Advertisements

Penjelasan lengkap cacing dalam ikan kaleng dari IPB

Penjelasan lengkap cacing dalam ikan kaleng dari IPB. Beberapa minggu terakhir warga dikejutkan dengan penemuan cacing dalam kaleng ikan. Bahkan pihak BPOM sendiri telah merekomendasikan penarikan 27 produk ikan kaleng baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dikarenakan ikan makerel tersebut bercacing. Nah biar paham apa itu cacing dalam ikan kaleng maka cermati tulisan dari akademisi Institut Pertanian Bogor. Monggo disimak biar paham brosis…

Penjelasan lengkap cacing dalam ikan kaleng

Anisakis adalah cacing (nematode) endoparasit yang bersifat zoonosis (berdampak pada kesehatan manusia). Cacing ini dapat menginfeksi berbagai jenis ikan laut terutama ikan yang beruaya jauh dan memiliki rantai makanan panjang, seperti ikan sarden, salem, tongkol, kembung, layur, cucut, kakap putih, cakalang, dsb. Di antara genus Anisakis ini, yang paling membahayakan adalah A. simplex. Namun A. simplex hanya terdapat di Negara subtropis, dan belum pernah ditemukan di Indonesia, sehingga ikan yang terinfeksi A. simplex umumnya adalah ikan impor. Siklus hidup A. simplex sangat kompleks, umumnya dimulai dari telur (belum berembrio) yang dikeluarkan bersamaan dengan feses mamalia laut, yang selanjutnya menjadi larva stadium 1 (L1) dan berkembang menjadi larva stadium 2 (L2) dan larva 3 (masih dalam telur).

Pada saat stadium L3, telur akan menetas. Apabila termakan oleh inang intermedier 1 (umumnya invertebrate laut seperti crustacea, copepoda, amphipoda, ubur-ubur, dan ikan kecil. Larva selanjutnya akan menembus dinding usus, masuk ke dalam rongga tubuh atau jaringan di sekitamya. Apabila inang intermedier 1 dimakan oleh inang intermedier 2 (ikan), larva juga akan menembus dinding usus dan terkapsulasi (dalam bentuk siste) dalam rongga tubuh atau dalam jaringan di sekitarnya. Jika ikan yang mengandung siste L3 ini dimakan oleh mamalia laut, yang merupakan inang definitifnya, maka siklus hidupnya sempurna. Namun demikian jika ikan tersebut dalam kondisi mentah, kurang matang, diasap, dibekukan, diasinkan atau diasamkan (namun kurang sempurna), dimakan manusia maka manusia menjadi menjadi inang incidental. Larva L3 akan masuk ke saluran pencernaan dan akan mengalami beberapa kali molting dan berkemang menjadi L4 dan menjadi cacing dewasa, yang selanjutnya akan menghasilkan telur (pada mamalia air selanjutnya dikeluarkan bersamaan dg fesesnya)

Cacing A. simplex umumnya terdapat pada usus ikan, namun di Norwegia larva cacing A. simplex dapat memakan organ ikan hering ( Karlsbakk et al, 2000). Pada inang akhir baik yang dewasa maupun larvanya, A simplex berpotensi menyebabkan anisakiasis. Namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa A simplex juga berpotensi untuk menyebabkan kerusakan otak (meningitis), gastrointestinal symptom, digestive disorder, gastric.

Cacing ini akan mati pada proses pemasakan pada temperature ≥ 70 oC, . Oleh karena itu bila cacing ditemukan dalam kondisi masih hidup dalam kemasan kaleng, maka dapat diduga bahwa proses produksi ikan kaleng menggunakan suhu kurang dari 70 oC. Apabila cacing tersebut sudah mati, namun di dalam dagingnya terdapat A simplex, diduga bahwa proses pemasakan dilakukan pada temperature ≥ 70 oC, namun ada dugaan bahwa penanganan ikan pasca penangkapan diduga kurang sempurna, sehingga A. simplex bermigrasi dari usus ke otot ikan. Namun demikian A. simplex yang telah mati pun berpotensi untuk menjadi allergen, bahkan juga berpotensi untuk menghasilkan racun yang bersifat karsinogenik

Isu parasit cacing A simplex pada ikan kaleng telah menyebabkan keresahan masyarakat dan menurunkan minat konsumsi ikan khususnya ikan kaleng. Oleh karenanya perlu dilakukan kerjasama hulu-hilir agar ikan memenuhi standar mutu kemananan pangan. Selain itu pengecekan ikan impor harus diperketat sebelum didistribusikan, serta perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan dampak infeksi A simplex secara bijaksana agar tidak meresahkan. Hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi ketergantungan impor kebutuhan bahan baku industri pengolahan (kaleng, pindang), dan perlu penelitian lanjutan kemungkinan berkembangnya A simplex pada perairan tropis.

Dr.Ir. Etty Riani, MS (Dosen Dept. MSP FPIK IPB)
Bidang Keahlian : Fisiologi Hewan Air, Ekotoksikologi, Ekofisiologi Hewan Air dan Teratologi (Ekotoksikologi)

sumber : Dept. MSP FPIK IPB

***

Postingan tersebut diposting dilaman Facebook Dept.MSP FPIK IPB pada tanggal 01 April 2018. Beragam tanggapan warganet akan postingan yang bernas tersebut.

Bagus Brilianto
untung sy klo makan ikan digoreng sampr gosong. smp benar2 gosong. klo udh gosong gk saya makan ikannya, wong masakan gosong. sehingga sy terhindar dr parasit n ikan gosong. akhirnya makan mie instant aja itupun bukan yg rasa ikan, takut ada cacingnya…🤣🤣🤣

Iis Rusmiyati Najib
Sy pernah py pasien anak2. Pucat, anemi, limfa sama hati membesar. Aku pikir leukumia, mknya aku rujuk ke RS utk periksa lab lanjutan. Ternyata diagnosa akhir, infeksi cacing.

Andhita Triwahyuni
Bukan hanya di Indonesia ikannya ada cacing. Saya pernah dua kali ketemu cacing saat beli ikan fresh di pasar ikan dan supermarket Jepang

Gusri Hendi
salah… cacing itu ada jg di sini… di ikan makarel.. kl di daerah saya nama ikan itu gaben… cuman hny ada pd musim2 tertentu adanya cacing itu di dlm perut makarel… jd mgkn ilmuwan disini blm ketemu.

Musthofa Miqdad Robbani
Tapi saya baca satu artikel penelitian temennya temen saya, cacing anisakis yg umumnya ada di indo (maksudnya memungkinkan menyerang di wilayah di indo, kalau tidak impor) tidak bersifat zoonosis… Mohon penjelasannya, nuhuun

Fahrudin Arrozi
Ikan kaleng itu bukannya udah di presto ya?? Presto itu kan suhu sangat tinggi. Tulang aja lunak, masa cacing gak mati? Penjelasan disitu bakal mati dimasak diatas 70°C. Kalo kita masak sampe mendidih itu kan lebih dari 100°C. So buat apa panik? Makan ajaa. Gua suka sarden kaleng soalnya.

***

WEll, semoga menjadi perhatian bagi siapapun khususnya masyarakat Indonesia yang suka dengan ikan dalam kemasan kaleng.

Maturnuwun

baca juga :

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

 

Advertisements

About khsblog

Manusia yang sedang belajar menjadi Ayah bagi 2 buah hatinya. Tinggal di altar suci Sunan Giri dengan makanan khas Nasi Krawu dan camilan Pudak. Tunggangan setia yakni Milestone dan MT-03...ini alternatif personal blog dari www.setia1heri.com I @ setia1heri I kangherisetiawan@gmail.com

Posted on 3 April 2018, in biarsehat and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. tetep geli aja mau makan liat ada cacingnya, walo dimasak ntar mati…, harusnya regulator bisa kasi solusi menyeluruh, memperbaiki proses , bukan seenaknya bilang, walo pun cacing, tetep ada gizinya…, jadi beli 1 dapet dua.., beli ikan kaleng, dapet gizi dari ikan juga dari cacing di ikan itu…, ngeles yang absurd

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: