KHSblog.net- “Allah, Dia tak kasat mata, tapi terasa di hati kita.” Berikut ini adalah aliran rasa tulisan Dipta dalam moment beasiswa tahfidz, mabit di villa, dan beberapa moment lain. Assalamualaikum, I’m comeback. Hai, kali ini kita bahas soal perencanaan manusia vs penentuan Allah. Terkadang, kita terlalu fokus merencanakan hal-hal yang mungkin di mata Allah adalah hal yang mudah untuk ditentukan kehendak-Nya.
Saya berpikir bahwa rencana yang telah saya susun dengan baik pasti berjalan mulus dan tanpa halangan. Tapi saya lupa melibatkan Allah didalamnya, dan besoknya rencana itu tidak berjalan mulus. Yang saya bayang-bayangkan dikepala saya sebelum tidur, ternyata tidak semulus itu.
Benar, memang apa-apa itu harus Allah.
Urusan sepele hanya karena saya ingin beli makanan, skincare, ataupun jalan-jalan. Saya bilang ke Allah sehabis Shalat, dzikir, dan doa. “ya Allah, saya ingin jalan-jalan, saya ingin beli ini, beli itu. Tolong mudahkan segalanya ya Allah, tolong lancarkan hari esok ya Allah, tolong datangkan orang-orang dan hal-hal baik hari ini, hari esok, dan seterusnya ya Allah…hamba tau jika rencana yang terbaik adalah rencanamu ya Allah”.
Because Allah plan’s is the best.
Ada beberapa moment, yang enggak pernah saya lupakan. Yaitu moment beasiswa tahfidz, mabit di villa, dan beberapa moment lain. First time saya ikut beasiswa tahfidz dinas pendidikan, perasaan saya seperti es campur, takut ada, sedih ada, bahagia ada, gelisah ada, dan banyak perasaan yang lain.
Berbulan-bulan saya muraja’ah juz 28, 29, 30 itu. Memang awalnya terasa susah, tapi jangan dijadikan beban kata ustadzah Wiwik, selaku koordinator tahfidz di sekolahku. “Hafalan itu seperti booster disaat kita lelah, Dipta”. Itulah sekiranya kata-kata yang tiba-tiba muncul di benak pikiran saya.
H-1 beasiswa, penyambutan dan pemberian motivasi oleh ustadzah Ami. Ibu kepala sekolah kita. Saat doa bersama di mushalla, satu persatu hamba Allah yang sedang berjuang termasuk saya mulai meneteskan air mata, perasaanya campur aduk. “Takut tidak lulus, takut tidak bisa membanggakan orang tua, takut salah banyak saat diuji”. Mungkin itu overthinking yang sedikit menggerogoti raung postive thinking saya.
Tapi pikiran baik datang, membawa sebuah perkataan untuk menenangkan diri saya sendiri.“Engga papa kalo engga lulus, engga papa kalo salah banyak, engga papa kalo takut, toh juga sudah dicoba. Masa mau mundur lagi Dip? Tinggal dikitt lagii, gapapa.. Allah udah liat semua perjuangan dan ikhtiar jalur langit kamu Dip.” Secuil moment juga tiba-tiba muncul mengingatkan perjuangan saya, al-ma’tsurat di motor sebelum ke tempat tes, sholat tahajjud tapi masih ngantuk, sholat dhuha, juga saat berdzikir dan doa selama perjalanan ke tempat tes, setelah al-ma’tsurat.
Saya tau, Allah pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sedang memohon pertolongan kepada-Nya.
Turun dari motor, saya langsung menguatkan zikir dan doa saya. Entah hal-hal baik apa yang akan datang hari ini, tapi saya yakin pasti Allah membantu saya. Saya membuka Al-Qur’an dan terus membaca Firman-firman-Nya yang agung itu. Membaca juga ayat yang saya lupa dan memperbaiki salah harakat/nada.
Saya bertemu teman seperjuangan saya, Aliyah, Aisyah, Syifa, dan teman-teman an-nisa’
saya yang lain. Mereka juga yang membantu menguatkan saya, jikalau saya lelah dalam membaca al-Qur’an.

Pukul 09.00, “ruang 12, sesi 2, 3 orang masuk ya” kakak panitia berbicara lewat mic. Deg, “bismillah…” kaki saya melangkah dengan yakin, menunggu di kursi untuk antrean tes selanjutnya. Saya kembali membuka Al-Qur’an, membaca ayat yang sering lupa/tidak bisa.
1 an-nisa’ dari sekolah lain masuk, saya sehabisnya. Perasaan cemas saya sedikit meningkat, tapi hati kecil saya yakin pada Allah. “Selanjutnya, silakan masuk”, kakak panitia mengantarku masuk. Membuka gagang pintunya, perasaan cemas itu hilang, entah pergi ke mana. Duduk dengan perasaan biasa, dan mulai membaca ayat yang diujikan. “Bismillahirrahmanirrahim…” aku keluar dengan perasaan lega, ujian sudah terlewati.
Alhamdulillah, 3 pertanyaan bisa saya jawab dengan yakin. Semua ini karena Allah, jika niatnya benar. Kemarin, saya kembali meluruskan niat saya. “ini semua karena aku ingin meraih ridho Allah, rahmat dari Allah, dan juga cintanya Allah”.
Jum’at, 20 Februari 2026. “LOLOS” 1 kata itu ada di layar hp ummi saya, terharu, rasa terimakasih itu yang ingin saya ucapkan ke orang-orang baik yang selalu ada, menguatkan, dan memberi sandaran kepada saya.
Termasuk, yang paling selalu siap dan selalu ada untuk saya. Allah.
Dengan izin dan ridhonya, saya lolos. Hari itu, sehabis shalat maghrib saya langsung mencurahkan, menceritakan, dan berterimakasih banyak kepadanya. “terimakasih ya Allah, atas izinmu, hamba lolos. Terimakasih ya Allah, hamba sekarang sepenuhnya percaya dan yakin kepadamu. Berharap kepadamu memang adalah hal yang paling bahagia dan berkah”.

Benar, jika kita berharap lebih ke manusia, kita akan terluka. Sedangkan jika kita berharap ke Allah, itu jauh lebih indah, bahagia, dan berkah.
(Al-Insyirah ayat 8) –“dan hanya kepada Tuhanmu, maka berharaplah”.
Kita hanya perlu meminta kepadanya bukan? jadi apakah masih belum ada waktu lebih hanya untuk dzikir dan berdoa? Apakah waktu luang akan menunggu kita, atau kita yang perlu menyempatkan waktu luang?
Btw, selamat menunaikan ibadah puasa ya guys, jangan sampe ada yang bolong puasanya, terutama buat ar-rijal/laki-laki. Kalau an-nisa’ memang ada jadwal bulanannya, yang nentuin juga langsung dari pusat—Allah, hehe.
Khataman al-qur’an juga, jangan Cuma nge-war takjil doang! Apalagi mendekati 10 hari terakhir Ramadhan nanti, beuhh.. banyak yang prepare buat baju lebaran, opor ayam, dan lain-lain. Sunnah-sunnah Nabi juga dikuatkan ya guys, okeh.. segitu dulu tulisan Pradipta Setyana Syifa. Yaa kalau kalian mau curhat, atau ngobrol yang lain bisa kunjungi sosial media saya yaa, @dipta.xzs / tiktok, entar lupaaa
Kalau ga sibuk, insyallah tulisan berikutnya, ya! Assalamualaikum, para pembacaa, ana mau sibukkin kebaikan duluu! Babayy
Maturnuwun
baca juga :
[display-posts tag=anak]