Skip to main content

Memaknai Anak Masuk Pesantren, Sedih Sekarang Insyaallah Bahagia Di Masa Datang

KHSblog.net- Memaknai Anak Masuk Pesantren, Sedih Sekarang Insyaallah Bahagia Di Masa Datang. Pertengahan bulan Juli ini adalah masa anak-anak mulai mengenal sekolahnya masing-masing. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan masa anak-anak didik beradaptasi di rumah kedua bernama sekolah.

Mulai jenjang PAUD, SD sampai SMA melaksanakan kegiatan MPLS. Termasuk pula yang memilih pesantren sebagai mitra mendidik anak-anak.

Pesantren dipilih oleh anak sendiri, bukan karena paksaan dari orang tua.

Pesantren yang memang berbeda dengan sistem sekolah yang setiap hari bisa pulang dan bertemu orang tua kembali.

Saat memilih pesantren sebagai tempat berjuang anak-anak menuntut ilmu, belajar mandiri, belajar adab, belajar sosialisasi serta belajar Al-Qur’an maka orang tua harus siap berpisah dalam kurun waktu tertentu.

Tentu saja berpisah yang menimbulkan kesedihan di awal, namun tentunya akan menuai bahagia di masa mendatang.

Nah, berikut ini ada tulisan inspiratif dari ustad Satria Hadi Lubis sebagai penguat para wali santri yang mengantarkan anaknya untuk mondok, semoga bisa menguatkan niat dan terus mendoakan dari jauh selama di pesantren.

SEDIH SEKARANG, INSYA ALLAH BAHAGIA DI MASA DATANG

By. satria hadi lubis

Hari-hari ini banyak orang tua yang akan melepaskan anaknya untuk kembali masuk pesantren atau bahkan pertama kali mengantarkan anaknya masuk pesantren.

Suasana yang mengharukan muncul di mana-mana. Berpisah dengan anak dan akan jarang bertemu dengan anak adalah berat bagi kebanyakan orang tua. Jauh lebih berat dari kesedihan yang dirasakan anaknya. Sebab kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
Hanya bedanya anak lebih ekspresif, bisa menunjukkan dengan tangisannya. Tapi orang tua mampu menahan ekspresi tangisnya.

Orang tua yang menitipkan anaknya ke pesantren bukanlah orang tua yang “membuang” anaknya. Ini pikiran keliru dari orang-orang yang tidak senang dengan pendidikan pesantren. Tidak senang dengan bagaimana Islam mengajarkan secara turun temurun dari zaman ulama salaf sampai sekarang cara mendidik anak menurut Islam.

Justru yang terjadi sebaliknya. Orang tua yang menitipkan anaknya di pesantren adalah orang tua yang bervisi jauh ke depan. Ingin melihat anaknya kelak menjadi pecinta Al Qur’an dan menjadi anak-anak yang sholeh. Menjadi pembela Islam di garda terdepan dan mewariskan pengetahuan Islam kepada generasi selanjutnya.

Orang tua yang menitipkan anaknya di pesantren rela mengorbankan perasaan rindunya kepada anak. Sedih sebenarnya tidak lagi rutin ketemu anak yang dicintainya.

Bukan itu saja, di antara orang tua yang menitipkan anaknya di pesantren juga harus berjibaku mendanai biaya anaknya di pesantren. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Demi untuk melihat anaknya tersenyum kelak BAHAGIA karena menjadi anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Selamat membina diri anak-anakku di pesantren-pesantren di seluruh penjuru negeri. Jemputlah kelak ibu bapakmu di surga dengan mahkota al Qur’an-mu.

Sungguh kami rela bersedih-sedih sekarang untuk kebahagiaanmu kelak. Insya Allah!

Baca juga:

[display post tag = pesantren]

Tinggalkan Balasan