tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup, yaitu kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana.

Masyarakat Samin Saat Ini

Perubahan zaman juga berpengaruh terhadap tradisi masyarakat Samin. Mereka saat ini sudah menggunakan traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian, serta menggunakan peralatan rumah tangga dari plastik, aluminium, dan lain-lain. Mereka juga menyekolahkan anak-anaknya.

(Sumber: Wikipedia dan sumber lain. Foto dari Google)

#InfoHitters
#BudayaHitters
#SejarahHitters

Sumber : Iqbal >grup facebook ‎Hits From The 80’s & 90’s [30/7/2018]

ajaran saminBeberapa warganet menanggapi postingan yang diunggah oleh Iqbal tersebut. “Pedoman hidup yang sangat bagus perlu di les tarikan .dengan perkem bangan agama dan budaya sekarang lebih bagus .sewaktu sy kecil sampai sekarang kehidupan di dae rahku di Blora.Randubla.tung masih terasa apalagi anak anak di sana sdh.seko.lah maka peradapan tam bah lebih baik berpegang pada etika dan wawasan ilmu dari dunia pendidi kan sempurnalah peradapan yang bermartabat dan ber wawasan.semoga tetap lestari dan lebih maju lagi.” terang Suwar Jono.

Beberapa warganet lain menambahkan deretan orang hebat di negeri ini yang berasal dari keturunan orang Samin. “Tokoh2 kelahiran di kawasan suku samin, cepu blora..: jendrl LB moerdani, jendrl ALI moertopo, mentri agama mukti ali, budayawan pramodya ananta toer, mas sutardjo kertohadikusumo( gub jabar 1),marcodikromo, karto suwiryo(DITII) , ADI sumarmo, samin surosantiko..dll..kota kecil tapi banyak tokoh2 besar..mulai tokoh agama dan politik, budaya, sampek yg dikatakan pemberontak..begitulah gaya orang samin..apa adanya ” tutur Hary Beng

Sementara Yuliasih Solossa yang mengaku keturunan Samin turut berbangga dengan postingan tersebut. “Trimakasih postingannya sebagai orang keturunan samin saya sangat bangga dengan tradisi moyang saya….karena dalam kelompok kami hidup rukun saling berdampingan..” ujarnya.

Itulah mantemans khasanah budaya Indonesia yang penuh aneka ragam dan saling memperkaya…

baca juga :

Advertisements

About khsblog

Manusia yang sedang belajar menjadi Ayah bagi 2 buah hatinya. Tinggal di altar suci Sunan Giri dengan makanan khas Nasi Krawu dan camilan Pudak. Tunggangan setia yakni Milestone dan MT-03...ini alternatif personal blog dari www.setia1heri.com I @ setia1heri I kangherisetiawan@gmail.com

Posted on 31 July 2018, in sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Wah …. makasih banyak mas postingannya, dulu wkt masih sekolah sy kadang dengar orang menyebut “wong Samin” tp tdk bgt paham sy kira org samin itu tinggal di sekitar gunung kidul, ternyata d blora ya, tulisan ini sungguh lengkap, jd tahu tentang wong samin scr utuh. Hanya sj yg saya belum jelas apa agama mereka ya, kalau nikah pakai syahadat tp kok beda dg syahadatnya Islam, apakah perkawinn masy samin skrg msh spt itu? Krn kalau sekolah sdh mau

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: