KHSblog.net – Viral! Orang Tua Tak Terima Anaknya Digundul Gara-Gara Sering Merokok di Pesantren, Salah Siapa?. Media sosial kembali diramaikan dengan video seorang ibu yang mendatangi pihak pesantren karena tidak terima anaknya digundul. Penyebabnya? Sang anak disebut kedapatan sering merokok di lingkungan pesantren.
Video tersebut langsung viral dan memantik beragam komentar netizen. Ada yang membela ketegasan pesantren, ada pula yang memahami perasaan orang tua yang mungkin kaget melihat perubahan drastis pada anaknya.
Nah, kalau menurut panjenengan gimana?
“ Kan sdh perjanjiannya yang di tanda tangani sebelum masuk… Berarti ibu blm baca ya? 😃😃😃semua peraturan pondok sdh tertara apabila melanggar siap menerima sanksinya… Apalagi klo merokok itu pelanggan berat,ibunya jg perlu di pondoin biar tau adab dan etika🤭 ” ujar Sitti Sulaihah salah satu warganet menanggapi video tersebut.
Kronologi Singkat yang Bikin Heboh
Dalam video yang beredar, terlihat seorang ibu berbicara dengan pihak pesantren sambil merekam menggunakan ponsel. Ia menyampaikan keberatan atas sanksi penggundulan yang diterima anaknya.
Dari informasi yang beredar, penggundulan dilakukan sebagai bentuk sanksi karena pelanggaran tata tertib, yakni merokok. Di banyak pesantren, aturan larangan merokok memang bukan hal baru.
Tujuannya jelas:
- Menjaga kesehatan santri
- Mendisiplinkan perilaku
- Membentuk karakter
Namun, ketika aturan bertemu emosi orang tua, jadilah viral. Dan kita tidak tahu siapa yang mesti menanggung kerugian maupun keuntungan. Yang jelas netizen pun pro kontra menanggapi hal tersebut.
Tegas Itu Perlu, Tapi…
Kalau boleh KHS beropini, pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan berbasis disiplin. Bahkan sejak awal biasanya sudah ada tata tertib yang ditandatangani wali santri.
Sanksi seperti digundul umumnya bertujuan memberi efek jera, bukan mempermalukan.
Tapi di sisi lain, komunikasi juga penting. Tidak semua orang tua siap melihat anaknya mendapat sanksi fisik meskipun ringan. Apalagi kalau pemberitahuan tidak tersampaikan dengan baik.
Di sinilah titik krusialnya:
aturan boleh tegas, tapi komunikasi jangan putus.
Jangan Lupa, Masalah Utamanya Adalah Rokok
Terlepas dari polemiknya, inti masalahnya sebenarnya sederhana: merokok di usia remaja.
Merokok bagi santri bukan hanya soal melanggar aturan, tetapi juga menyangkut:
- Risiko kesehatan jangka panjang
- Ketergantungan nikotin
- Pengaruh terhadap teman sebaya
- Citra lembaga pendidikan
Pesantren punya tanggung jawab menjaga lingkungan tetap sehat dan kondusif. Jadi wajar kalau ada penegakan aturan.
Media Sosial: Bikin Cepat Viral, Tapi…
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana cepatnya sebuah peristiwa lokal menjadi konsumsi nasional. Sekali upload, langsung jadi bahan diskusi warganet.
Kadang niat awal hanya menyampaikan keberatan, tapi efeknya bisa melebar ke mana-mana.
Inilah era digital. Semua bisa jadi konten. Semua bisa jadi viral.
Pertanyaannya: apakah semua hal perlu diviralkan?
Pelajaran yang Bisa Diambil
Kasus ini setidaknya memberi beberapa pelajaran:
- Orang tua perlu memahami detail aturan sebelum menitipkan anak ke pesantren.
- Pesantren perlu memastikan komunikasi sanksi tersampaikan dengan baik.
- Anak perlu diedukasi tentang konsekuensi setiap pelanggaran.
- Media sosial bukan selalu solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Penutup ala KHS
Menurut KHS pribadi, disiplin itu penting. Tapi komunikasi juga tak kalah penting. Jangan sampai tujuan mendidik malah berubah jadi polemik berkepanjangan.
Hal serupa sudah pernah KHS alami sendiri dimana anak kena hukuman tersebut. Bahkan tidak hanya sekali namun lebih dari itu. Karena sudah aturan maka KHS hanya bisa pasrah dan menguatkan anak agar konsekuensi atas segala pelanggaran. Terakhir karena memang sudah tidak kerasan untuk mondok maka jalan terakhir adalah pamit undur diri secara tertib dan takzim.
Yang jelas, semoga kejadian ini jadi bahan refleksi bersama. Baik untuk orang tua, lembaga pendidikan, maupun anak-anak kita sendiri.
Bagaimana menurut panjenengan, Sobat KHSblog? Tegas atau terlalu keras? Monggo diskusi santun di kolom komentar 👇
Maturnuwun
baca juga :
[display-posts tag=orang-tua]